Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Pijar hip-hop di Negeri Bintang Kejora (1)
  • Jumat, 09 Agustus 2018 — 23:08
  • 318x views

Pijar hip-hop di Negeri Bintang Kejora (1)

"Kemudian 2015 kami membentuk Waena Finest. Karakter kami berbeda-beda, style saya lebih ke lirik English, Richard lebih ke punch line, Yohanes mainnya di rima, dan Agus untuk rap cepat."
Tiga personel Waena Finest, Richard Rumi (dari kiri), Theo Rumansara, dan Yohanes Pondayar, saat ditemui di studio mereka di Kampung Yoka, Kota Jayapura. - Jubi/Kristianto Galuwo
Galuwo
Editor : Admin Jubi
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

JALAN masuk ke Kampung Yoka gelap, karena tak ada lampu jalan pada malam hari. Padahal salah satu kampung yang berada di Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura itu, berdekatan dengan jalan raya menuju Bandara Sentani dan pusat perbelanjaan di Waena.

Theo Rumansara, 28, ditemui tepat di pintu masuk Kampung Yoka, pada Sabtu (28/7/2018), sekitar pukul 8 malam. "Hanya jalan kaki saja dari sini. Studio kami ada di rumah kawan saya."

Theo salah seorang personel grup hip-hop Waena Finest. Ia lebih dikenal dengan nama panggung E.Z.T. Pria asli Biak ini, pernah viral setahun lalu, ketika ia mengaransemen lagu Dat Stick dari Rich Brian, dan beberapa lagu dari musisi rap Afro-Amerika seperti Drake, Kendrick Lamar, dan J Cole. Ia fasih berbahasa Inggris, dan kerap menulis lagu yang berbahasa Inggris pula.

"SMP dan SMA sekitar tahun 2002 sampai 2007, saya bersekolah di International School di Filipina. Kebetulan bapa saya kerja di sana. Setelah lulus saya sempat kuliah di Australia pada 2008."

Namun ia tak berlama-lama di Australia. Ia pindah berkuliah di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura pada 2010, tapi tidak sampai selesai. Sekarang ia bekerja di Bank Perkreditan Rakyat di Jayapura.

"Studio kami sedang diperbaiki. Kita bicara di atas saja,” katanya ketika memasuki halaman luas di depan rumah semi permanen berlantai dua.

Di lantai dua, telah menunggu Richard Rumi, 25, si pemilik rumah yang juga personel Waena Finest bernama panggung DX MC, dan Yohanes Pondayar, 25, bernama panggung Lil An. Richard berasal dari Serui, sementara Yohanes dari Biak. "Ada salah satu kawan lagi, namanya Agus Freedom."

Theo berkisah, Waena Finest dibentuk oleh mereka berempat, berawal dari komunitas The Crossing Hip-Hop Comunity pada 2009, yang digagas beberapa grup hip-hop di Jayapura, seperti Why Village, One Street, Rap2W, Fourtenkey, B13, dan Waena Sound. Komunitas ini memiliki markas besar di Waena, dan salah satunya di rumahnya Richard.

"Kemudian 2015 kami membentuk Waena Finest. Karakter kami berbeda-beda, style saya lebih ke lirik English, Richard lebih ke punch line, Yohanes mainnya di rima, dan Agus untuk rap cepat."

Menurutnya, selama berkarya Waena Finest telah menulis lagu sekitar 200-an. Kebanyakan mereka lempar di website www.reverbnation.com. Sementara untuk album, seingatnya mereka telah merilis tiga album kompilasi.

Saat ini ia tengah menyiapkan album bertajuk Broken Paradise, yang salah satu lagunya berjudul Remember Ma Name, berkisah tentang tiga generasi berbeda di Papua.

"Lagu itu bertipikal multiple storytelling rap. Jadi saya akan coba menjiwai tiga karakter dengan watak, prinsip dan kisah masing-masing."

Pada chorus pertama, kata dia, menceritakan seorang laki-laki pada medio 1980-an yang memilih bergabung dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun akhirnya ia terbunuh oleh operasi militer. Kemudian, anaknya tumbuh besar menjadi seorang pengedar obat terlarang, dan mati tertembak pula oleh polisi.

"Chorus kedua, saya sedang menyanyi dan di akhir lagu juga ada suara tembakan. Artinya saya juga terbunuh."

Sementara Richard berkisah mengenai sejarah hip-hop di tanah Papua. Menurutnya sekitar 2005, ketika mereka masih remaja ada grup hip-hop bernama Star East.

"Lagunya paling banyak beredar di ponsel kami dulu. Kemudian ada Peace Melanesia, Antrabes, Black Nation, Black Gangsta, dan banyak lagi."

Scene hip-hop di Papua khususnya di Jayapura juga sempat terbentuk dan solid pada 2015. Sampai akhirnya bubar dan mereka memilih ‘jalan microphone’ masing-masing.

"Ada banyak senior-senior yang terlibat membentuk komunitas itu. Salah satunya Kaka Ibe Antrabes yang bertugas merangkul kami semua. Tapi akhirnya karena ego, satu per satu memilih jalan masing-masing."

Ia mengaku pesimistis jika semua grup hip-hop atau rapper di Papua bisa satu dalam komunitas. Apalagi, kata dia, culture hip-hop memang dari sananya cenderung terkotak-kotak dan suka saling dissing.

"Susah untuk bisa satu lagi. Sekarang saja, kalau ada grup hip-hop yang satu bikin acara, pasti yang lainnya tidak ikut. Begitu juga sebaliknya. Kami juga kalau ada masalah dengan grup lain, tidak main diss atau apaTapi kami memilih menemui dan bicara langsung."

Richard juga sempat menyinggung mengenai kasus pada 2010, yang hanya karena lagu hip-hop yang liriknya menyebut atau menghina salah satu nama suku, berujung ke tragedi pembakaran puluhan rumah di Kampung Yoka.

"Sa kenal orangnya (pembuat lagu). Masih sekampung. Jadi dia buat lagu yang menghina salah satu suku. Lantas suku di pegunungan itu turun sekitar ratusan orang, dan membakar puluhan rumah di sini (Kampung Yoka)."

Ia mengenang, kala itu semua orang di kampung panik dan lari. “Semoga kejadian seperti itu tidak terulang lagi.” (Bersambung)

loading...

Sebelumnya

PP nomor 18 dinilai hambat pembangunan daerah di Papua

Selanjutnya

Abaikan ancaman AS, Cina dan Jerman tetap jalin bisnis dengan Iran

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe