Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Perempuan ini beraksi sendiri, tolak jaringan pipa minyak North Dakota
  • Minggu, 20 November 2016 — 19:37
  • 1058x views

Perempuan ini beraksi sendiri, tolak jaringan pipa minyak North Dakota

Menurutnya, aksi bisu dengan memegang poster yang dilakukan itu juga bertujuan membangun kesadaran sesama generasi Indian di kampus terkait persoalan yang dialami kaumnya di North Dakota.
Cheynell Begay mahasiswi suku Navajo, Arizona, dari Scottsdale Community College (SCC), melakukan aksi seorang diri menolak jaringan pipa minyak Dakota Access di depan kampusnya – Jubi/Julian Howay
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Arizona, Jubi -  Tak mau ketinggalan dari aksi ribuan komunitas masyarakat suku Standing Rock Sioux di North Dakota, Cheynell Begay, seorang perempuan muda Indian ini rela berjemur di bawah terik matahari selama berjam-jam hanya untuk memprotes proyek pembangunan jaringan pipa minyak di Negara bagian North Dakota, Amerika Serikat.

Aksi itu dia dilakukannya seorang diri di Kampus Scottsdale Community College (SCC), Arizona, tempat dia belajar sehari-hari.

Dalam aksinya, Begay yang berasal dari suku Navajo di Arizona ini mengenakan pakaian tradisional dan berdiri memegang sebuah poster yang kedua sisinya bertuliskan pesan protes. Salah satu sisi dari poster bergambar bendera AS terbalik yang bertuliskan “Air itu suci, hentikan jaringan pipa minyak, air adalah hidup”. Sisi lain poster juga bergambar bendera Negara Bagian Arizona dan bertuliskan “Saya dukung Standing Rock, Hentikan Jaringan Pipa Minyak Dakota Access, Air itu suci”.

Ketika ditemui, Begay menjelaskan bahwa aksinya merupakan wujud solidaritas bagi sesaama komunitas Indian dari suku Standing Rock Sioux di North Dakota yang kini terancam akibat proyek jaringan pipa minyak Dakota Acces.

“Saya melakukan ini karena peduli pada mereka. Saya tidak ingin mereka menderita karena air dan tanah mereka tercermar minyak,” ujar dia. Menurutnya, aksi bisu dengan memegang poster yang dilakukan itu juga bertujuan membangun kesadaran sesama generasi Indian di kampus terkait persoalan yang dialami kaumnya di North Dakota.

Begay mengaku tidak merasa malu dan takut untuk berdiri berjam-jam sejak pagi guna melakukan aksi protes ini seorang diri. Lantaran dilakukan di area terbuka di kampus, aksi ini cukup menarik perhatian sejumlah mahasiswa yang melintas. Beberapa orang datang kemudian berdiri membaca tulisan poster yang dipegangnya lalu berfoto bersama sebagai tanda dukungan moril.

Saat dimintai tanggapannya, Manuel Pino, guru besar sosiologi pada program American Indian Studies menjelaskan, perjuangan masyarakat Indian Standing Rock Sioux di North Dakota merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi hidup mereka. “Secara turun temurun nenek moyang kami menganggap air adalah kehidupan. Karena itu air dianggap sakral,” ujarnya.

Ia mengatakan semua pihak yang peduli pada persoalan ini dapat memberi dukungan moril dan tekanan agar proyek Dakota Access dihentikan.

Proyek saluran pipa minyak bernilai US$3,7 miliar (sekitar Rp.38 triliun) yang dikerjakan perusahaan bernama Energy Transport Partners ini akan membentang sejauh 1.879 kilometer. Menghubungkan empat Negara bagian: Iowa, Ilinois, North dan South Dakota.

Sejak dimulai, proyek ini terus mendapat penolakan, tidak hanya dari komunitas Indian, tapi juga para simpatisan dari seluruh dunia. Namun pihak Energy Transport selaku pelaksana proyek yang didukung Pemerintah AS tetap bersikukuh bahwa penyaluran minyak lewat pipa akan lebih aman dibanding diangkut menggunakan kendaraan atau kereta api. Mereka juga beralasan, proyek ini akan memberi keuntungan ekonomi berupa penyediaan lapangan kerja bagi banyak orang, termasuk komunitas Indian di sekitar lokasi.

Bagi para penentang dan aktivis lingkungan, penyaluran minyak mentah yang mencapai 570.000 barel per hari ini bakal membahayakan sumber air dari sungai setempat.

Sementara komunitas Indian dari suku Standing Rock Sioux yang mendiami wilayah North Dakota, meyakini bahwa proyek saluran pipa minyak ini tidak hanya akan mencemari sumber air mereka, tapi juga akan merusak tempat-tempat sakral mereka. (Julian Howay)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

‘Kebun manusia’, wajah rasis peradaban manusia yang hampir terlupakan

Selanjutnya

Protes Standing Rock: bentrokan dengan polisi soal pipa Dakota Access

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe