Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Gobai: Pejabat yang menolak dihentikannya rastra, patut dicurigai
  • Jumat, 10 Agustus 2018 — 18:13
  • 353x views

Gobai: Pejabat yang menolak dihentikannya rastra, patut dicurigai

"Misalnya saja jika masyarakat tak mampu menebus jatah rastra, kepala distrik (kadistrik) yang akan menebusnya. Kemudian, menjual kepada pedagang," kata Gobai kepada Jubi, Jumat (10/8/2018).
Ilustrasi beras Bulog - Jubi. Dok
Arjuna Pademme
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Sekretaris II Dewan Adat Papua (DAP), John NR Gobai mengatakan, sudah saatnya masyarakat perlahan melepas ketergantungan terhadap beras sejahtera (rastra). Jika ada pejabat yang menolak, patut dicurigai ia memiliki kepentingan tertentu.

Menurutnya, kuat dugaan selama ini program rastra dijadikan lahan bisnis terselubung berbagai pihak terkait.

"Misalnya saja jika masyarakat tak mampu menebus jatah rastra, kepala distrik (kadistrik) yang akan menebusnya. Kemudian, menjual kepada pedagang," kata Gobai kepada Jubi, Jumat (10/8/2018).

Selain itu menurutnya, kualitas rastra sebagian besar tak layak dikonsumsi masyarakat, lebih baik memanfaatkan potensi pangan lokal yang ada di Papua.

"Lebih baik menciptakan lumbung pangan lokal. Jangan lagi menghilangkan hutan sagu demi investasi sawit dan lainnya," ucapnya. 

Pekan lalu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua, Ribka Haluk mengatakan, pihaknya juga mengindikasi ada oknum yang bermain dalam penyaluran rastra, karena kini banyak dijumpai beras Bulog dijual bebas di pasar. 

"Tapi pertanyaannya, yang dijual itu rastra atau beras untuk operasi pasar? Kami tidak bisa membedakan karena dilihat dari fisik tidak ada perbedaan," ucapnya.  

Seharusnya menurut Ribka Haluk, pihak Bulog mendesain atau merancang karung dan label yang berbeda antara Rastra dan beras yang khusus untuk operasi pasar.

"Kalau tidak, maka akan ada oknum-oknum yang bermain mengenai beras Bulog tersebut," ujarnya. (*) 


 

loading...

Sebelumnya

Freeport, ko harus ganti semua rugi!

Selanjutnya

Aliran listrik diputus, mama-mama Papua protes

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe