Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Obituary : Ben Marjen, dari seorang jurnalis hingga pejabat polisi di PNG
  • Selasa, 19 Juni 2018 — 06:23
  • 4519x views

Obituary : Ben Marjen, dari seorang jurnalis hingga pejabat polisi di PNG

Dengan pengawasan ketat dan dengan nyawa mereka dalam bahaya, mereka diberitahu untuk meninggalkan Papua Barat bersama keluarga mereka membawa apa yang mereka miliki
Prosesi pemakaman Benhard Marjen di Alotau, tempat ia tinggal semasa hidupnya - Scott Waide Blog
Admin Jubi
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Senin, 15 Oktober 2018 | 06:14 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 21:06 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 19:52 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 12:30 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Bernhard Marjen lahir pada tahun 1955 di Sorido, sebuah kampung di pulau Biak. Ayahnya adalah seorang penyiar radio, mereka pindah ke Hollandia (Jayapura) pada 1960-an saat ia memulai pendidikannya dengan saudara perempuannya, Nelly, dalam masa pemerintahan Belanda.

Pada saat itu West Papua sedang bergerak menuju penentuan nasib sendiri. Ketegangan sangat tinggi tetapi anak-anak tidak memahami apa yang sedang terjadi. Mereka ingin tahu mengapa ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan, seperti larangan membawa bendera Bintang Kejora di depan umum. Ini ilegal menurut hukum Indonesia dengan hukuman 15 tahun penjara.

Ayah mereka, Elias Marjen, penyiar radio dan sepupunya, Benedictus Sarwom, pegawai informasi pemerintah Belanda berada di tengah-tengah berbagai hal, menyampaikan informasi penting dan kesadaran tentang kemerdekaan melalui gelombang udara.

Mereka berdua bekerja keras untuk menjaga harapan orang-orang tetap hidup dalam harapan kebebasan yang dijanjikan pemerintah Belanda melawan keinginan Indonesia untuk menguasai West Papua.

Dengan pengawasan ketat dan dengan nyawa mereka dalam bahaya, mereka diberitahu untuk meninggalkan Papua Barat bersama keluarga mereka membawa apa yang mereka miliki.  Bahkan keberangkatan mereka tidak boleh disampaikan kepada siapa pun, bahkan orang tua mereka.

Pada 9 Maret 1963, Elias, istri dan dua anaknya menaiki kapal yang menuju Madang, Papua Nugini (PNG).

Di laut dan saat matahari terbenam, mereka menyadari mereka berada di laut lepas menuju rumah baru. Elias Marjen melihat ke laut dan menjelaskan kepada kedua anaknya: Ini dia, tidak ada jalan kembali.

Menghadapi situasi di depan mereka, Benhard dan saudara kandungnya semakin dekat hingga mereka dewasa.

Pada laman Scott Waide’s blog My Land, My Country, dikisahkan dari Madang keluarga ini diterbangkan ke Port Moresby. Mereka disambut oleh pejabat pemerintah, termasuk Maori Kiki, kemudian Sir Maori Kiki, dan dibawa ke rumah baru mereka di Hohola yang merupakan surbub yang sedang tumbuh saat itu.

Dididik pada masa Belanda, Ben dan saudara perempuannya berbicara bahasa Belanda dan Bahasa Melayu. Namun mereka harus belajar berbicara bahasa Inggris setelah tiba di PNG.

Ben menyelesaikan pendidikannya di PNG dan Perth, Australia.

Dia menikahi wanita bernama Shirley Baptist dari Milne Bay pada tahun 1979, dan kedua keluarga menyelenggarakan resepsi pernikahan di Islander Hotel, sekarang Holiday Inn. Salah satu pertunjukan Black Brothers paling populer adalah pada resepsi pernikahan untuk Ben dan Shirley. Ini sebelum band legenda West Papua ini pergi ke pengasingan.

Menjadi wartawan dan polisi
Ben bekerja pada Kantor Informasi PNG. Ia juga bekerja sebagai jurnalis pada koran Times of PNG dan sebagai editor di Niugini Nius yang kemudian menjadi koran The National. Dia juga bekerja dengan beberapa Pemimpin PNG terkemuka, diantaranya Sir Julius Chan, Paias Wingti, almarhum Sir William Skate dan mantan Gubernur Milne Bay, Titus Philemon.

Pada 1984, ia bergabung dengan kepolisian PNG. Semangatnya untuk perpolisian masyarakat membuatnya mendapatkan gelar Kepala Sersan. Tempat tugas terakhirnya adalah Alotau, tempat di mana dia tinggal.

Dia adalah pemimpin yang lahir untuk keluarga Marjen dan komunitas West Papua di Papua Nugini.

Orang tuanya telah meninggal, termasuk pamannya, Benedictus Sarwom.

Bernhard Daan Alfred Marjen merasa akhir hidupnya sudah dekat, setelah sakit untuk sementara waktu. Dia meninggal di Alotau pada hari Jumat, 1 Juni 2018, dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dikremasi untuk menghargai keinginannya semasa hidup. (*)

loading...

Sebelumnya

In memoriam Elieser Awom : Sniper pertama dari West Papua, pejuang Papua Merdeka

Selanjutnya

Dua pemuda Papua, berjualan koran untuk biaya kuliah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4803x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4187x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3654x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3407x views
Polhukam |— Sabtu, 06 Oktober 2018 WP | 3286x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe