Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Mahasiswa Bandung diskusikan jurnalisme dan pers di Papua
  • Senin, 14 November 2016 — 09:22
  • 12353x views

Mahasiswa Bandung diskusikan jurnalisme dan pers di Papua

"Ini konsekuensi logis yang harus diterima sebab jurnalisme di Papua didominasi oleh talking news. Kepentingan narasumber menjadi dominan dalam pemberitaan. Ditambah dengan upah yang masih jauh dari layak, jurnalisme di Papua sarat dengan aroma suap atau amplop," tambah Mambor.
Ahmad Yunus (tengah) dan Victor Mambor (kanan), dua pembicara dalam diskusi jurnalisme di Papua yang diselenggarakan di Bandung, Sabtu (12/11/2016) - Mateus Tekege
Admin Jubi
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Bandung, Jubi - Puluhan pemuda dan mahasiswa/i dari berbagai Organisasi Kampus dan komunitas di Kota bandung Sabtu (12/11/2016) lalu berdiskusi tentang jurnalisme di Jatinangor, Sumedang. Diskusi ini diprakarsai oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran dan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi (SORAK) Bandung.

Dalam diskusi yang berlangsung di Saung Budaya Sumedang (SABUSU), area UNPAD Jatinangor ini terungkap beberapa persoalan mengenai jurnalisme dan pers di Papua. Mulai dari masalah amplop (suap) kompetensi jurnalis hingga upah layak untuk seorang jurnalis.

"Secara umum, persoalan jurnalisme dan pers di Papua hampir mirip dengan persoalan di kota-kota "pinggiran" Indonesia. Hanya saja, persoalan di Papua jadi tambah rumit karena persoalan sejarah Papua yang masih kontraversi hingga saat ini," kata Victor Mambor, jurnalis senior yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini.

Ia menambahkan, apapun yang terjadi di Papua, tidak bisa dilepaskan dari soal kontraversi itu. Pada akhirnya, jurnalisme dan pers di Papua pun tidak bisa secara terbuka menyampaikan informasi faktual tentang Papua. Informasi yang seharusnya bersifat fakta cenderung menjadi sangat bias kepentingan sehingga fakta sebenarnyapun tidak terungkap.

"Ini konsekuensi logis yang harus diterima sebab jurnalisme di Papua didominasi oleh talking news. Kepentingan narasumber menjadi dominan dalam pemberitaan. Ditambah dengan upah yang masih jauh dari layak, jurnalisme di Papua sarat dengan aroma suap atau amplop," tambah Mambor.

Mengenai perubahan kondisi pers dan jurnalis di Papua sejak Presiden Indonesia Joko Widodo mengumumkan terbukanya akses jurnalis asing di Papua, Mambor mengakui ada perubahan, meski belum signifikan.

"Beberapa jurnalis asing sudah bisa melakukan liputan. Namun beberapa lainnya belum bisa, terutama yang berniat melakukan liputan secara independen," kata Mambor.

Ia menambahkan, walaupun secara umum ada perubahan yang positif pada kebebasan pers di Papua, tapi masih terjadi kekerasan terhadap jurnalis, terutama jurnalis asli Papua dan pemblokiran pada situs berita yang menyuarakan aspirasi rakyat Papua, seperti yang terjadi pada situs berita suarapapua.com.

Pembicara lainnya, Ahmad Yunus, anggota Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung menyebutkan masalah pembiayaan liputan yang sangat mahal di Papua sebagai salah satu persoalan masih belum munculnya informasi faktual, terutama persoalan pendidikan dan kesehatan di wilayah pedalaman Papua.

"Padahal, pemberitaan soal pendidikan dan kesehatan ini yang harus diperbanyak. Selain biayanya mahal untuk melakukan liputan independen, kadang-kadang lokasinya sangat terpencil sehingga hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki," ujar Ahmad Yunus. (*)

Artikel ini ditulis oleh Mateus Tekege, Mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Bandung

loading...

Sebelumnya

Menhub minta tidak ada kompromi pada pelanggaran SOP penerbangan di Papua

Selanjutnya

Politik pembangunan Indonesia di Papua jadi sorotan Konferensi Sydney

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6252x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5831x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 4001x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe