Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Rufina Pekey jual noken karya sendiri
  • Kamis, 28 Juni 2018 — 18:05
  • 996x views

Rufina Pekey jual noken karya sendiri

Beberapa orang sedang melihat-lihat beberapa jenis noken milik Rufina Pekey di Pasar Wamanggu – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SUASANA di Pasar Wamanggu Minggu 24 Juni 2018 tampak ramai.  Orang sibuk berbelanja sejumlah kebutuhan pokok mulai dari sayur-sayuran, ikan dan lain-lain.

Di tempat jualan Rufina Pekey, selain menjual beberapa kebutuhan pokok, ia juga menggantung beberapa jenis noken mulai dari ukuran kecil hingga besar serta gelang tangan maupun gantungan kunci.

Tampak Rufina sibuk juga melayani dua orang yang melihat-lihat noken. Tawar menawan-pun terjadi. Setelah ada kesepakatan harga, akhirnya kedua pembeli mengeluarkan uang untuk membayar.

Jubi langsung menyambanginya. Dengan ramah, Rufina, perempuan Papua itu menerima.

“Saya senang sekali karena hari ini bapak bisa datang untuk kedua kalinya melihat aktivitas saya yang sedang dijalankan,” katanya memulai pembicaraan.

Rufina mengaku, selain beberapa jenis kebutuhan pokok dijual, ia juga menjual  noken maupun gantungan kunci serta gelang tangan yang merupakan hasil karya sendiri.

Dikatakan, khusus untuk noken dan beberapa aksesoris lain yang dijual, adalah hasil karyanya sendiri. “Awalnya saya menganyam dan merajut sendiri. Namun karena permintaan pembeli bertambah banyak, akhirnya melatih dua orang lagi, sehingga dapat membantu,” tuturnya.

Biasanya, jelas dia, ia membawa beberapa bahan dengan alat ke kantor untuk merajut. Itu jika tak ada kesibukan pelayanan kepada masyarakat. “Dari pada duduk tak ada kerja, lebih baik saya merajut noken, dompet serta beberapa aksesoris,” ungkapnya.

Dikatakan, beberapa noken yang dikerjakan, berbahan dasar kulit kayu. Namun untuk di Merauke tak ada, sehingga dirinya harus memesan dari kampung halamannya di Paniai. Kalau untuk benang nilon maupun  rotan, masih bisa didapatkan di sini.

Selain itu, jelas Rufina, juga mendatangkan bulu kasuari dari Negara Papua Nugini untuk dipasang di bagian luar maupun dalam tas.

“Memang butuh waktu dan kesabaran tinggi untuk merajut. Karena tak semua orang bisa menghasilkan noken dengan beberapa jenis model yang sering dicari  masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, jika dirinya telaten merajut, maka dalam hitungan dua hari, bisa mendapatkan satu noken. Tetapi kalau ada kesibukan lain, memakan waktu hingga dua pekan baru ada hasil satu noken.

Dia mengaku, animo orang membeli noken sangat tinggi. Dalam sehari,  bisa 3-4 noken berukuran besar atau kecil laku terjual. Harganya juga bervariasi mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 350.000. Khusus gelang tangan Rp 50.000, termasuk juga  gantungan kunci.

“Dalam satu hari, pendapatan yang saya peroleh dari berjualan noken berkisar antara Rp 600.000 sampai Rp 1.000.000. Ini juga tergantung situasi di  dalam pasar,” tuturnya.

“Banyak orang datang berbelanja dan selalu menyinggahi tempat jualan saya. Karena sejumlah noken saya gantung di depan,” ungkap dia.

Rufina mengaku sangat bangga dapat melestarikan dan membudayakan noken yang diwariskan leluhurnya. Ini adalah aset dan harus terus dikembangkan.

“Sebagai orang  asli Papua, saya bangga karena noken hasil kerja saya, dibeli banyak orang. Bukan uang yang dikejar, tetapi hasil karya dapat dibawa pulang untuk digunakan banyak orang,” ungkapnya.

 Yumina, salah seorang pedagang di Pasar Wamanggu mengaku, banyak orang selalu datang di tempat jualan Rufina Pekey. Mereka lebih banyak membeli noken untuk dibawa pulang.

“Saya bersebelahan tempat jualan dengan Ibu Pekey, sehingga mengetahui orang yang datang berbelanja noken. Setiap hari antara 4-5 orang. Kalau ramai bisa sampai tujuh pembeli mengambil noken,” ungkapnya.(*)

loading...

Sebelumnya

Pemalangan RRI Merauke bukan solusi masalah tanah

Selanjutnya

Mereka yang setia sebagai juru parkir

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe