Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. HUT ke-8 KNPB: Kami rasa maju, lebih berani, terus bersatu
  • Minggu, 20 November 2016 — 09:48
  • 2808x views

HUT ke-8 KNPB: Kami rasa maju, lebih berani, terus bersatu

Menurut Adriana, generasi baru ini memanfaatkan agenda demokrasi dengan damai, mereka mengerti demokrasi dan hak kebebasan berpendapat, berbagai protes terbukti tidak dilakukan secara ‘ánarkis’.
KNPB merayakan HUT ke-8 di Taman Ekspo Waena, Jayapura. Viktor Yeimo, Filep Karma, dan jajaran pimpinan KNPB dan wakil mahasiswa tampil di depan menerima potongan kue ulang tahun – Jubi/Zely Ariane
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Ajakan untuk memelihara perlawanan damai dan meningkatkan persatuan dikalangan rakyat Papua mendominasi pesan-pesan politik dalam peringatan hari lahir Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang ke-8 tahun, Sabtu (19/11) di Taman Ekspo, Waena  yang berlangsung dari siang hingga malam hari.

Puluhan laki-laki tampak sibuk memindahkan batu-batu panas untuk Barapen, sementara sekelompok perempuan paruh baya tampak sibuk mencuci puluhan ekor ayam dan sayur mayurnya. 

“Tiga ekor babi sudah siap dari rencananya tujuh ekor. Tadi malam babi-babi yang dibawa dari Sentani ini sempat tertahan di sana karena polisi menghambat kami turun ke Ekspo. Tapi setelah berdialog sekitar satu jam, baru bisa turun dan sampai disini,” ujar Saugas Goo, panitia perayaan HUT KNPB ke-8 itu kepada Jubi, Sabtu (19/11/2016) disela-sela persiapan Barapen.

“Saya rasa hamil,” kata Marike Mambrasar (46) yang tampak sangat bersemangat mengurus segala sesuatu di areal Barapen. “Saya rasa di jiwa saya hamil dan Tuhan berkati kami orang Papua dan orang pendatang juga, yang bagi saya itu tetangga,” kata dia membuka pembicaraan terkait pikiran-pikirannya di hari ulang tahun organisasi yang paling sering berhadapan dengan aparat kepolisian tersebut.

“Kami mulai berusaha dari orang tua kami sampai turun ke cucu dan cece. Jadi kami sekarang merasa dan melihat ada kemajuan. Kan dulu terlalu terancam dalam ketakutan, tapi bagi saya buat apa kita takut, ini biasa saja, Hidup itu bermacam-macam, ada kematian, kesakitan, musibah kita hadapi saja. Tapi sekarang sa rasa hamil, banyak kemajuan yang kita rasakan,” ujar Marike sambil tak habis-habisnya tersenyum.

“Rasa hamil’ adalah ungkapan Marike menyatakan rasa senang karena kemajuan yang dicapai organisasinya serta kegiatan pada sore itu. ”Kami rasa maju, lebih berlawan, lebih berani,” kata dia.

Kobabe Wanimbo, Ketua Diplomasi Pusat KNPB, juga mengungkapkan apresiasinya atas kemajuan organisasi itu ditengah berbagai ancaman dan hambatan.

“Sejak 8 tahun berdiri sampai sekarang kesadaran rakyat makin meningkat. Apa yang kawan-kawan kerjakan selama 8 tahun ini tidak sia-sia. Sekarang justru inisiatif rakyat sendiri yang mendominasi kegiatan kami. KNPB rasa bangga sudah memiliki pendukung dan struktur yang semakin banyak. Ke depan, beberapa kabupaten baru yang belum ada KNPB akan segera ada,” ujarnya.

Sejauh ini struktur KNPB tersebar di Jayapura, Sentani, Timika, Wamena, Nabire, Yahukimo, Yalimo, Manokwari, Biak, Paniai, Sorong, Fak Fak, Kaimana, Merauke, Boven Digul, Asmat, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Tolikara, Nduga, Pegubin, Puncak Jaya, Dogiyai, Maybrat, dan Serui.

KNPB dan aparat keamanan

Marike adalah salah seorang anggota KNPB Port Numbay yang telah cukup banyak berhadapan dengan aparat keamanan, baik bernegosiasi untuk kelangsungan aksi-aksi damai KNPB maupun dibawa ke kantor polisi. “Saya punya nama ini, sudah banyak dicatat,” kata dia sambil tertawa.

“Sekarang kita lakukan kegiatan, bawa dengan doa, agar tetangga kami aparat itu juga bisa dengar. Ada yang bilang mereka musuh, memang iya tapi, dimata Tuhan itu bukan musuh. Mereka adalah tetangga, dan mereka jaga keamanan, jaga kami,” ujar Marike sambil menekankan dirinya akan terus melangkah dan maju.

Demikian pula Kobabe yang mengaku sudah tak lagi menghitung berapa kali ditangkap polisi. “Selama 8 tahun sudah banyak kali kena tangkap. Tapi saya rasa itu justru  mendewasakan kita melawan kolonial Indonesia. Jadi kita rasa makin bangkit dari takut dan melawan,” kata Kobabe.

Dia melanjutkan, kalau dulu trauma lebih mendominasi perasaan masyarakat, tetapi kini karena perlawanan, keberanian menjadi meningkat. “Dulu rasa trauma atas kekerasan negara terhadap kami, sekarang karena perlawanan jadi tampak hilang takutnya. Negara mau tangkap kita itu biasa, kami bangga saja,” ujar dia.

KNPB yang didominiasi oleh orang-orang muda ini, didirikan 19 November 2008 ditengah eksodus para mahasiswa/i Papua dari Jawa, Bali dan Sulawesi dan bergabung dengan berbagai aktivis mahasiswa/i lainnya di Papua.

Menurut media KNPB News edisi Juni-Agustus 2016 yang dikeluarkan oleh organisasi ini, aktivitas publik pertama mereka adalah peluncuran “Papua Zona Darurat” di makam Theys H Eluay. Sejak saat itu mereka menjadi organisasi yang menjadi sasaran penangkapan. Puluhan anggotanya telah tewas oleh peluru tajam, maupun karena penculikan dan penyiksaan. 

Baca HUT KNPB dinodai penangkapan 106 anggota KNPB Sorong Raya

“Saya rasa ancaman itu akan selalu ada, di negara manapun itu pasti ada ancaman bagi yang melawan, itu konsekuensinya. Tapi tidak perlu takut, karena generasi muda yang baru sedang terus belajar dan bangkit menolak penindasan,” ujar Kobabe yang menjadi bagian dalam pembentukan KNPB sejak 8 tahun lalu.

“Pesan saya generasi muda yang sedang tumbuh sekarang ini bagaimana mendorong proses yang sudah kita mulai ini dan mengakhirinya. Mereka lah yang akan memegang bangsa ini ke depan,” kata Kobabe.

Pada kesempatan sore itu, KNPB juga sekaligus merayakan keluarnya seorang anggota mereka, Jufri Wandikbo, yang ditahan sejak 2012 dan beberapa hari lalu dibebaskan dari lapas Abepura. Nama Jufri termasuk di dalam daftar Papuan Behinds Bar (Orang-orang Papua dibalik jeruji) yang mendata dan mengampanyekan tahanan dan narapidana politik di Papua.

Lebih bersatu dan makin sadar

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo dan jajarannya serta Filep Karma dan beberapa perwakilan organisasi yang tergabung dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Acara sore hari itu dibuka oleh doa, sedikit pesan-pesan dari pimpinan organisasi, dan ditutup dengan penyerahan piala kejuaraan KNPB Cup II dan musik-musik hiburan bernuansa perlawanan.

Menurut Filep Karma dalam pesannya, KNPB tidak bisa dibilang ilegal, karena dalam sejarahnya organisasi serupa telah lebih dulu terbentuk bernama Komite Nasional Papua (KNPB) yang didirikan tahun 1961.

“Itu dibentuk oleh bapak-bapak bangsa kita yang progresif, mereka tidak ingin Belanda menunda-nunda kemerdekaan bangsa Papua, sehingga mereka tampil dan membuat sebuah Komite Nasional Papua. Yang hadir sejak 2008 ini adalah pembaharuannya” ujarnya pada kesempatan itu.

Menurut dia, jika ada pihak-pihak yang mengatakan KNPB harus dibubarkan, maka hal tersebut tidak masuk akal.

“Saya pernah baca ada pihak keamanan yang mengatakan KNPB harus dibubarkan, dan seterusnya. Saya jadi tertawa, kamu orang yang baru datang... KNP (dan KNPB) itu milik rakyat Papua telah lebih dulu ada dan lahir di Tanah Papua.”

Kapolda Papua, Paulus Waterpaw, selama ini selalu menegaskan organisasi ini dianggap melawan pemerintah, sehingga Maklumat Kapolda Papua 1 Juli 2016 khusus menyebutkan organisasi ini diantara beberapa organisasi lainnya sebagai sasaran pelarangan.

Adriana Elizabeth, dari Pusat Penelitian Politik LIPI, di dalam banyak responsnya kepada Jubi terkait situasi gerakan sosial dan politik Papua memandangnya berbeda. Dia menawarkan pendekatan yang dialogis terhadap organisasi seperti KNPB.

“Gerakan perlawanan rakyat Papua yang menuntut diadakannya referendum untuk merdeka kian kuat dan efektif, dan dinamikanya makin maju tiga tahu terakhir ini,” ujarnya pada pertengahan Oktober lalu di acara seminar peluncuran Ringkasan Papua Road Map jilid II.

Baca juga Dialog Jakarta-Papua Kalah Cepat Oleh Ujung Tombak Melanesia

Menurut Adriana, generasi baru ini memanfaatkan agenda demokrasi dengan damai, mereka mengerti demokrasi dan hak kebebasan berpendapat, berbagai protes terbukti tidak dilakukan secara ‘ánarkis’.

Hal itu juga tampak dalam pernyataan Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo, yang menekankan bahwa KNPB adalah generasi yang mendengarkan sejarah.

“KNPB adalah generasi yang mendengarkan sejarah. Kami cukup yakin dan percaya terhadap perjuangan pembebasan bangsa Papua bahwa kami akan merdeka. Tapi yakin dan percaya itu tidak cukup. Papua akan merdeka ketika rakyat Papua sadar, bersatu dan lawan melakukan aksi-aksi politik damai di dalam dan luar negeri,” ujar Yeimo.

Baca juga Buka ruang diskusi ilmiah untuk kaji status hukum dan politik West Papua

Bagi Yeimo, landasan perjuangan KNPB selalu diungkap dengan jelas yaitu hak penentuan nasib sendiri melalui referendum. “Landasan perjuangan kita didukung, direstui oleh hukum internasional maupun PBB, dan itu butuh komitmen perjuangan. Hasil perjuangan di jalan-jalan, pengorbanan kawan-kawan yang ditangkap membuat simpati dan dukungan dari luar negeri. Sekarang tujuh negara Pasifik, tahun depan 20 dari berbagai negara. Itu kemenangan rakyat Papua,” tegasnya.

Senada dengan itu Karma juga mengajak generasi muda untuk ikut terlibat dalam perjuangan. “Jangan cuma duduk berpikir saja. Aksi. Bergabung dalam perjuangan. Ada rakyat papua yang menuntut dia punya tanah dirampas untuk kelapa sawit, gabung disitu berjuang,” kata dia.

Filep Karma juga menekankan, perjuangan damai dilakukan dengan melawan sistem, bukan kebencian terhadap orang per orang. “Kita melawan sistim, kita berjuang dengan damai dan tidak menyerah. Banyak yang mendukung kita. Termasuk teman-teman di Indonesia, apalagi setelah tahu sejarah kita. Mereka bilang, bapak terus berjuang kami dukung,” kata dia.

Acara perayaan HUT tersebut berlangsung khidmat. Dengan tema “’Menuju Keanggotaan MSG’ ratusan peserta yang hadir tampak antusias di dalam harapannya menuju bulan Desember nanti saat putusan keanggotaan ULMWP ditentukan di KTT Pemimpin MSG di Port Vila, Vanuatu.

Menurut Yeimo, KTT akan dilangsungkan 16-20 Desember, dan apabila keanggotaan penuh ULMWP di MSG terwujud maka menjadi hadiah natal terbesar bagi seluruh rakyat Papua.

Perayaan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 8 malam. Aparat keamanan sempat meminta panitia mengakhiri acara pada pukul 6 sore. Tetapi setelah bernegosiasi, acara dapat dilanjutkan dan berakhir dengan aman.

“KNPB dalam ulang tahun yang ke-8 ini mengucapkan mohon maaf setinggi-tingginya kepada rakyat Papua kalau dalam aktivitas perjuangannya, mungkin kami menyakiti, berbuat hal-hal yang tidak sepantasnya di depan rakyat Papua atas nama Komite Nasional Papua Barat. Untuk itu saya haturkan mohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Yeimo di penutup pidatonya.(*)

loading...

Sebelumnya

Kapolres Sorong sepakat dengan wartawan tidak siarkan berita penangkapan aktifis KNPB

Selanjutnya

Tiga persoalan utama pendidikan dasar di Papua, apa saja?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe