Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Situasi krisis pengungsi Ambae di Maewo pengaruhi kesehatan mental anak-anak 
  • Sabtu, 14 Juli 2018 — 13:59
  • 546x views

Situasi krisis pengungsi Ambae di Maewo pengaruhi kesehatan mental anak-anak 

Dalam laporan situasi bulan Juni tentang kondisi di penampungan darurat Maewo Selatan yang diperoleh Daily Post minggu ini, tim medis mendesak agar anak-anak dipulangkan ke pulau asal mereka, Pulau Ambae.
Foto yang disediakan dalam laporan tim medis darurat di Maewo dan menunjukkan kata-kata yang ditulis oleh anak-anak Ambae untuk menggambarkan perasaan mereka - DVU/ Dan McGarry
Admin Jubi
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Maewo, Jubi - Dalam laporan situasi bulan Juni tentang kondisi di penampungan darurat Maewo Selatan yang diperoleh Daily Post minggu ini, tim medis mendesak agar anak-anak dipulangkan ke pulau asal mereka, Pulau Ambae.

Satu di antara beberapa rekomendasi dari laporan itu menyarankan pemulangan lebih awal, dalam dua atau tiga minggu ke depan guna meminimalkan risiko penyakit kesehatan mental dan meningkatkan pemulihan mereka dari pengalaman yang traumatis selama mengungsi.

Para ahli medis yang berstasiun di lokasi penampungan menyatakan bahwa anak-anak, secara khusus, menderita akibat pemindahan mereka dari pulau asal.

Dokter Basil Leodoro, yang memimpin tim medis tersebut, menjelaskan kepada Daily Post, “Dari sudut pandang kesehatan mental, dengan mempertimbangkan dukungan psikososial yang tersedia disini, situasinya sangat genting bagi mereka.”

Ketika diminta oleh tim penilai untuk menulis bagaimana kondisi emosional mereka, banyak anak-anak yang menulis bahwa mereka ‘sedih’, ‘menyesal’,  ‘khawatir’, dan mereka merasa ‘kesepian’ dan ‘rindu kampung halaman’. Hanya sebagian kecil dari mereka yang merespons secara positif, menggunakan istilah seperti ‘senang’, ‘gembira’, dan ‘sangat baik’.

Bahkan sejumlah tanggapan positif inipun dinilai muncul untuk menutupi perasaan negatif. Satu kertas menyatakan bahwa anak itu merasa ‘bahagia, baik, sedih’.

Dalam daftar yang mereka susun masing-masing mengenai aspek yang paling positif dari pengalaman di penampungan itu, anak-anak menyebutkan seperti sungai terdekat, buah dan hasil bumi yang segar, dan masyarakat lokal di Maewo sendiri.

Gambaran yang muncul dari laporan itu menunjukkan staf yang harus menghadapi isu kekurangan sumber daya, bersama dengan para pengungsi, namun terus berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik dari situasi yang kritis. 

Pusat penampungan, tambah mereka, berada dalam keadaan buruk. Tapi, perawatan kesehatan masih tersedia meskipun dilaporkan beroperasi hanya dengan sebagian kapasitas sepanjang bulan Juni akibat keterbatasan sumber daya. (Daily Post)

loading...

Sebelumnya

Migrasi dan relokasi paksa akibat perubahan iklim jadi topik sensitif 

Selanjutnya

UU larangan plastik resmi berlaku di Vanuatu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe