Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Bintang Kejora dikibarkan di depan stand Indonesia dalam MACFest di Honiara
  • Senin, 09 Juli 2018 — 08:48
  • 9631x views

Bintang Kejora dikibarkan di depan stand Indonesia dalam MACFest di Honiara

Namun kelompok aktivis itu berkeras bawah MACFest seharusnya dihadiri juga oleh saudara-saudari Melanesia mereka dari West Papua.
Ben Didiomea, aktivis lokal pendukung gerakan pembebasan Papua menolak official Indonesia yang berupaya menghentikan aksinya bersama reakan-rekannya - IST
Victor Mambor
Editor :
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Isu West Papua menjadi topik hangat pada Melanesia Art and Culture Festival (MACFest) ke-6 yang berlangsung di Honiara, Kepulauan Solomon, pekan ini. Sekelompok aktivis lokal pendukung gerakan pembebasan Papua membentangkan bendera Bintang Kejora di depan stand Indonesia.

Ben Didiomea, aktivis lokal yang membentangkan bendera Bintang Kejora itu mengaku ia ditangkap oleh polisi setempat, usai membentangkan bendera Bintang Kejora di depan stand Indonesia, Sabtu (7/7/2018).

“Meskipun Polisi Kepulauan Solomon menangkap saya hari ini (Sabtu) karena mengibarkan bendera Bintang Kejora di depan stand Indonesia, saya tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan saudara-saudari Melanesia saya di West Papua,” ujar Didiomea.

Didiomea dan pejuang kemerdekaan lainnya dari Pasifik berkumpul di depan stand Indonesia untuk menunjukkan dukungan mereka bagi orang West Papua ketika mereka didekati oleh polisi. Saat mereka diminta untuk pergi dari depan stand Indonesia oleh official Indonesia, mereka menolak dan mengatakan Melanesia bukan Melayu.

Pada akhirnya, polisi setempat mendatangi mereka untuk menyita bendera Bintang Kejora yang mereka bentangkan. Polisi mengatakan bahwa perintah untuk menyita bendera itu datang dari Komisaris Polisi, karena tugas mereka adalah memberikan keamanan di tempat tersebut.

Ketika ditanya mengapa bendera itu diambil dari mereka, polisi menjawab bahwa tindakan mereka sudah menunjukkan implikasi bahwa ada sesuatu yang tidak benar.

Namun kelompok aktivis itu berkeras bawah MACFest seharusnya dihadiri juga oleh saudara-saudari Melanesia mereka dari West Papua.

“Itulah mengapa kami mengerahkan dukungan kami untuk mereka melalui aksi ini, sebagai Melanesia sejati,” jelas Didiomea.

"Mereka membutuhkan dukungan penuh kami, pada saat seperti ini di mana semua orang Melanesia berkumpul untuk berbagi kepercayaan, budaya dan tradisi kami," seorang aktivis lain berkomentar.

Sementara itu, Unit Media Polisi Kepulauan Polisi telah mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu, untuk mengklarifikasi masalah di festival tersebut dan tindakan mereka pada aksi para aktivis.

Pernyataan itu mengatakan bahwa, Pemerintah Kepulauan Solomon telah mengundang Pemerintah Indonesia untuk berpartisipasi dalam MACFest ke-6 yang diadakan di berbagai tempat di Honiara dari 1 - 10 Juli 2018.

“Dengan mandat untuk melindungi hukum dan ketertiban dan memberikan rasa aman di Kepulauan Solomon, kepolisian memberlakukan perintah operasional untuk memberikan keamanan selama Pertemuan Pemimpin MSG, MACFest dan perayaan 40 tahun kemerdekaan,” demikian tertulis dalam pernyataan kepolisian Kepulauan Solomon.

Markus Haluk, badan kerja United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyebut tindakan official Indonesia yang berupaya melarang aktivis setempat menunjukkan dukungan mereka pada perjuangan pembebasan West Papua sebagai tindakan memalukan.

"Kok tamu mau atur tuan rumah? Kalau di Indonesia masuk akal. Tapi di negara lain yang juga berdaulat, itu tindakah yang tidak pantas, memalukan," ujar Haluk. (*)

loading...

Sebelumnya

20 Kabupaten/Kota telah direkap KPU Provinsi Papua, Lukmen sementara unggul 70 persen

Selanjutnya

Pejabat eselon I di Papua Barat terima TPP Rp 50 juta per bulan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe