Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Merebut kekuasaan di Papua tak bisa hanya dengan intelijensi
  • Senin, 21 Mei 2018 — 21:13
  • 1043x views

Merebut kekuasaan di Papua tak bisa hanya dengan intelijensi

“Indikator pemilih rasional salah satunya, tingkat pendidikan. Di Papua, pemilih menyebar hingga ke pedalaman, dan berasal dari beragam latar belakang. Itu juga mempengaruhi,” kata Hiskia Sapioper via teleponnya kepada Jubi, akhir pekan kemarin.
Pelaksanaan pilkada di Papua – Jubi/Dok
Arjuna Pademme
[email protected]tabloidjubi.com
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Intelijen dan Pilkada (Pendekatan Strategis Menghadapi Dinamika Pemilu). Begitu judul buku yang ditulis Stepi Anriani. Dalam buku yang terdiri dari tujuh BAB dan 225 halaman tersebut penulis menggambarkan strategi memenangkan persaingan pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres), tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar, dengan menggunakan intelijen (intelijensi).

Namun dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Hiskia Sapioper mengatakan, di negara yang demokrasinya sudah berkembang, strategi mengandalkan intelijensi memungkinkan diterapkan, tapi di Papua belum, karena pemilih masih dipengaruhi berbagai faktor.

Intelejensi menurutnya, berhubungan dengan kapasitas atau kecerdasaan melihat dan memetakan peluang perolehan suara di kalangan konstituen (pemilih). Di Papua, pemilih rasional berada di perkotaan. Jika mengandalkan intelinjensi di wilayah perkotaan, tak masalah. Konstituen akan memilih berdasarkan kapasitas, kapabilatas, track record (rekam jejak), dan kompetensi calon. Namun pemilih di kampung-kampung belum pada tahap itu, sehingga perlu strategi lain.

“Indikator pemilih rasional salah satunya, tingkat pendidikan. Di Papua, pemilih menyebar hingga ke pedalaman, dan berasal dari beragam latar belakang. Itu juga mempengaruhi,” kata Hiskia Sapioper via teleponnya kepada Jubi, akhir pekan kemarin.

Selain itu lanjutnya, barometer masyarakat Papua dalam menentukan pilihannya, masih melihat ketokohan, hubungan emosional dan kekerabatan dengan seorang calon.

Untuk itu perlu memilah di mana wilayah yang dapat diterapkan sistem intelijensi, dan mana yang tidak. Cara ini tak akan efektif diterapkan di semua wilayah, karena untuk merebut kekuasaan, orang akan menggunakan berbagai cara. 

Di negara kata Sapioper, mudah memetakan basis calon, dengan melihat programnya. Jika berpihak pada nelayan, asosiasi nelayan pasti memilihnya karena akan memperjuangkan aspirasi mereka.

“Tapi di Papua, tak segampang yang dibicarakan. Tak masalah kalau semua pemilih rasional. Tapi masyarakat di kampung-kampung, ini yang sulit,” ucapnya.

Dalam bukunya, Stepi Anriani mengurai apa itu intelijen dan bagaimana seseorang memanfaatkan intelijen (intelijensinya) memenangkan pilkada dan pemilu, tanpa harus mengeluarkan banyak dana. 

Stepi mengartikan intelijen (intelijensi) adalah informasi akurat yang sudah diverifikasi dan dipertanggung jawabkan. Intelijen didefinisikan dalam tujuh bagian, yaitu sebagai informasi, pengetahuan, produk, kegiatan, proses, organisasi, dan profesi. 

"Semakin kuat intelijen seseorang, semakin sedikit uang yang dikeluarkan," ujar Anriani.

Dalam BAB VI, Anriani mengurai bagaimana melakukan pendekatan intelijen memenangkan pilkada tanpa kecurangan, dengan membaginya dalam enam poin, yakni tidak salah merekrut tim sukses, melihat karakter, strategi, kontra propaganda, penggalangan, dan menghadapi lawan.

BAB VII menjelaskan bagaimana menguatkan kandidat dengan personal branding, leadership dan komunikasi. Personal branding, salah satu upaya dalam marketing politik mengangkat ekstabilitas kandidat. 

Selain itu, leadership (kepemimpinan) dan komunikasi, penting dimiliki seorang calon. Sebaik apa pun tim sukses melakukan pencitraan jika kandidat tidak memiliki leadership, sulit memenangkan persaingan politik. Kepemimpinan merupakan daya tarik yang akan menyemangati, membuat tim militan dan percaya diri. (*)

loading...

Sebelumnya

Akademisi berharap masyarakat Papua menjadi pemilih rasional

Selanjutnya

DPR Papua gelar paripurna LKPJ gubernur

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe