Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Perspektif akademis terkait viralnya goyang patola di FDS 2018
  • Kamis, 21 Juni 2018 — 18:30
  • 1095x views

Perspektif akademis terkait viralnya goyang patola di FDS 2018

Dalam keterangannya, Kandidat Doktor Antropologi Seni Universitas Cenderawasih ini mengatakan, sudah mulai ada pergeseran budaya asli papua yang terpengaruh dengan budaya barat.
Potongan video viral sejumlah anak-anak bergoyang patola di FDS 2018 – Jubi/Ist.
Yance Wenda
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Sentani, Jubi – Dosen Seni Tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, Muhammad Ilham M. Murda menyoroti fenomena goyang patola yang ditampilkan dalam gelaran Festival Danau Sentani yang digelar di Khalkote, tepian Danau Sentani, Kabupaten Jayapura sejak 19 Juni 2018.

Dalam keterangannya, Kandidat Doktor Antropologi Seni Universitas Cenderawasih ini mengatakan, sudah mulai ada pergeseran budaya asli papua yang terpengaruh dengan budaya barat. Salah satunya terlihat dari gerakan yang disajikan dalam goyang patola.

Menurutnya, gerakan goyang patola adalah bentuk kesenian populer yang ada di negara lain dan sudah mulai digemari oleh masyarakat di Papua dari berbagai golongan.

“Kalau melihat secara estetika gerak tarian Patola tersebut, banyak mengandung gerak sensual, erotis atau porno aksi yang bisa merusak moral generasi di Papua dan terkesan tidak mendidik,” ucap Muhamad Ilham M. Murda kepada Jubi, Rabu (20/6/2016).

Ilham menyayangkan banyaknya fenomena dimana kesenian asli dari Papua justru mulai terkontaminasi dengan budaya barat yang justru menghilangkan esensi budaya asli dari Papua. Ia mengingatkan kepada para seniman dan generasi muda untuk tidak melupakan sejarah dan asal muasal budaya asli papua.

“Kita perlu melakukan koreksi lagi terhadap paradigma dan ideologi yang melatar belakangi perilaku ekonomi bangsa kita,” kata Ilham.

 

Sementara itu, Herlinsye Sumisu punya pendapat berbeda terkait fenomena goyang patola. Menurutnya, ada banyak perubahan budaya yang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ini mengingat dari hari ke hari dunia terus mengarah pada kemajuan.

Ia juga mengatakan bahwa tak ada budaya yang benar - benar orisinal, termasuk kebudayaan Papua.

"Ada begitu banyak perubahan dalam kebudayaan dari hari ke hari, kenapa harus kaget dengan perubahan yang terjadi tentang tarian atau goyangan yang di tampilkan di FDS. kita melihat apa yang terjadi trus mengomentari habis- habisan, tetapi apakah kita tidak menyadari bahwa budaya luarpun kita ada tiru selama ini,” ucapnya.

Herlinsye mengatakan, krisis tak hanya terjadi pada pergeseran budaya melainkan bahasa daerah utamanya di kalangan muda mudi saat ini.

"Jangankan goyang adat, angkatan saya ditanya bahasa daerah saja, pasti tidak ada yang tahu . Zaman ini semakin berubah ada perbedaan jaman 70-80an dengan sekarang 2018. Kegagalan, ketidaktahuan mereka sama dengan kita juga," kata perempuan asal Depapre ini.

Ia mengajak masyarakat untuk membenahi hal ini daripada sekadar berdebat dan tak menemukan solusi yang pasti. Menurutnya. menjadi tugas bersama untuk tetap menjaga agar kebudayaan asli Papua tetap terjaga dan menjadi warisan untuk anak cucu kelak.

“Mari kita berembuk bersama untuk menolong generasi penerus  cuma itu solusinya. Kegagalan mereka kegagalan kita juga, harusnya ini menjadi alasan untuk kita sadar dan mengoreksi diri kita, apa saya juga sudah melestarikan budaya saya. Tak perlu mimpi yang besar, yang kecil saja dulu, dimulai dari keluarga," ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Rajin ikut apel, ASN siap terima penghargaan

Selanjutnya

Potensi sagu di Kabupaten Jayapura belum digarap maksimal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe