Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pernik Papua
  3. Lestarikan budaya, Devio Basten gunakan koteka saat kuliah
  • Senin, 28 Mei 2018 — 19:31
  • 6470x views

Lestarikan budaya, Devio Basten gunakan koteka saat kuliah

Sikap mengenakan busana adat suku Mee dari wilayah pegunungan tengah, Papua, merupakan hal baru di lingkungan kampus.
: Devio ketika berada dalam ruang kuliah - (Devio For Jubi)
Hengky Yeimo
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Seorang mahasiswa Universitas Cendrawasih, Devio Basten Tekege, 21 tahun, percaya diri menggunakan koteka saat mengikuti perkuliahan Senin, 28 Mei 2018. Sikap dia mengenakan busana adat suku Mee dari wilayah pegunungan tengah, Papua, merupakan hal baru di lingkungan kampus.

Meski begitu mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro Semester VI itu merasa biasa-biasa tidak malu atau merasa canggung.

"Ada seorang dosen yang menawarkan diri untuk berfoto. Tetapi saya menolak,” katanya Devio kepada Jubi, usia kuliah.

Menurut dia, sikap mengenakan  pakaian adat itu murni menghargai budaya, dengan begitu ia menolak  diajak foto bersama oleh seorang pengajar. “Bapa minta maaf saya ke kampus bukan fashion show,” ujar Devio saat menolak diajak foto seorang pengajar kampusnya.

Devio mengaku tak mencari perhatian, itu dibuktikan ia menolak foto untuk dipamerkan di media sosial. Meski ia mengatakan peristiwa yang dialaminya cukup mengundang perhatian dari pihak kampus, teman-teman kuliah dan dosen.

“Ini rencana untuk melestarikan budaya orang Papua. Jadi koteka itu bisa dipakai kapan saja atau di mana saja. Jadi bukan saat acara-acara tertentu, tempat-temapt tertentu atau pada saat ada kegiatan” katanya.

Koteka yang ia pakai itu terasa lebih nyaman, terbukti dia merasa lebih mudah menangkap penjelasan dosen ketimbang saat dia mengenakan pakaian biasa. Ia mengakui sejumlah teman satu kelas masih merasa heran dengan sikap dirinya, meski tak jarang ada yang terinspirasi ingin meniru sikapnya.

“Ada teman satu dari ACEMO juga akan bersedia mengenakan pakaian adanya,” katanya.

Devio berencana tetap memakai koteka atau pakaian adat ke kampus untuk menunjukan indentitas budaya Papua.

Kerabat Devio, Aquino Youw, mendukung sikap yang dilakukan Devio, ia menilai selama ini budaya Papua termarjinalisasi yang dibuktikan dengan busana adat hanya digunakan dalam acara acara tertentu.

“Dan itu hanya dilihat sebagai busana untuk menghibur saja, padahal itu bagian keseharian,” kata Aquino Youw.

Menurut dia, sikap Devio punya motivasi tersendiri bahwa busana untuk melestarikan dan membangun kesadaran kepada sesama orang Papua.(*)

loading...

Sebelumnya

Istilah distrik bukan hanya slogan dalam birokrasi

Selanjutnya

Pemkab Jayapura berangkatkan 48 warga wisata rohani ke Yerusalem

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe