Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pertemuan kelompok ACP, negara-negara Pasifik menuju ke Togo
  • Minggu, 03 Juni 2018 — 19:28
  • 585x views

Pertemuan kelompok ACP, negara-negara Pasifik menuju ke Togo

Mengantongi dua hal penting, kepresidenannya dalam Konferensi Perubahan Iklim COP23, dan keinginannya untuk menunjukkan kepemimpinan regional Pasifik, Fiji terus berupaya untuk memimpin perjuangan Pasifik dalam isu-isu perubahan iklim.
KTT African, Caribbean, and Pacific Group of States (ACP) - EU 2016 di Port Moresby, Papua Nugini. - RNZI/ AFP
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Grant Wyeth

Untuk negara-negara Kepulauan Pasifik, pengelompokan mereka dengan ACP adalah forum yang penting, untuk mencari kepentingan bersama dengan negara-negara kecil dan berkembang lainnya.

Minggu ini menteri-menteri dari 15 negara Kepulauan Pasifik menuju ke Lomé, ibukota Togo, untuk pertemuan Dewan Menteri dengan kelompok negara-negara Afrika, Karibia, dan Pasifik (African, Caribbean, and Pacific Group of States; ACP), dan pertemuan selanjutnya dengan Uni Eropa.

ACP didirikan berdasarkan Perjanjian Georgetown pada 1975 dan terdiri dari 79 negara dari tiga wilayah tersebut (meskipun negara-negara di sebelah utara Afrika dari kawasan Maghreb, dan Mesir, tidak terlibat di dalamnya). Forum ini tetap menjadi organisasi yang penting bagi negara-negara kecil dan berkembang, untuk menemukan kepentingan-kepentingan bersama yang dapat mereka perjuangkan di tingkat internasional.

ACP adalah kelompok multilateral yang sangat penting bagi negara-negara Kepulauan Pasifik karena ini menambahkan pengaruh mereka dalam dunia internasional. Negara-negara kecil cenderung lebih memilih kelompok seperti ACP daripada pengaturan bilateral langsung, karena dengan pengelompokan akan lebih mudah bagi negara-negara Pasifik, untuk menemukan kepentingan bersama mereka dengan negara-negara yang serupa dalam prinsip, atau dengan negara-negara yang menghadapi masalah yang serupa.

Jika isu-isu yang dikhawatirkan bersama dapat diadopsi dan diinternalisasi oleh organisasi itu, maka negara-negara kecil ini dapat mengembangkan kekuatan mereka hingga lebih besar dari ukuran mereka. Oleh karena itu, memusatkan kapasitas mereka untuk negosiasi dalam isu-isu yang spesifik, daripada isu-isu yang luas, lebih terbukti membuahkan hasil bagi mereka.

Untuk negara-negara Kepulauan Pasifik, persoalan utama mereka saat ini adalah perubahan iklim. Sejumlah negara Pasifik telah secara langsung merasakan ancaman eksistensial akibat naiknya permukaan laut, meningkatnya aktivitas cuaca ganas yang dapat menyebabkan kerusakan signifikan berulang kali, dan berkurangnya sumber daya, semua ancaman ini telah mendorong negara-negara Pasifik untuk memperjuangkan perubahan perilaku dari negara-negara lain.

Mengantongi dua hal penting, kepresidenannya dalam Konferensi Perubahan Iklim COP23, dan keinginannya untuk menunjukkan kepemimpinan regional Pasifik, Fiji terus berupaya untuk memimpin perjuangan Pasifik dalam isu-isu perubahan iklim.

Sebelum pertemuan APC, Perdana Menteri Frank Bainimarama telah menyatakan bahwa “dalam negosiasi yang akan datang, Fiji akan mendorong agak perhatian yang jauh lebih besar diberikan pada pembangunan berkelanjutan, ketangguhan, ruang untuk mengakomodasi negara-negara kepulauan kecil yang masih berkembang dan rentan terhadap perubahan iklim, meningkatkan perdagangan regional dan integrasi, serta mendukung agar pendanaan atas proyek pembangunan lebih mudah diakses.” Sudah jelas negara-negara kepulauan Pasifik akan menemukan teman seperjuangan di antara negara-negara Karibia, yang juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Grup ACP awalnya diciptakan dengan tujuan untuk menemukan kepentingan bersama dalam keanggotaannya, agar dapat meningkatkan bobot mereka masing-masing dalam koordinasi kerja samanya dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC), dan sekarang Uni Eropa (UE). Hal ini tetap menjadi fokus utama kelompok itu, dan saat ini pengaturan ini masih berjalan dan diatur oleh Perjanjian Cotonou yang telah ditandatangani oleh semua anggota APC kecuali Kuba.

Perjanjian Cotonou ini mengatur kerja sama dalam bidang perdagangan dan pembangunan, serta kewajiban-kewajiban seperti pemerintahan dan HAM. Namun, perjanjian ini akan berakhir pada 2020 dan hampir semua fokus dari pertemuan ACP saat ini adalah, untuk mengembangkan mandat negosiasi yang telah disetujui oleh ACP untuk periode pasca-Perjanjian Cotonou.

Perjanjian negosiasi ini awalnya menghadapi kesulitan dalam menemukan titik persetujuan dalam menghadapi masalah migrasi. Untuk negara-negara Kepulauan Pasifik yang sangat tidak relevan dengan isu-isu mengenai migrasi ke negara-negara Uni Eropa, kesulitan ini seolah berfungsi untuk menyoroti keganjilan lokasi geografis antara ketiga daerah dalam organisasi ini, di mana kepentingan negara-negara Kepulauan Pasifik dapat tenggelam di bawah isu-isu lainnya antara Uni Eropa dan negara-negara Afrika.

Namun, meskipun ada rintangan ini, manfaat dari keterlibatan Pasifik terus dirasakan, termasuk, dalam dokumen akhir mandat ini menyebutkan sejumlah topik lintas daerah yang menonjol seperti kerentanan dan ketahanan, kelautan, dan perubahan iklim, topik-topik dengan prirotas tinggi dalam agenda blok Pasifik.

Dokumen mandat negosiasi ini juga mengakui bahwa peningkatan kerja sama bidang perdagangan dan investasi, serta kemajuan dan tranfer teknologi dan inovasi, ini merupakah solusi - atau setidaknya dapat membantu - untuk keberlanjutan Negara Berkembang Pulau Kecil (Small Island Developing States; SIDS), dan khususnya negara-negara dalam daftar negara terbelakang (Least Developed Countries; LDCs) PBB, dimana empat di antaranya berada di kawasan Pasifik - Kiribati, Kepulauan Solomon, Tuvalu, dan Vanuatu.

Walaupun ACP mencanangkan solidaritas Selatan-Selatan, ACP tetap saja merupakan organisasi dengan cakupan geografis, kepentingan, dan tingkat kekuatan dan kekuasaan yang berbeda. Terlebih lagi, perkembangan negara-negara besar dan berkembang di Afrika diproyeksikan akan melonjak selama beberapa dekade mendatang dalam hal kekuatan dan kemampuan, perkembangan mereka akan jauh melebihi, dan akan menenggelamkan, kekuatan negara-negara Kepulauan Pasifik.

Bagaimana laju perkembangan yang berbeda ini akan mempengaruhi struktur ACP dan minat mereka dalam mempertahankan forum ACP, ini sendiri adalah kekhawatiran yang terus meningkat. Namun, untuk saat ini, kesempatan bagi negara-negara Kepulauan Pasifik yang kecil untuk mendapatkan kesempatan, agar suara mereka bisa didengarkan dan dipertimbangkan, dan pada saat yang bersamaan memastikan kepentingan mereka masuk dalam agenda internasional, ini adalah hal yang positif.

Forum ACP ini juga memberikan kesempatan bagi negara-negara Pasifik, untuk terlibat dengan negara-negara yang umumnya tidak bisa mereka kontak secara reguler, dengan harapan mereka bisa menemukan lebih banyak negara yang turut bersimpati dengan kepentingan mereka.

Vanuatu, sebelumnya, telah menggunakan KTT ACP-UE ini untuk membangun hubungan diplomatik dengan Bulgaria dan Rumania, dua negara yang menunjukkan minat untuk terus memperluas jangkauan diplomatik mereka. Minat dan kepentingan seperti ini akan menjadi aset yang penting dalam beberapa dekade mendatang. (The Diplomat)

Grant Wyeth adalah seorang analis politik berbasis di Melbourne, Australia.

loading...

Sebelumnya

Anggota parlemen PNG picu debat parlemen

Selanjutnya

Penyakit komplikasi diabetes mata ancam Pasifik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat