Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pengungsi Rohingya bunuh diri di Manus
  • Kamis, 24 Mei 2018 — 18:12
  • 453x views

Pengungsi Rohingya bunuh diri di Manus

Kepala Kepolisian Provinsi Manus, Komandan David Yapu, membenarkan berita ini. Seorang laki-laki berusia 52 tahun tewas, Selasa kemarin (22/5/2018), setelah dia melompat keluar dari bus sedang berjalan.
Protes harian ke-101 di Pusat Penahanan lepas pantai Australia di Pulau Manus, 9 November 2017. - RNZI/ Supplied
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pulau Manus, Jubi - Seorang pengungsi Rohingya yang ditahan oleh Australia di Pulau Manus, lepas pantai Papua Nugini, telah meninggal dunia. Polisi di pulau itu mengatakan penyebab kematiannya adalah bunuh diri.

Kepala Kepolisian Provinsi Manus, Komandan David Yapu, membenarkan berita ini. Seorang laki-laki berusia 52 tahun tewas, Selasa kemarin (22/5/2018), setelah dia melompat keluar dari bus sedang berjalan.

“Dia sedang mengendarai bus itu bersama-sama dengan para pengungsi lain, dari kamp mereka ke kota untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan berbelanja. Sangat disesalkan bahwa dalam rute perjalanan ini, pengungsi tersebut lompat dari bus dan membunuh dirinya sendiri,” Yapu menerangkan.

“Itu adalah caranya membunuh diri. Seseorang melompat keluar dari bus saat bus itu masih berjalan, itu adalah situasi yang sangat tragis,” katanya.

“Saat itu pengungsi yang lainnya masih berada dalam bus, kita juga menempatkan beberapa personel keamanan di dalam bus. Untuk sekarang, kami masih mengumpulkan pernyataan dari mereka.”

Jenazahnya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Manus di mana polisi menginterogasi para saksi, sambil berjaga-jaga jika para pengungsi lainnya datang dan memulai kekacauan, kata Komandan Polisi itu.

Jurnalis dan pengungsi di Pulau Manus, Behrouz Boochani, mengatakan pengungsi itu menderita epilepsi dan pernah dibawa ke Australia, untuk perawatan medis dua tahun lalu. Sayangnya, ia kembali ke Manus tanpa menerima perawatan apa pun, kata Boochani.

Dalam sebuah pernyataan, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengatakan bahwa mereka “sangat sedih mendengar berita kematian itu,” dan, sekali lagi, meminta Pemerintah Australia untuk segera mengambil tindakan agar bisa mencegah tragedi yang sama terulang lagi.

Perwakilan regional UNHCR yang berbasis di Canberra, Nai Jit Lam, mengatakan “ini kehilangan yang tragis atas satu lagi nyawa yang rentan di dalam pusat penahanan dan pemrosesan lepas pantai Australia”, dan menekankan pentingnya perawatan medis yang tepat. (RNZI)

loading...

Sebelumnya

Kepulauan Solomon bahas masalah Papua

Selanjutnya

Fiji Times dinyatakan tidak bersalah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat