Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Memaknai kebahagiaan penduduk Papua dalam angka
  • Kamis, 07 Juni 2018 — 20:06
  • 1833x views

Memaknai kebahagiaan penduduk Papua dalam angka

Mahatma Gandhi menulis: “Kebahagiaan adalah ketika apa yang kamu pikirkan, kamu katakan, dan kamu lakukan berjalan dalam harmoni”.
Ilustrasi, anak-anak sedang tertawa bahagia – Jubi/Pixabay
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: Eka Purwanti

Kebahagiaan memiliki arti yang sangat luas dan kompleks sehingga para ahli pun memiliki pandangan dan definisi yang berbeda mengenai makna kebahagiaan. Dikutip dari www.psychologymania.com, pengertian kebahagiaan menurut Aristoteles (dalam Adler, 2003) menyatakan bahwa happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan orang yang bahagia menurut Aristoteles (dalam Rusydi, 2007) adalah orang yang mempunyai good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money and goodness. Kemudian,  menurut Sumner (dalam Veenhoven, 2006) menggambarkan kebahagiaan sebagai “memiliki sejenis sikap positif terhadap kehidupan, dimana sepenuhnya merupakan bentuk dari kepemilikan komponen kognitif dan afektif. 

Aspek kognitif dari kebahagiaan terdiri dari suatu evaluasi positif terhadap kehidupan, yang diukur baik melalui standar atau harapan, dari segi afektif kebahagiaan terdiri dari apa yang kita sebut secara umum sebagai suatu rasa kesejahteraan (sense of well being), menemukan kekayaan hidup atau menguntungkan atau perasaan puas atau dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Belum ada teori maupun metode pasti yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar kebahagiaan seseorang karena perasaan merupakan sesuatu yang relatif. Tolak ukur maupun standar penilaian akan faktor-faktor penyebab kebahagiaan pun berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun, Badan Pusat Statistik telah melakukan survei untuk dapat mengukur tingkat kebahagiaan penduduk Indonesia berdasarkan serangkaian kegiatan penelitian dan pengembangan instrumen pengukuran tingkat kebahagiaan yang telah dilakukan sejak tahun 2012. 

Pengukuran tingkat kebahagiaan pada tahun 2017 menggunakan tiga dimensi yaitu, Dimensi Kepuasan Hidup, Dimensi Perasaan, dan Dimensi Makna hidup. Metode ini mengalami penyempurnaan dari tahun 2014--saat itu dimensi yang digunakan hanya Dimensi Kepuasan Hidup.

Pada tahun 2017, Indeks Kebahagiaan Provinsi Papua sebesar 67,52. Namun, jika menggunakan metode tahun 2014 (agar dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya), Indeks Kebahagiaan Provinsi Papua pada tahun 2017 sebesar 64,97. Angka ini meningkat sebesar 4 poin dari tahun 2014 yang hanya sebesar 60,97. Dengan peningkatan 4 poin ini, Papua termasuk salah satu dari enam provinsi yang memiliki peningkatan Indeks Kebahagiaan dari tahun 2014 ke 2017. 

Semakin mendekati angka 100, maka menunjukkan kondisi kehidupan penduduk yang semakin bahagia. Jadi, dapat disimpulkan bahwa selama 3 tahun terakhir, penduduk Papua mengalami peningkatan rasa kebahagiaan walaupun nilai indeksnya masih di bawah angka Indeks Kebahagiaan penduduk Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2017 yaitu sebesar 69,51 jika menggunakan metode tahun 2014 dan sebesar 70,69 dengan metode terbaru.

Dari ketiga dimensi penyusun Indeks Kebahagiaan Papua tahun 2017, indeks dimensi makna hidup penduduk Papua menyumbang angka terbesar, yaitu sebesar 69,98 dimana hal ini menggambarkan bahwa penduduk Papua lebih dapat memaknai hidup dengan baik dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Jika dilihat dari daerahnya, penduduk Papua di perkotaan memiliki Indeks Kebahagiaan yang lebih besar yaitu 73,51 sedangkan di daerah perdesaan hanya sebesar 65,29. Jika dilihat dari jenis kelaminnya, penduduk wanita di Papua lebih bahagia dari penduduk laki-laki. Semakin besar pendapatan, semakin banyak anggota rumah tangga, dan semakin tinggi tingkat pendidikan, maka makin tinggi pula Indeks Kebahagiaannya. 

Namun, yang unik di sini adalah, penduduk yang belum kawin atau lajang lebih bahagia dibandingkan yang sudah menikah maupun bercerai. Sedangkan bagi penduduk yang sudah menikah, suami/istri lebih bahagia dibandingkan kepala rumah tangganya. Hal ini dapat disebabkan penduduk yang belum menikah belum terlalu memikirkan banyak beban yang ditanggung dalam hidupnya. Sebaliknya berlaku bagi penduduk yang posisinya sebagai kepala rumah tangga. Tanggung jawab yang diembannya membuat Indeks Kebahagiaannya lebih rendah dari pasangannya.

Jika dihubungkan dengan pembangunan manusianya, peningkatan Indeks kebahagiaan di Papua ini sejalan dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia di Papua yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, dimana dari rentang tahun 2014 hingga tahun 2017 mengalami peningkatan dari 56,75 ke 59,09. Hal ini menandakan kualitas manusia di Papua yang semakin baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini juga tercermin dari rata-rata lama sekolah penduduk di Papua yang meningkat menjadi 6,27 tahun (2017) dari 5,76 tahun (2014). Demikian pula dengan angka harapan hidup yang menunjukkan peningkatan dari 64,84 tahun pada 2014 ke angka 65,14 tahun (2017) yang berarti rata-rata penduduk Papua hidup hingga usia 65-66 tahun. Persentase penduduk miskin di Papua pada tahun 2017 juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2014, yaitu menurun dari angka 27,80 persen menjadi 27,76 persen. Namun kemiskinan di daerah perdesaan masih cukup besar yaitu 36,56 persen sedangkan di daerah perkotaan sebesar 4,55 persen. 

Kebahagiaan penduduk di suatu daerah tidak terlepas dari segala proses pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah setempat. Kepuasan akan terpenuhinya kebutuhan dalam kehidupan tentu sulit tercapai jika tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Pemenuhan kebutuhan dasar diduga akan berdampak pada kepuasan hidup personal (BPS, 2017). Tentu saja hal ini di luar kondisi psikis masing-masing personal. Jadi, kebahagiaan dari warga merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah juga. 

Jika penduduknya bahagia, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis dan damai. Pembangunan yang merata dan perhatian kepada penduduk di daerah pedesaan tentu masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah di Provinsi Papua sebagai salah satu sarana pemenuhan akan kebutuhan dan keinginan, mengingat selisih Indeks Kebahagiaan dan persentase penduduk miskin yang cukup signifikan antara daerah perkotaan dan perdesaan.

Mahatma Gandhi menulis: “Kebahagiaan adalah ketika apa yang kamu pikirkan, kamu katakan, dan kamu lakukan berjalan dalam harmoni.” (*)

Penulis adalah statistisi di BPS Kabupaten Biak Numfor

loading...

Sebelumnya

1 juta anak Papua akan diimunisasi Campak dan Rubela

Selanjutnya

Gua Maria Kampung Koa, Merauke menanti diresmikan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4819x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4218x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3919x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3426x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2880x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe