Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Kematian Tuan Eliezer Awom, duka bangsa dan rakyat West Papua
  • Minggu, 17 Juni 2018 — 20:50
  • 2765x views

Kematian Tuan Eliezer Awom, duka bangsa dan rakyat West Papua

Engkau layak menerima penghargaan sang jenderal bintang Gerilya terbaik milik bangsa dan rakyat West Papua
Almarhum. Tuan Eliezer Awom – Jubi/Ist
Abeth You
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 
 

Jayapura, Jubi - Kematian tuan Eliezer Awom dalam perjalanan dari Bintuni menuju Kaimana , pada Jumat, 15 Juni 2018, meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh rakyat, bangsa dan tanah air West Papua khususnya terhadap United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang turut dilahirkannya.

Almarhum meninggal dunia pada usia 72 tahun, di tengah menjalankan tugas perjuangan Papua merdeka.

Juru bicara ULMWP, Jacob Rumbiak mengatakan, secara resmi ULMWP menyampaikan turut berduka bersama keluarga besar almarhum juga keluarga besar bangsa dan rakyat Papua Barat. Doa pihaknya kiranya Tuhan menghibur dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan almarhum.

“Pada 16 Juni 2018, Jenazah sudah tiba di rumah almarhum di Manokwari dan telah diformalin oleh petugas medis. Sebagian besar anak-anak dan cucu almarhum dari PNG sudah tiba di Jayapura. Dan dua orang anak masih dalam perjalanan dari PNG ke Jayapura, West Papua,” ujar Juru bicara ULMWP, Jacob Rumbiak kepada Jubi melalui wawancaranya, Minggu, (17/6/2018).

Menurut Rumbiak, Awom lahir di kampung Inasi Pulau Numfor, 4 Juli 1948. Pendidikan terakhir almarhum yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP). 29 November 1965 Diklat Brimob Deplat Lido Cigombong Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

“Karier ketentaraan Indonesia dimulai 1965-1971 dan bertugas di Mako Brimob Kelapa 2 Jakarta. Tahun 1971 bertugas pada Resimen 12 Irian Barat (Papua) Sekolah Kejuruan Danton Batalyon M Jayapura,” ucapnya.

Dikatakan, berdasarkan Surat Perintah Kapolda 17 IRJA Nomor Sprint/36/II/1982 beliau ditunjuk sebagai Instruktur Kursus Brimobdak Irja, angkatan ke 3 tahun 1981/83 Pengajar Tembak Jitu. Tahun 1984 almarhum mengundurkan diri dari angkatan bersenjata Indonesia dan bergabung dengan Tentara Pemebebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPN-PN/OPM).

“Karier ketentaraan Papua Merdeka 1984-1988 menjabat sebagai Komandan Peleton Pasukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat /TPN-PB. 1989 beliau ditembak dan ditangkap oleh TNI, dan divonis hukuman Mati (seumur hidup), menjalani tahanan kurungan dalam penjara Republik Indonesia Rumah Tahanan Militer RTM Waena Jayapura selanjutnya dikirim sejauh 3000 mill dari Tanah Air Papua Barat ke Penjara Kelas I Kalisosok Surabaya Jawa Timur Indonesia,” tuturnya.

Tahun 2000 Almarhum dan semua tahanan politik Papua Barat dibebaskan ketika reformasi di Indonesia. Pada tahun 2000-2018 akhir hayat beliau menjabat sebagai Ketua Mantan Tahanan dan Narapida Politik/TAPOL-NAPOL Papua Merdeka.

“Tahun 2000 ketika Kongres Rakyat Papua (KRP) II beliau bersama almarhum John Simon Mambor mewakili Tapol-Napol Papua Merdeka dalam keanggotaan Presidium Dewan Papua (PDP),” katanya.

Lanjutnya, tahun 2011 KRP III melahirkan Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB), ia ditunjuk menjabat Pangalima Angkatan Bersenjata (PANGAB) merangkap Menteri Pertahanan (MENHANKAM) NFRPB hingga akhir hayatnya.

“Pada 27 November - 6 Desember 2014 nama Eliezer Awom satu dari sekian nama-nama besar putera-puteri Papua Barat terbaik meletakkan Saralana Declaration melahirkan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sebuah wadah persatuan nasional bangsa dan rakyat Papua Barat walaupun hanya seumur jagung telah mampu mengangkat kepala dan wajah Papua Barat yang tertunduk selama 50-an tahun yang kini tinggal selangkah memasuki Pintu Gerbang Kemerdekaan Papua Barat,” ungkapnya.

“Tuan Awom, untuk pengabdianmu tanpa mengenal lelah. Engkau layak menerima penghargaan sang jenderal bintang Gerilya terbaik milik bangsa dan rakyat West Papua bersama sekian banyak pahlawan yang telah gugur mendahului kita di medan juang Papua merdeka,” ujarnya.

Tim kerja ULMWP Dalam Negeri, Markus Haluk mengatakan, Minggu, 17 Juni 2018 dua orang yakni adik almarhum dan anak tertua ke Manokwari untuk memutuskan secara bersama tempat pemakaman almarhum apakah di Manokwari atau Jayapura.

“Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa almarhum telah mengabdikan seluruh hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan politik bangsa West Papua. Ia menjadi tokoh panutan dan sentral bagi kita semua. Almarhum merupakan tokoh dan pejuang nasionalis sejati bangsa Papua. Oleh karena mari kita memberikan penghormatan dengan duka nasional Papua selama tiga hari sampai almarhum dimakamkan,” kata Haluk. (*)

loading...

Sebelumnya

71 warga binaan Lapas Abepura terima remisi Idul Fitri

Selanjutnya

17 tahun kasus Wasior, mendesak adanya perwakilan Komnas HAM di Manokwari

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe