Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ajakan menjaga hutan dari Nimbokrang
  • Selasa, 07 Agustus 2018 — 06:35
  • 452x views

Ajakan menjaga hutan dari Nimbokrang

Atas jasanya melindungi hutan, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup menganugerahkan Kalpataru kepada Alex Waisimon tahun 2017. Waisimon kini menjaga kampung wisata Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua.
Pengunjung menuju lokasi hutan lindung di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang – Jubi/Hengky Yeimo
Hengky Yeimo
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Senin, 15 Oktober 2018 | 06:14 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 21:06 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 19:52 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

DENGAN stelan celana pendek dan kaos oblong seorang pria paruh baya muncul dari balik hutan. Jalannya tegap dan bersemangat. Ia berkeringat sehingga kaosnya tampak basah.

Sambil berjabat tangan dengan setiap tamu yang datang, ia mengelap peluh di tubuh dan wajahnya. Siapa sangka dia adalah penerima kalpataru? Namanya Alex Waisimon.

Atas jasanya melindungi hutan, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup menganugerahkan Kalpataru kepada Alex Waisimon tahun 2017.

Waisimon kini menjaga kampung wisata Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua.

Sambil menunjukkan kolam, rawa, penginapan, pohon-pohon dan kawasan hutan lindung seluas 150 hektare, ia mengajak masyarakat adat dan pemuda-pemudi di daerah ini untuk menjaga hutan dan semua ekosistemnya.

“Kalau kita tidak menebang pohon dan membunuh cenderawasih, kita bisa hidup dan mendapatkan uang,” katanya kepada Jubi di Nimbokrang, Jumat siang, 3 Agustus 2018.

Menurut dia hutan adalah salah satu kekayaan alam di Tanah Papua, khususnya Kabupaten Jayapura dan Nimbokrang. Jika hutan hilang, pohon sagu dibabat, maka kekayaan alam Papua ini perlahan punah dan hanya tinggal cerita.

Ia mengatakan banyak oknum yang hanya menginginkan kekayaan alamnya, tetapi hutannya dibabat habis-habisan.

“Hutan di sini dulu itu pohon, kayu besi itu besar-besar dan tinggi-tinggi, tapi perusahaan-perusahaan babat habis. Kayu-kayu dorang (mereka) ambil. Jadi, tempat ini tidak seperti dulu lagi,” ujarnya.

Alex menyadari bahwa menebang pohon atau membabat hutan akan menjadikan burung-burung mati. Sebab alam yang menyediakan makanan dan penghidupan bagi mereka habis dibabat.

“Kalau pohon ditebang, terus burung-burung ini mau kemana? Mereka mau cari makan dan bikin sarang dimana? Jika pohon ditebang, tidak ada hutan lindung maka burung-burung dan kasuari, mambruk, ayam hutan, dan hewan liar lainnya tidak akan berada di sini. Mereka akan lari dari hutan yang dirusak itu,” katanya.

Ia mencontohkan, dirinya sejak tiga tahun lalu mengelola kawasan hutan lindung menjadi Kampung Wisata Pemantauan Burung Isyo Hills di Kampung Rhepang Muaif, yang menjadi rumah bagi sembilan spesies cenderawasih.

“Saya memberikan contoh bagaimana saya menata ini. Ada ruang kelas, kamar untuk nginap, sekolah alam, perpustakaan, dan homestay,” ujarnya.

“Tempat ini juga akan dilengkapi taman-tamannya. Saya akan membuatnya indah. Saya tetap bekerja melindungi hutan. Sebab saya mau tunjukkan bahwa Papua juga bisa sama seperti di Bali,” lanjutnya.

Bapak kelahiran tahun 1961 di Kampung Yenggu Akwa, Nimbokrang ini mencontohkan upaya-upaya pendahulu-pendahulu di Bali, yang menjaga hutan dan menatanya menjadi objek wisata.

Bagi Alex, salah satu objek wisata andalan di Papua adalah hutan dengan segala kekayaannya. Jika hutan-hutan ini dijaga dan ditata baik, maka akan menjadi objek wisata menarik.

“Di Bali 32 tahun yang lalu, orang Bali kondisinya, seperti Papua sekarang. Namun mereka menata baik dan mereka yang merintis usaha itu. Mereka telah tiada namun sekarang generasi penerusnya yang mengisi (melanjutkan),” kata Alex yang puluhan tahun menetap di Pulau Dewata ini.

Sepulang dari Bali beliau menginspirasi orang-orang di kampungnya. Ia melarang mereka untuk tidak menebang hutan dan menjual kayu-kayu. Awalnya ia mendapat tantangan. Ajakan melarang tebang pohon bahkan menjadikannya dicap orang gila.

“Saya juga ingin menunjukkan hal itu kepada generasi saya,” kata pria, yang kini mengelola dan menjaga Kampung Wisata Rhepang Muaif seluas 150 hektare ini.

Informasi yang dihimpun Jubi tentang profil Kabupaten Jayapura menyebutkan luas kawasan hutan lindung 1.353.406.92 hektare, dengan rincian, cagar alam 15.006,02 hektare, suaka margasatwa 69.774,13 hektare, hutan lindung 498.469,20 hektare, hutan produksi 145.917, 70 hektare, hutan produksi konversi 304.553,40 hektare, hutan produksi terbatas 278.477,90 hektare, areal penggunaan lain 31.209, 95 hektare dan danau/perairan 8.938,62 hektare.

Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Namblong, Matius Saw,a mengatakan oknum-oknum penebang pohon di kawasan hutan diduga dibekingi parat. Mereka bahkan dibekali mesin pemotong kayu.

“Mereka dikasih chain saw untuk menebang kayu dan hasilnya mereka yang tanggung. Kita yang tua mau larang bagaimana  kalau di belakang tangan besi?” kata Sawa.

Ia mengatakan semua jenis burung bersarang di atas pohon. Mereka bertelur dan berkembang di hutan.

“Jika hutan habis, mereka tebang, tidak terdengar lagi suara kasuari, mambruk, kumkum,  kakatua,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Asa menghidupkan eks Expo Waena

Selanjutnya

Pengayom anak-anak terlantar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4815x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4206x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3818x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3420x views
Polhukam |— Sabtu, 06 Oktober 2018 WP | 3295x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe