Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. ‘Kebun manusia’, wajah rasis peradaban manusia yang hampir terlupakan
  • Minggu, 20 November 2016 — 19:19
  • 1405x views

‘Kebun manusia’, wajah rasis peradaban manusia yang hampir terlupakan

Kebun manusia pernah sangat peopuler di penghujung abad 19 hingga awal abad 20. Pada awalnya dianggap sebagai tontonan, namun kegiatan tersebut sebetulnya berlandaskan pada “ilmu pengetahuan” yang salah dan rasis, dan membantu menjustifikasi kolonialisme dan hirarki diantara kelompok-kelompok suku
Sepanjang abad 19 hingga 1950-an orang-orang Afrika dan pribumi Amerika, dipertontonkan di “kebun manusia”. Foto berikut dari Brussel, Belgia di tahun 1958 - popularresistance.org
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Pameran poster dan foto-foto dari yang disebut ‘kebun manusia’ memperlihatkan betapa dahulu manusia pernah dipertontonkan untuk pertunjukan di beberapa masa yang belum terlalu lama.

Gambar-gambar yang menunjukkan orang-orang kulit berwarna dipertontonkan itu menjadi bagian acara pameran Kebun Manusia: Mempertontonkan Orang-orang yang sedang berlangsung di Liverpool, Inggris, seperti dilansir the Independent, Minggu (20/11/2016).

Kebun manusia pernah sangat peopuler di penghujung abad 19 hingga awal abad 20. Pada awalnya dianggap sebagai tontonan, namun kegiatan tersebut sebetulnya berlandaskan pada “ilmu pengetahuan” yang salah dan rasis, dan membantu menjustifikasi kolonialisme dan hirarki diantara kelompok-kelompok suku, demikian penjelasn Charles Forsdick, Profesor bahasa Perancis dan unsur pemimpin di Kebudayaan Penerjemahan di Universitas Liverpool.

Fenomena itu dapat dilacak kembali ke masa era pra sejarah (kuno) ketika orang-orang yang ditundukkan lalu dipertontonkan dalam parade oleh pihak-pihak yang menang, demikian ujar Forsdick.

Keberlanjutannya berakan pada periode Renaissance, ketika kontak pertama dan paling signifikan terjadi antara kebudayaan orang-orang Eropa dan non-Eropa.

“Itu terjadi sebagai bagian dari tradisi keingintahuan manusia terkait orang-orang yang berbeda dari dirinya, suatu dorongan yang kemudian digantikan oleh rasisme dengan berbagai bentuk ketakutan dan kebenciannya,” ujar Forsdick.

Seiring sentimen anti kolonial dan pertumbuhan perfilman di periiode antara Perang Dunia Pertama dan Kedua, popularitas Kebun Manusia perlahan menurun. Namun, masih terus digunakan dalam pameran-pameran hingga akhir 1950-an.

“Semua ini menjadi bukti bagaimana sebagian kelompok manusia dapat memperlakukan kelompok manusia lainnya lebih rendah ketimbang diri merek,” lanjutnya, “Anda kan tidak dilahirkan sebagai rasis, tetapi dibentuk menjadi demikian,” tegas dia. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Jeremy Corbyn serukan demiliterisasi perbatasan Rusia dan Eropa Timur

Selanjutnya

Perempuan ini beraksi sendiri, tolak jaringan pipa minyak North Dakota

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe