Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Mereka yang setia sebagai juru parkir
  • Selasa, 03 Juli 2018 — 18:25
  • 714x views

Mereka yang setia sebagai juru parkir

“Kami minta ditertibkan, karena sering memanfaatkan kesempatan menjadi juru parkir dadakan untuk mendapatkan uang setelah mengatur setiap motor yang diparkir ,” tutur dia.
Tampak seorang juru parkir, Erna juga sedang membalikan motor di sekitar toko – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MAMA Lusia Agnes Wayimu bersama dua rekan lain yakni Emiliana serta Erna yang berprofesi sebagai juru parkir, duduk  bersila di salah satu emperan toko. Ketiganya  tampak serius membicarakan sesuatu.

Kala melihat kedatangan Jubi, mereka menghentikan pembicaraan. Jubi memperkenalkan diri sekaligus meminta waktu sebentar melakukan wawancara seputar aktivitas keseharian sebagai juru parkir.

“Terimakasih pak wartawan, karena sudah datang dan mendengar suka duka kehidupan kami disini sebagai juru parkir,” ungkap mama Lusia Agnes Wayimu saat ditemui Jubi, Selasa 3 Juli 2018.

Mama Lusia mengatakan sudah lima tahun ia menjalani profesi sebagai juru parkir. Saban hari, ia mengatur motor yang ingin parkir di depan toko, dilakukannya dengan sabar.

“Memang kami dikontrak oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke. Setiap juru parkir, telah dibagi tempat masing-masing mengatur motor yang diparkir pemilik ketika hendak berbelanja di toko,” ujarnya.

Dia mengaku, mendapat tempat di depan Toko Indah Photo di seputaran Jalan Raya Mandala. Di sekitar itu, terdapat beberapa toko yang berjejer. Namun telah dibagi, sehingga masing-masing mengatur dan mengawasi motor yang diparkir.

“Itu dengan tujuan agar antara sesame juru parkir, tidak saling merampas tempat parkir. Jadi, fokus di tempat masing-masing sesuai surat dari dinas,” katanya.

Saat melaksanakan tugas setiap hari, menurutnya, mereka dibekali baju serta karcis. Karena banyak anak-anak sering memanfaatkan kesempatan mengatur motor yang parkir hanya untuk mendapatkan uang.

Lebih lanjut Mama Lusia menjelaskan, tepat pukul 09.00 WP, ia sudah berada di tempat kerja. Karena toko mulai dibuka. Lalu, siangnya ditutup pukul 13.00 WP.  “Kami juga pulang ke rumah masing-masing. Nanti sore pukul 17.00 kembali lagi hingga 21.00 WP, baru pulang setelah toko tutup,” ujarnya.

Setiap hari karcis selalu dibawa. Karena nanti akan diberikan kepada pemilik motor. Sedangkan pelanggan, tak ditagih, lantaran telah membayar langsung ke pemerintah.

“Karcis kami dapatkan dari Dinas Perhubungan Merauke. Setiap kendaraan roda dua ditagih antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000,” ungkapnya.

Mama Lusia mengaku sangat senang dengan pekerjaan sebagai juru parkir. Karena setiap hari selalu ada uang ditangan, meskipun jumlahnya sedikit. “Ya, paling tidak kami dapat tiap hari antara Rp 30.000-Rp 50.000,” katanya.

Setiap tiga bulan sekali, mereka menyetorkan uang karcis senilai Rp 100.000 ke Dinas Perhubungan Merauke sesuai petunjuk dan arahan dinas.

Hal serupa disampaikan Emilia. “Saya menikmati pekerjaan ini. Karena bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup setiap hari di rumah, meskipun pendapatan yang didapatkan kecil,” ungkap dia.

Emilia mengaku, banyak suka duka dialami ketika menjadi juru parkir. Kadang pemilik kendaraan tak membayar, padahal motornya telah diatur dan dijaga selama bersangkutan belanja di dalam toko.

“Kami harus mengawasi dan menjaga  juga kendaraan dengan baik. Karena kadang ada barang yang digantung sering hilang. Lalu juru parkir dimarahi. Itu sering terjadi,” katanya.

Erna, juru parkir lain menuturkan hal serupa. Menurutnya, saban hari menghabiskan waktu menjaga dan mengatur motor yang diparkir. “Inilah rutinitas kami setiap hari,” katanya.

Dia mengaku, sering ada staf dari Dinas Perhubungan Merauke datang dan memonitor aktivitas mereka. Tidak setiap hari, tetapi dalam sebulan pasti ada petugas kesini.

Dengan pendapatan yang didapatkan setiap hari, menurutnya, dapat digunakan membiayai sekolah anak serta memenuhi kebutuhan hidup di rumah.

“Saya sangat senang dengan pekerjaan ini. Karena ada saja uang yang kami dapat, meskipun sedikit. Tetapi bagi kami  itu adalah hasil keringat sendiri,” tuturnya.

Diharapkan  kepada dinas terkait  melakukan penertiban terhadap anak-anak aibon yang setiap hari berada di emperan toko.

“Kami minta ditertibkan, karena sering memanfaatkan kesempatan menjadi juru parkir dadakan untuk mendapatkan uang setelah mengatur setiap motor yang diparkir ,” tutur dia.

Honor sering terlambat

Baik mama Lusia, Erna maupun Emilia mengaku setiap bulan mereka mendapatkan honor dari pemerintah senilai Rp 1.250.000. Hanya saja, dalam beberapa bulan terakhir, sering terlambat dibayar.

“Kami sendiri tidak tahu alasan keterlambatan pembayaran gaji tiap bulan. Mudah mudahan dengan apa yang kami sampaikan ini, pemerintah mendengar. Karena kadang gaji diterima pertengahan sampai akhir bulan,” ujarnya.

Karena keterlambatan gaji, mereka kerap harus mengutang jika ada kebutuhan  mendesak. Nanti setelah gajian baru uangnya diganti .  (*)

 

loading...

Sebelumnya

Rufina Pekey jual noken karya sendiri

Selanjutnya

Tim rekonsiliasi Maybrat harus persatukan A3

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe