Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Pengayom anak-anak terlantar
  • Selasa, 07 Agustus 2018 — 07:06
  • 379x views

Pengayom anak-anak terlantar

Yayasan Pelangi Kasih Nabire yang dikelola dan dibiayai sebuah keluarga menampung anak-anak terlantar Papua di Nabire, sebagian besar yatim dan yatim piatu. Mereka diasramakan dan disekolahkan.
 Susan Tipagau (kiri), Akia Holombau (kanan), dan seorang murid TK Anugerah Nabire  – Jubi/Titus Ruban
Titus Ruban
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

YAYASAN Pelangi Kasih Nabire adalah lembaga yang mengayomi anak-anak terlantar yang sebagian besar yatim dan yatim piatu.

Yayasan yang berdiri 1996 ini tidak hanya mengurus Taman Kanak-Kanak (TK) Kristen Anugerah, tapi juga menangani kebutuhan sehari-hari anak, mulai dari mereka bangun hingga tidur malam, termasuk makan, minum, dan keperluan sekolah.

Anak-anak yang ditampung berasal dari keluarga tidak mampu. Ada yang yatim piatu, ada yang tidak terurus dengan baik karena bapaknya memiliki banyak istri.

Susan Tipagau, siswa kelas 1 SMK Negeri I Nabire, kepada Jubi, Jumat, 3 Agustus 2018, mengatakan rutinitasnya di asrama dilakukan sejak pagi. Bangun pukul 5 pagi langsung melaksanakan doa bersama teman-temannya.

Kemudian ia bersama teman-temannya yang sudah besar membantu mencuci piring dan menyapu halaman. Setelah itu ia mempersiapkan diri dan berangkat ke sekolah.

Pulangi sekolah Tipagau makan siang dan tidur siang.

Bangun pukul 16.00 WIT, ia membantu apa yang bisa dikerjakan atau belajar, kemudian mandi dan makan. Malamnya dia harus belajar. Begitulah ritunitasnya di asrama hampir tiap hari.

Susan mengatakan ia masuk dan menetap di asrama sejak masih SMP, karena ingin melanjutkan sekolah. Karena sudah tidak memiliki bapak, maka asramalah harapannya untuk hidup lebih baik.

Ibunya menetap di Timika. Meski mempunyai keluarga di Nabire, dia memilih tinggal di asrama.

“Ada keluarga di sini, tapi saya tidak biasa dengan dorang … sedangkan di sini (yang mengelola) kami sudah anggap orang tua kandung, mereka sangat baik, nasihati kami, urus makan minum, sekolah, dan kami anggap nasihat itu sangat berharga buat kami, makanya saya senang tinggal di sini,” ujarnya.

Jamina Holombau, murid TK Kristen Anugerah, yang juga tinggal di asrama menyampaikan sangat senang dan mau tinggal di asrama untuk bersekolah.

“Karena tidak punya orang tua, saya sudah anggap Bapak-Mama di sini adalah bapak dan mama kandung saya, Bapak-Mama saya di Sugapa, saya mau sekolah jadi tinggal di asrama ini saja, Bapak-Ibu di sini baik, sayang sekali sama kami,” katanya.

Walaupun yayasan ini hanya memiliki sebuah sekolah, yaitu TK Kristen Anugerah, namun yayasan menampung juga anak-anak yang ingin sekolah namun tidak memiliki keluarga. Saat ini lebih dari 20 anak yang ditampung di asrama yang berdampingan dengan rumah keluarga pemilik yayasan.

Kepala TK Kristen Anugerah Nabire, Marlyn Sembiring, mengatakan dalam mempersiapkan anak-anak masuk sekolah dasar, taman kanak-kanak yang dipimpinnya sudah lumayan bagus.

Hal itu ia yakini karena ada kepala SD yang menyampaikan bahwa tamatan TK Anugerah tidak kalah bersaing dengan murid dari TK lainnya.

“Itu informasi yang kami dapat, bukan semata karena kami, tapi karena kegigihan anak untuk belajar, juga anak tidak terlalu banyak sehingga untuk mengontrol mereka tidak sulit,” ujarnya.

Menurut Sembiring, kesulitan mengelola TK tersebut karena kurangnya pembiayaan, sebab yang dilayani adalah anak-anak yang tidak mampu.

“Ini karena yayasan dan sekolah tidak memiliki donatur dan hanya satu keluarga yang mengurusnya,” katanya.

Merlyn berharap ke depan ada donatur yang ingin membantu dan memberikan berkatnya dalam membantu yayasan keluarganya. Sebab, kata dia, masih banyak kebutuhan, seperti bangunan dan lainnya.

“Apalagi kami belum memiliki pagar yang melindungi, sebab sekolah berada di tengah kompleks perumahan sehingga anak-anak dari luar sering masuk bermain di dalam, juga keamanannya agak rawan,” ujarnya.

Ketua Yayasan Pelangi Kasih, Kurius B. Duwiri, mengatakan,ibunya almarhum Costantina Wanaha mendirikan yayasan tersebut dilatarbelakangi pelayanan holistik. Pelayanan tidak hanya pakaian dan makanan bergizi, tapi juga upaya mengajarkan cara hidup sehat dan berbusana yang baik melalui pendidikan.

“Sehingga kita mencoba memutus kebiasaan lama, bukan kebiasaan yang salah, tetapi latar belakang budaya kehidupan di Papua yang beragam,” ujarnya.

Ia menjelaskan yayasan mengadopsi model yang pernah dilakukan pada zaman Belanda, anak-anak dikumpulkan dari berbagai daerah, diasramakan, kemudian dididik dan dibentuk untuk menciptakan paradigma baru generasi baru yang akan memimpin di masa mendatang.

“Kita jangan membiarkan mereka tumbuh begitu saja, tetapi sangat berharap ke depan ada pemimpin yang baru dari generasi saat ini yang mempunyai integritas yang tinggi, maka kita mulai dari sekarang,” katanya.

Sehingga yayasaan keluarganya tertarik untuk membantu anak-anak berawal dari prinsip Tuhan Yesus di dalam Injil yang berkata,”Apa yang kau lakukan terhadap satu orang anak kecil saja, ini sama dengan kamu lakukan untuk aku. Dan jangan menghalangi anak-anak ini dia datang padaku”.

“Hanya itu pedoman kami,” ujarnya.

Ia mengatakan anak-anak asuhnya banyak yang melanjutkan sekolah, namun hanya sampai tingkat SMA. Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi belum mampu karena terkendala biaya.

Duwiri berharap pemerintah memberikan perhatian kepada anak-anak yang diasuhnya.

“Hingga kini hanya kami yang membiayai anak-anak dan pernah dibantu dinas sosial, berurusan dengan pemerintah terkadang lebih ribet administrasinya,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Ajakan menjaga hutan dari Nimbokrang

Selanjutnya

Kala cenderawasih menyambangi kami

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe