Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Operasi militer di Nduga, Pemuda dan mahasiswa: Kami ingin hidup tanpa teror
  • Kamis, 19 Juli 2018 — 21:41
  • 3876x views

Operasi militer di Nduga, Pemuda dan mahasiswa: Kami ingin hidup tanpa teror

"Kami ingin hidup di negeri kami tanpa teror. Kini masyarakat Alguru berduka. Tidak aman, meninggalkan rumah dan tempat tinggalnya," kata Remes Ubruangge dalam orasinya.
Demo mahasiswa dan pemuda Papua di halaman gedung DPR Papua, Kamis (19/7/2018) mendesak penarikan pasukan keamanan dari Kabupaten Nduga - Jubi/Arjuna Pademme
Arjuna Pademme
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Mahasiswa dan pemuda Papua yang tergabung dalam solidaritas ratapan kemanusiaan Alguru di Kabupaten Nduga melakukan demo damai di halaman gedung DPR Papua, Kamis (19/7/2018), mendesak penarikan pasukan keamanan Polri dan TNI dari kabupaten itu.

Koordinator aksi, Remes Ubruangge mengatakan, selain meminta segera menarik anggota Polri dan TNI dari Nduga, pihaknya juga meminta pemerintah segera bertanggung jawab terhadap pemulihan kondisi Keamanan warga sipil di wilayah itu.

"Kami ingin hidup di negeri kami tanpa teror. Kini masyarakat Alguru berduka. Tidak aman, meninggalkan rumah dan tempat tinggalnya," kata Remes Ubruangge dalam orasinya.

Dalam aksi itu, mahasiswa dan pemuda menyampaikan beberapa pernyataan sikap di antaranya, mendesak Presiden Jokowi menghentikan operasi militer di Nduga, mendesak Presiden mencopot, Kapolri, Kapolda, Pangdam dan Panglima TNI karena telah melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil di Nduga.
Mendesak presiden membuka akses pekerja HAM independen ke Nduga untuk mendapat fakta, membuka akses bantuan kemanusiaan di Nduga, serta mendesak pemerintah Australia, Inggris, Belanda, dan negara lainnya menghentikan bantuan militer kepada Polri dan TNI.

Ketua DPR Papua, Yunus Wonda yang menerima massa bersama anggota DPR Papua, Ruben Magai, Emus Gwijangge, Gerson Soma, Laurenzus Kadepa, Nason Uti, Elvis Tabuni, Yohanis Ronsumbre mengatakan, sejak peristiwa di Nduga pihaknya sudah menyurati berbagai pihak agar menarik semua pasukan di wilayah itu. 

DPR Papua menurutnya, akan terus mendesak pihak terkait hingga kehidupan masyarakat Nduga kembali normal. 

"Kami sudah melakukan apa yang harus kami lakukan. Trauma lama tak boleh terjadi lagi. Kami merasakan apa yang kalian rasakan, karena kami juga anak asli Papua," kata Wonda.

Ia mengatakan, ini bukan hanya tanggung jawab anggota DPR Papua dari daerah pemilihan Nduga, namun semua anggota parlemen Papua. 

Aksi demo damai itu disaksikan wakil ketua Komnas HAM RI, Sandra Moniaga, anggota Komnas HAM RI, Munafrizal Manan dan kepala kantor Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey. (*) 

loading...

Sebelumnya

Perda tak efektif akan direvisi

Selanjutnya

Komnas HAM RI: Sistem harus dibenahi agar pembunuhan dan kekerasan tak terus terjadi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe