Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Kala cenderawasih menyambangi kami
  • Selasa, 07 Agustus 2018 — 07:12
  • 497x views

Kala cenderawasih menyambangi kami

Cagar alam ini merupakan hutan sisa tebangan pohon-pohon oleh ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab. Penebangan diperkirakan terjadi sejak tahun 1980-an, di era Daerah Operasi Militer (DOM), ketika pemerintah pusat menjadikan kawasan sekitarnya sebagai daerah transmigrasi.
Pengelola dan pengembang Kampung Wisata Burung Cenderawasih Kampung Rhepang Muaif (kiri) saat berbincang-bincang dengan Pemred Jubi, Dominggus Mampioper dì puncak menara pantauan, Jumat siang - Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KAMI tak menyangka bisa disambangi cenderawasih, Jumat siang, 3 Agustus 2018, di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua.

Sebenarnya butuh waktu yang tepat untuk melihat burung surga di lokasi cagar alam tersebut.

Cagar alam ini merupakan hutan sisa tebangan pohon-pohon oleh ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab. Penebangan diperkirakan terjadi sejak tahun 1980-an, di era Daerah Operasi Militer (DOM), ketika pemerintah pusat menjadikan kawasan sekitarnya sebagai daerah transmigrasi.

Pohon-pohon ditebang untuk kepentingan tertentu. Beberapa jenis kayu yang ditebang, di antaranya, kayu besi (merbau) atau opie dalam bahasa Namblong, matoa (amuo), dan jenis kayu lainnya.

"Setelah saya datang saya larang," kata Ferry Bouw, tokoh masyarakat setempat.

Sejak tiga tahun lalu, kawasan tersebut dikelola lagi dengan dukungan beberapa BUMN dan lembaga nirlaba yang konsen pada isu lingkungan. Setelah disurvei, beberapa spesies cenderawasih ditemukan di sini. Lalu dijadikan hutan lindung atau cagar alam. Luasnya 150 hektare.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 9 Juni 2017, Rhepang Muaif dicanangkan sebagai kampung wisata pengamatan cenderawasih bersama empat kampung lainnya, seperti, Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Kampung Sawendui dan Baraway di Distrik Raimbawi, serta Kampung Poom, Distrik Poom, di Kabupaten Kepulauan Yapen. Pencanangan kampung wisata ketika itu ditandatangani Gubernur Papua Lukas Enembe.

Di Rhepang Muaif bahkan ada sekolah alam--sekolah informal yang digagas pengelola untuk mempelajari kearifan lokal masyarakat. Gedungnya sangat sederhana. Terbuat dari papan dan kayu-kayu pilihan. Namun belum ada aktivitas sekolah, sebab bangunannya belum rampung.

Di sekolah alam akan diperkenalkan jenis-jenis pohon dan burung-burung dalam bahasa Genyem dan Inggris. Murid-muridnya pun tidak dibatasi. Asalkan memiliki komitmen menjaga hutan dan kekayaannya, terutama cenderawasih.

Ferry Bouw melanjutkan, cenderawasih biasanya senang bertengger di pohon beringin, beko, dan pohon bou. Seiring waktu berjalan, pohon-pohon ditebang, hingga mengakibatkan cenderawasih hilang. Oleh karena itu, kelangsungan hidupnya harus diselamatkan.

Seorang pengelola dan penjaga Kampung Wisata Rhepang Muaif, Alex Waisiman, bercerita tiap pengunjung hanya bisa melihat cenderawasih pada pagi dan sore hari. Kira-kira pukul lima sampai delapan.

Namun, Jumat siang, sangat berbeda. Kami bahkan tak menduga sebelumnya. Cenderawasih seolah-olah menguping diskusi kami. Atau barangkali sekadar mengitari menara dan pepohonan.

"Itu cenderawasih datang!!"

Tiba-tiba Paitua Alex berteriak di tengah serunya obrolan kami seputar hutan dan satwa Papua. Itu artinya burung surga ini tak biasanya tampak di siang hari. Kebetulan saja siang ini.

Kami lantas menjeda obrolan. Sembari ramai-ramai melihat ke langit kelabu dan menyibak aneka pohon yang dibelai angin.

Dari puncak menara pantauan setinggi kira-kira 20 meter, di antara celah-celah pepohonan, kami melihat burung surga itu seperti bermanuver. Berbarengan dengan suara khasnya. Setelah itu menghilang.

Lengking suaranya memecahkan kesunyian hutan sedari pagi. Berpadu harmoni dengan kicauan kawanan burung lainnya. Semacam paduan suara para burung. Beriringan dan menggema, mengantarkan obrolan kami hingga tak terasa tiba pukul 2 siang.

Obrolan selama empat jam sedari awal hingga puncak menara seolah tak terasa. Sebab suara burung, udara yang sejuk, pepohonan yang memagar menara, dan rimbunan daun hijau mewarnai perjalanan kami kali ini.

"Cenderawasih tahu kita datang dengan niat yang baik dan tulus," kata Dominggus Mampioper, Pemimpin Redaksi Jubi, yang memimpin rombongan kami.

"Dorang (mereka) senang ada wartawan datang," lanjutnya disambut tetawa rombongan Jubi.

Pernyataan Mampioper disambut beralasan, mengingat kedatangan cenderawasih siang ini tak sembarangan. Tidak semua pengunjung dapat melihat cenderawasih kala siang.

Biasanya kita membutuhkan waktu yang tepat bila mau melihat mereka. Itu pun pagi dan sore hari.

"Pernah dua bule berkelahi gara-gara berebutan mau lihat itu cenderawasih," ujar Alex Waisiman.

"Saya empat puluh tahun meneliti. Tapi baru kali ini melihat langsung," lanjut penerima Kalpataru 2017 ini, menirukan penuturan salah seorang turis asal Eropa.

Berbagai sumber menyebutkan lokasi ini menjadi tempat bagi jenis cenderawasih raja (Cicinnurus regius), cenderawasih kecil (Paradisea minor), cenderawasih mati kawat (Seleusidis melanoleucea), dan cenderawasih parus sabit (Epimactus bruijinii).

Namun Alex menyebutkan dari sembilan jenis cenderawasih di Tanah Papua, tujuh jenisnya berada di Kampung Rhepang Muaif. Meski demikian, dirinya tidak merinci satu per satu spesies-spesies yang dimaksud.

Terlepas dari itu, ia meminta agar semua pihak bekerja sama melindungi dan melestarikan burung surga ini. Siapa pun, baik yang datang ke Papua, maupun yang tinggal di tanah ini, tidak menggunakan aksesori cenderawasih.

Hal ini juga sesuai surat edaran gubernur Papua nomor 660.1/6501/SET tentang Larangan Penggunaan Burung Cenderawasih Asli Sebagai Aksesori dan Cenderamata.

Menjadikan bulu cenderawasih sebagai hiasan dan cenderamata, katanya, justru mendukung kepunahan satwa endemik Papua ini.

Selain itu, semua pihak juga diimbau agar tetap menjaga hutan. Merusak hutan berarti membongkar rumah cenderawasih dan burung-burung lainnya.

Dewan Adat Suku (DAS) Namblong--yang membawahi Distrik Namblong, Nimboran, dan Distrik Nimbokrang--memberi apresiasi terhadap upaya pihak Alex Waisiman.

Ketua DAS Namblong, Matius Sawa, mengatakan tak hanya cenderawasih, dulu kasuari dan burung-burung lainnya, seperti nuri dan kakatua raja mudah didapat.

Namun, seiring perkembangan zaman dan pengalihan fungsi hutan adat masyarakat burung-burung itu jarang dilihat, bahkan nyaris punah.

Maka dari itu, terobosan dan upaya pengembangan Kampung Wisata Pemantauan Burung Isyo Hills di Kampung Rhepang Muaif harus diikuti semua suku di Papua. Demi melestarikan cenderawasih dan satwa endemik Papua lainnya.

"Ini menjadi contoh bagi suku-suku lain juga," kata Matius Sawa. (*)

loading...

Sebelumnya

Pengayom anak-anak terlantar

Selanjutnya

Rindu keunggulan coklat Belanda

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe