Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Rindu keunggulan coklat Belanda
  • Rabu, 08 Agustus 2018 — 05:25
  • 302x views

Rindu keunggulan coklat Belanda

“Tanaman sekarang sudah diubah dengan tanaman hasil stek atau sambung pucuk dan sekarang kita mau ubah dengan biji yang dulu ditanam oleh Belanda,” katanya.
Coklat di perkebunan petani di Kampung Nambloong – Jubi/ Yance Wenda
Yance Wenda
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Di zaman Kolonial Belanda, Kampung Nambloong dan Kresik di Kabupaten Jayapura, Papua terkenal karena kesuksesan perkebunan kakao. Petaninya makmur karena berhasil mengekspor coklat untuk pabrik coklat di Negeri Kincir Angin.

Pemerintahan Kolonial Belanda mengajarkan masyarakat di sana menjadi petani kakao profesional. Mereka diajarkan menanam, merawat, memanen, hingga cara mengekspor. Para petani mendapatkan keuntungan lumayan dari kakao berkat modal, pengolahan, dan jaminan pemasaran dari perusahaan Belanda.

Namun semua itu berlalu setelah masuknya transmigran di era Pemerintahan Orde Baru Soeharto. Salah urus penanganan adalah salah satu penyebab. Faktor melakukan stek atau sambung pucuk yang dianjurkan di era Orde Baru membuat hasil panen menurun dibandingkan cara bertanam ala Kolonial.

Yakob Wadi, petani kakao di Distrik Kresik mengatakan, masyarakat di sana hampir sebagian besar memiliki lahan coklat 3-4 hektare per keluarga.

“Karena pengaruh sambung pucuk itu sudah banyak yang tidak urus itu tanaman coklat, tapi akhir-akhir ini sudah banyak yang mulai urus kembali,” katanya kepada Jubi.

Wadi menjelaskan, sekali panen hasilnya paling banyak 3-4 ton buah coklat. Hasil penjualan coklat tersebut bisa membiayai hampir semua anak-anak di sana hingga berhasil menjadi sarjana S1 dan S2.

“Tapi hasil tanaman kakao itu bukan yang di era Indonesia, tapi era Belanda punya, sampai sekarang pohon-pohonnya masih ada dan masih dipanen juga buahnya,” katanya.

Ia mengatakan, dulu distrik Kresik memiliki koperasi yang menangani perkebunan coklat. Koperasi membantu mengatur jual-beli kakao hasil panen masyarakat. Namun pengelola koperasi tersebut semuanya sudah meninggal.

“Kemudian digantikan oleh tengkulak, jika masyarakat panen tengkulak datang membeli langsung kepada petani, baik buah yang bash maupun kering, ini terjadi karena tidak ada lagi koprasi, akibatnya masyarakat rugi, akhirnya tidak banyak lagi yang menggarap kebunnya,” ujarnya.

Wadi berharap ada perhatian dari dinas terkait untuk melakukan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat bagaimana cara menanam, merawat, dan memasarkan kakao mereka.

“Agar petani coklat ini mengerti menanganani kebun mereka dan menjual hasilnya,” katanya.

Kini harga jual coklat di Kresik per kg Rp20 ribu hingga Rp25 ribu untuk coklat kering dan Rp10 ribu untuk coklat basah. Harga yang cukup murah ini berpengaruh kepada minat petani melanjutkan usahanya.

“Agar pasar coklat lebih jelas, dinas terkait harus mendukung perkebunan coklat di Kresik, sebab negosiasi harga langsung dengan pembeli dan dinas terkait hanya penonton saja,” katanya.

Wadi berharap, Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura yang menangani kakao tidak hanya duduk diam, tetapi juga berusaha membangun suatu lingkungan yang baik agar setiap hasil  dari kebun coklat petani tidak dijual dengan harga murah.

“Dinas terkait dia bergerak bagaimana mencari pasaran di luar sana, baik di Jakarta atau dimana, dan pengusaha di sana, siapa di sini agar garis koordinasi itu jelas, kalau tidak dilakukan seperti itu tengkulak ini yang untung, jadi coba bikin bagaimana cara kembang biakkan coklat, karena mereka itu guru, kalau petani ini mereka asal tanam saja yang penting ada uang,” katanya.

Kendala yang dihadapi petani di lapangan, kata Wadi, kurangnya tenaga penyuluh. Sebab ada coklat yang kena hama dan mereka bingung harus melakukan apa untuk mencegahnya.Tapi kurang perhatian dinas terkait.

“Yang menadi kendala itu hama ini saja yang agak susah, karena masyarakat tidak pernah dapat penyuluhan soal bagaimana mencegahnya, pada waktu itu mereka bawa ke Makassar mereka bilang kalau coklat dari Papua tidak berkualitas sehingga mereka buang ke laut, sehingga masyarakat dan pengurus kakao ini frustrasi, tapi sekarang mereka siap, cuma sosialisasi saja yang kurang,” katanya.

Dewan Adat Suku (DAS) Kampung Nambloong, Distrik Nimbokran Matius Sawa mengatakan, perbandingan coklat dulu atau zaman Kolonial Belanda dengan coklat sekarang sangat jauh berbeda, baik kualitas maupun beratnya.

“Tanaman sekarang sudah diubah dengan tanaman hasil stek atau sambung pucuk dan sekarang kita mau ubah dengan biji yang dulu ditanam oleh Belanda,” katanya.

Hasil tanaman stek, kata Sawa, tidak memuaskan dibandingkan jika ditanam biji dari zaman Belanda.

“Kalau yang dulu Belanda punya itu oke, hasilnya memuaskan, tapi sekarang siapa yang datang membantu kami, petani semua itu siap untuk kerja kembangkan coklat biji cuman tenaga penyuluh saja yang kurang,” katanya.

Menurutnya, kakao dari stek bijinya kecil, ringan, isinya sedikit, dan tanamannya tidak bertahan lama, sedangkan biji dari tanaman zaman Belanda besar dan berat, bahkan satu buah bisa 1 kg. Bahkan usia tanaman dari biji kakao zaman Belanda bisa tahan hingga puluhan tahun. Sedangkan hasil stek hanya 5-10 tahun.

“Bahkan tanaman Belanda itu sudah satu abad usianya masih ada sampai sekarang, dari kita masih kecil hingga sudah tua ini masih ada batangnya,” katanya.

Seperti juga di Kresik, masyarakat Nambloong hanya tinggal mengenang hasil panen mereka diekspor ke luar negeri melalui koperasi. Karena tidak ada lagi koperasi, sekarang mereka menghadapi tengkulak yang membeli dengan harga murah.

“Dulu coklat ditangani Koperasi Youwadatum untuk diekspor, tapi sekarang 6 ton hasil panen kami pernah dibuang ke laut karena dinilai tidak berkualitas, akhirnya masyarakat di sini agak malas melanjutkan usaha pertanian coklat,” katanya.

Menurut Sawa, harga beli tengkulak ke petani sangat murah dibanding harga jual ke luar. Perbedaannya bisa 2 hingga 3 kali lipat

“Kalau dari dinas ‘dorang’ datang bikin sosialisasi soal tanaman ini, saya pikir bagus sekali, agar coklat biji ini dikembangkan,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Biayai kuliah dari hasil menyulam

Selanjutnya

Festival Film Papua salurkan suara kaum tak bersuara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe