Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ubi bakar dan teh panas, menu buka puasa di kampung muslim Walesi
  • Minggu, 20 Mei 2018 — 19:24
  • 793x views

Ubi bakar dan teh panas, menu buka puasa di kampung muslim Walesi

“Di sini kebanyakan Katolik, Kristen juga ada. Tetapi dengan kami (muslim), hidup baik, kami saling mengahargai,” ucap pendiri dan pengurus Masjid Al-Agsho tersebut.
Nauluk Asso (kaos putih celana pendek hitam) bersama serang rekannya dan dua anak yang sedang bermain di halaman masjid, diajak foto bersama di depan masjid Al-Aqsho - David Sobolim/Jubi
David Sobolim
Editor : Yuliana Lantipo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

JUMAT, 18 Mei 2018, DI LEMBAH BALIEM, langit cerah dan angin bertiup kencang. Jam tangan saya menunjukkan pukul 5 sore saat itu, ketika tiga gadis barbalut jilbab mulai mendatangi rumah-rumah warga di Walesi, yang berada di bawah kaki gunung Jayawijaya. Mereka membagi-bagikan nasi bungkus.

Setengah jam kemudian, tepat pukul 17:31 waktu Wamena, suara adzan dari sebuah masjid, tak jauh dari kompleks rumah warga tersebut berkumandang.

Masyarakat asli Wamena di sekitaran Walesi pun berdatangan menuju sumber kumandang adzan tersebut. Ialah Masjid Al-Aqsho, tempat masyarakat asli Wamena di “kampung muslim” itu menjalankan sholat sejak puluhan tahun silam.

Pukul 18:02,  mulai keluar, menuju rumah masing-masing.

Salah satunya adalah Nauluk Asso. Kencangnya “angin kurima” tak membuat pria 64 tahun itu menggiggil. Ia berjalan santai dan tenang meski hanya dibalut celana pendek dan kaos oblong hitam. Sajadah bergaris cokelat putih di pegangnya erat.

Sambil membawa sajadah bergaris cokelat putih, ia melangkah keluar bersama seorang rekannya.

“Mari kita pulang dan buka puasa di honai,” ujar pria yang rambutnya kian menipis dan sudah memutih itu. Ia mengajak seorang rekan sebayanya dan Jubi, yang berkesempatan meliput kegiatan sore tersebut. 

Kami bertiga berjalan kaki menuju rumahnya—honai—yang tidak jauh dari masjid. Sekitar 30 meter.

Kompleks rumah adat—honai—dibedakan antara rumah laki-laki dan perempuan. Kami langsung menuju honai laki-laki. 

Saat memasuki rumah bulat itu, sudah tersedia beberapa bungkus nasi yang didapat dari tiga anak perempuan berjilbab, sore harinya. Di sampingnya terdapat ubi bakar dan teh dalam sebuah teko.

“Mari kita berdoa dan buka puasa,” ucap Asso, sembari mengucapkan doa dalam bahasa Arab.

Meski makanan dan minuman disiapkan mama—istri Nauluk Asso—secara budaya di lembah Baliem, perempuan dan laki-laki harus dibedakan honainya. Hanya kaum pria yang boleh berkunjung ke honai/rumah perempuan.

“Mama dong di rumah bawah,” jelas Asso, menjawab pertanyaan Jubi tentang keluarganya. Ia juga memiliki seorang anak lelaki yang saat ini berdomisili di Jakarta.

Sembari menikmati makanan itu, Nauluk Asso menjelaskan sejarah masuknya ajaran agama Islam di kampungnya tersebut. Pengenalan Islam bagi masyarakat khususnya di Distrik Walesi dimulai tahun 1977.

“Saya orang pertama yang terima Islam di sini, tahun 1977. Waktu itu pas masuk program transmigrasi di Wamena,” klaim pria yang kini menginjak 64 tahun tersebut. 

Selain di Walesi, ajaran Islam yang cepat diterima orang asli setempat adalah di Megapura, distrik Assolokobal, tahun 1960. “Masjid pertama dibangun tahun 1981, itu di Megapura,” kenangnya.

Perjalanan ajaran islam saat itu berjalan agak lamban di wilayah pegunungan Papua. “Banyak yang pindah dari Islam ke Kristen karena dulunya memang menganut agama Kristen,” katanya. 

Kendati demikian,meski perlahan, perkembangan Islam diakui mulai bangkit. “Bisa dilihat dari pembangunan masjid. Dulu masjid orang asli Wamena hanya tiga gedung, kini sudah bertambah dua jadi sudah ada delapan gedung masjid,” katanya.

Menjaga kerukunan

Hidup berdampingan dalam perbedaan keyakinan telah menjadi moto hidup masyarakat di Walesi. Meski daerah ini dikenal sebagai “Kampung Muslim”, tidak sedikit tetangga dan bahkan kerabat keluarga Nauluk Asso yang juga berkeyakinan berbeda.

“Di sini kebanyakan Katolik, Kristen juga ada. Tetapi dengan kami (muslim), hidup baik, kami saling mengahargai,” ucap pendiri dan pengurus Masjid Al-Agsho tersebut.

Soal berkeyakinan, menurut Asso, adalah pilihan masing-masing individu yang akan bertanggungjawab secara individu kepada Tuhannya. Dengan keyakinan tersebut, Asso percaya hidup saling menghargai dan menghormati perbedaan agama akan selalu dijunjung dan dipraktikan dalam hidup bermasyarakat.

Nauluk mengatakan setiap perayaan hari raya keagamaan, semua masyarakat di Walesi yang majemuk itu akan saling menolong dan saling berkunjung. 

“Kita sudah menjalin kerja sama dengan gereja Katolik yang berada di Uwelesi dalam hari-hari besar keagamaan,” ucap Asso. 

Tak terasa, hari pun semakin gelap. Sebuah lampu 18 watt dan bara kayu yang sedang terbakar di tungku api honai itu menerangi honai kami. Suasana semakin hening. Sangat tenang.

“Bapa, terima kasih sudah terima saya. Anak mau permisi pulang,” saya pamit dan bersalaman sembari meninggalkan rumah keluarga Asso. 

Cahaya bintang di langit Wamena malam itu menemani perjalanan pulang saya ke Wamena kota dengan sepeda motor honda, menerjang angin malam nan kencang itu. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Mungkinkah merebut kekuasaan tanpa uang?

Selanjutnya

Dari aksi palang tanah hingga gembok pintu kantor perusahaan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe