Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. “Malu-malu kucing”, calon OAP untuk Presdir Freeport akhirnya tumbang
  • Minggu, 20 November 2016 — 14:07
  • 2959x views

“Malu-malu kucing”, calon OAP untuk Presdir Freeport akhirnya tumbang

Nyaris semua nama yang diusulkan tidak muncul ke publik. Pengajuan nama-nama ini lebih tepat disebut “malu-malu kucing” jika tak ingin disebut bersifat rahasia.
Lokasi pengelolaan konsentrat PTFI - Dok. Jubi
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Keinginan Orang Asli Papua (OAP) untuk memiliki presiden direktur (Presdir) PT. Freeport Indonesia (PTFI) pertama OAP akhirnya gagal. Perusahaan tambang emas terbesar ini lebih memilih seorang mantan jenderal angkatan udara untuk posisi yang ditinggalkan Maroef Sjamsoeddin.

Chappy Hakim, seorang jenderal bintang empat yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara tinggal menunggu persetujuan pemilik saham untuk menempati posisi yang diinginkan oleh OAP itu. Meski kepastian posisi ini belum resmi, namun surat Interoffice Memorandum dari President and Chief Executive Officer Freeport McMoran, Richard C. Adkerson yang bocor, yang ditujukan kepada PTFI, Sabtu (19/11/2016 sangat jelas mengumumkan akan ditunjuknya Chappy Hakim sebagai Presdir PTFI.  Demikian juga konfirmasi dari Vice President (VP) Corporate Communications PTFI Riza Pratama kepada Jubi, Minggu (20/11/2016), menegaskan penunjukan Chappy hanya menunggu persetujuan para pemegang saham perusahaan yang berpusat di Arizona, AS ini.

“Malu-malu kucing”

Sejak mantan wakil kepala Badan Intelijen Nasional ini mengundurkan diri dari posisi Presidir bulan Januari lalu karena alasan pribadi, bursa calon Presdir PTFI menjadi pembicaraan utama di kalangan OAP. Berbagai alasan dikemukakan terkait keinginan OAP menjadi Presdir PTFI dan berbagai tim suksesi dibuat untuk memuluskan langkah OAP menjadi Presdir PTFI.

Misalnya, pekerja PTFI dari Tujuh Suku utama di kawasan PTFI membentuk Tim Pemberdayaan Tujuh Suku. Yulianus Nawipa, anggota tim ini mengatakan, pihaknya sudah siapkan calon Presdir Freeport karena ia menilai pekerja salah satu suku dari tujuh suku ini layak menempati posisi Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia.

“Kami sudah merancang sistem untuk kepentingan negara, kepentingan perusahan dan kepentingan pemerintahan Papua dan masyarakat Papua umumnya, serta kepentngn pemilik PT. Freeport,” ucapnya  pasti dalam satu wawancara dengan Jubi, tanpa menyebutkan nama calon dari Tujuh Suku.

Tak hanya pekerja di PTFI yang mengejar posisi presdir, Gubernur Papua pun berkeinginan sama. Bahkan Gubernur Lukas Enembe, di hadapan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan yang saat itu dijabat oleh Luhut Panjaitan, mengaku telah mengirimkan dua nama kepada Presiden Indonesia sebagai calon presdir.

“Kami sudah kirim dua nama OAP kepada pemerintah pusat,” kata Gubernur Enembe.

Sama dengan kelompok pemberdayaan tujuh suku, Gubernur Enembe pun tidak menyebutkan siapa dua orang yang diusulkannya itu.

Nyaris semua nama yang diusulkan tidak muncul ke publik. Pengajuan nama-nama ini lebih tepat disebut “malu-malu kucing” jika tak ingin disebut bersifat rahasia.

Satu-satunya putra asli Papua yang secara terang-terangan diajukan sebagai Presdir PTFI adalah Frans Pigome. Beberapa komunitas di Papua bahkan memfasilitasi berbagai bentuk dukungan pada Frans Pigome yang dianggap sebagai orang muda asli Papua yang pantas dan layak menduduki posisi tersebut, salah satunya adalah Kelompok organisasi kepemudaan nasional Cipayung yang terdari dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI),  Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Perhimpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMMII). Kelompok pemuda ini bahkan mendeklarasikan dukungan untuk Pigome.

Namun keinginan ini dianggap terlalu dini oleh Senior Advisor PTFI, Michael Manufandu. Mantan duta besar Indonesia untuk Kolombia ini mengatakan keinginan tersebut sah-sah saja namun harus dilihat lagi soal Sumber Daya Manusia (SDM) Papua, apakah cukup pantas untuk duduk dalam jabatan tersebut atau belum?

“Saya pribadi melihat SDM kita belum siap, namun itu belum final karena ada kebijakan dari pemerintah untuk jabatan tersebut,” katanya.

Ia menekankan, penentuan dalam satu perusahaan selalu dilakukan oleh  pemegang saham. Meskipun ada suara-suara yang mengatakan orang Papua adalah pemilik tanah yang bisa disebut sebagai saham, tetapi teknologi untuk mengambil tanah tersebut memerlukan biaya besar yang dikeluarkan oleh pemegang saham.

PTFI menurut Manufandu adalan sebuah perusahaan yang sangat modern dan tidak ada di dunia lain.

“Harus memiliki seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan manajerial tinggi, wawasan yang luas dan kemampuan untuk menggerakan resources yang ada,” kata Manufandu. (*)

loading...

Sebelumnya

Penunjukan Chappy Hakim sebagai Presdir PTFI tunggu persetujuan pemegang saham

Selanjutnya

Wagub : Orang Indonesia yang kerja di Freeport stop bikin aneh-aneh

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe