Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Lerton Mebry yang terus bertahan sebagai pengrajin tifa
  • Rabu, 16 November 2016 — 13:56
  • 1443x views

Lerton Mebry yang terus bertahan sebagai pengrajin tifa

"Sudah lama saya menjadi pengrajin tifa, dari kecil, selain tifa saya juga melukis dan membuat seni ukiran dengan motif khas Port Numbay," ujar Lerton kepada Jubi, Rabu (16/11/2016).
Pengrajin tifa Lerton Mebry menunjukan tifa buatannya –Jubi/Ramah.
Ramah
ramah@tabloidjubi.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Lerton Mebry, warga Yoka mengaku menjadi pengrajin tifa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari, sekaligus meningkatkan ekonomi keluarganya.

Pria ini tertarik menjadi seniman, khususnya membuat salah satu alat seni dengan motif khas Port Numbay, karena ingin membudayakannya. Banyak budaya Papua yang perlu diaplikasikan dalam bentuk seni.

"Sudah lama saya menjadi pengrajin tifa, dari kecil, selain tifa saya juga melukis dan membuat seni ukiran dengan motif khas Port Numbay," ujar Lerton kepada Jubi, Rabu (16/11/2016).

Untuk lama mengerjakan satu tifa, tergantung ukuran dan kerumitan. Sebuah tifa ukuran kecil bisa dikerjakan selama tiga minggu. Sedangkan ukuran besar bisa sebulan. Namun, diakuinya yang paling rumit mambuat motif cenderawasih.

"Harga tifa bisa Rp1 juta, bahkan lebih tergantung kerumitan pengerjaannya,” katanya.

Tifa buatan Lerton belum dipasarkan keluar Kota Jayapura karena terkendala biaya. Ia berharap pengrajin tifa di Kota Jayapura bisa berkembang dan semakin dikenal di masyarakat.

Pengrajin tifa lainnya, Gustaf Modouw mengaku tertarik membuat Tifa karena keinginan memperkenalkan seni Papua, khususnya budaya Kampung Yoka ke masyarakat.

"Tergantung alatnya lengkap, bisa cepat, kalau pakai tangan lama, kalau pakai mesin bisa satu hari selesai, bahan tifa pakai kayu susu, yang paling bagus itu kayu linggua," ujarnya.

Tifa ukuran kecil dijualnya Rp500 ribu yang dikerjakan dalam sehari. Baginya mengukir dalam tifa yang lama, karena sesuai dengan budaya yang ada di suatu kampung. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Dolfince Rumaropen, biayai keluarga dari berjualan minyak rambut kelapa

Selanjutnya

Sambil studi perempuan muda ini berjualan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe