TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Hubertus Saket, OAP penjual bumbu dapur di pasar Mopah
  • Rabu, 25 Juli 2018 — 03:49
  • 799x views

Hubertus Saket, OAP penjual bumbu dapur di pasar Mopah

. “Saya berusaha semaksimal mungkin agar dapat menyisahkan sedikit pendapatan dari berjualan di pasar untuk kebutuhan sekolah anak,” katanya.
Penjual bumbu dapur di Pasar Mopah, Hubertus Saket – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
[email protected]
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MENYEBUT nama Hubertus Saket, tak asing lagi bagi para pedagang di Pasar Mopah-Merauke. Dari ratusan pedagang yang umumnya kaum ibu-ibu, ada sosok  Orang Asli Papua (OAP) laki-laki yang rutin mencari nafkah tiap hari di pasar.

Hubertus lebih memilih berjualan bumbu dapur mulai dari daun bawang, kunyit, sere, jahe serta sejumlah kebutuhan dapur lain. Karena baginya, lebih cepat dibeli. Bahkan, ada beberapa diantaranya ditanam sendiri.

Profesi sebagai penjual bumbu dapur, telah dijalani kurang lebih empat tahun. Meskipun pendapatan yang didapatkan tak menentu, namun bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup di rumah, termasuk menyekolahkan anak-anak.

Saat ditemui Koran Jubi Selasa 24 Juli 2018, Hubertus menuturkan, ia lebih memilih berjualan bumbu dapur. Karena lebih cepat dibeli. Selain itu, karena ada beberapa bumbu dapur ditanam sendiri. Sehingga tidak harus mengeluarkan modal membeli lagi. 

Dikatakan, aktivitas berjualan dari pukul 15.00 WP sampai 21.00 WP. “Memang hanya pasar sore. Sehingga berbagai kebutuhan dapur, dapat disiapkan dari pagi hingga siang. Lalu sore bisa dibuka dan dijual kepada pembeli,” katanya.

“Saya senang menjalani pekerjaan ini. Karena setiap hari pasti memegang uang, meskipun tidak banyak. Tetapi  dapat memenuhi kebutuhan di rumah, termasuk biaya sekolah anak,” ujarnya.

Dia menuturkan, anak pertamanya sedang melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Jayapura. Sedangkan dua lain, masih di bangku sekolah dasar. “Saya berusaha semaksimal mungkin agar dapat menyisahkan sedikit pendapatan dari berjualan di pasar untuk kebutuhan sekolah anak,” katanya.

Ditanya pendapatan  tetap yang diperoleh setiap hari, Hubertus mengaku, tak menentu. “Ya, kalau datang banyak pembeli, ada pemasukan lumayan. Tetapi kalau sepi,pendapatan-pun minim,” katanya.

Hubertus mengatakan, jumlah penjual OAP di Pasar Mopah maupun di Wamanggu sangat banyak. Hanya saja, banyak yang tak mendapatkan tempat representatif.

“Coba bapa wartawan perhatian di Pasar Wamanggu, banyak mama-mama Papua harus berjualan di pinggir jalan, entah pagi maupun sore hari. Mereka tak diberikan tempat yang baik dengan pedagang lain,” ujarnya.

“Saya kira ini menjadi suatu catatan penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke untuk memberi perhatian kepada mama-mama Papua,” pintanya.

Dengan melihat jumlah mama-mama Papua berjualan semakin banyak, lanjut dia, sebaiknya pemerintah mulai memikirkan dari sekarang dibangun pasar tradisional.

“Akan lebih tepat jika pemerintah membangun pasar tradisional. Sehingga dapat menampung semua Mama Papua yang berjualan umbi-umbian, pisang, sayur dan beberapa kebutuhan pokok lain,” katanya.

Lalu, menurut dia, lokasi pasar yang disiapkan juga tak boleh jauh dari pemukiman penduduk. Sehingga tak menyulitkan mama-mama Papua berjualan maupun pembeli yang berbelanja.

“Memang saya pernah mendengar informasi kalau akan dibangun pasar tradisional. Hanya saja, sampai sekarang tak kunjung direalisasikan. Padahal, sangat dibutuhkan mama-mama Papua,” ujarnya.

Secara umum, katanya, banyak mama-mama Papua menyandarkan hidup dari berjualan sejumlah kebutuhan pokok. Olehnya, perlu perhatian pemerintah dengan membangun pasar tradisional.

“Kalau itu direalisasikan, tentunya akan memberikan banyak manfaat bagi mama-mama Papua. Dimana, hasil alam yang dipanen, dapat dijual ke tempat itu,” katanya.

Hal serupa disampaikan Rufina Pekay. “Kalau saya sendiri ada tempat jualan di dalam Pasar Wamanggu. Hanya saja, banyak mama-mama Papua belum mendapatkan tempat,” tuturnya.

Pekay mendukung jika perlu adanya pasar tradisional bagi mama-mama Papua. “Memang sempat kami bicarakan juga agar ada pasar khusus mama Papua. Sehingga mereka lebih leluasa berjualan,” katanya.

Bagi dia, dengan adanya pasar tradisional, memberikan kenyamanan bagi  mereka berjualan. Apalagi tempat juga disiapkan baik. “Saya yakin mama-mama Papua akan membawa semua  potensi yang dimiliki untuk dijual,” ujarnya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Moses Kaibu juga menyoroti pemerintah yang tak memperhatikan dengan baik tempat jualan Mama-Mama Papua.

“Berulang kali saya bersuara agar penataan tempat jualan di Pasar Wamangggu diatur kembali. Namun, tak digubris pemerintah sampai sekarang,” tegasnya.

Padahal, lanjut dia, banyak mama  Papua masih berjualan di pinggir badan jalan dengan beralaskan kardus maupun karung. (*)

loading...
Loading...

Sebelumnya

Tiga pasar di Jayawijaya siap dibangun

Selanjutnya

KONI Papua menjadwalkan TC PON awal Agustus

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe