Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Praktik arif ekologi budaya (4)
  • Jumat, 10 Agustus 2018 — 22:47
  • 301x views

Praktik arif ekologi budaya (4)

Pelaksanaan sasi dilakukan berpindah-pindah untuk menandai lokasi sasi. Batas pelaksanaan sasi sangat beragam sesuai dengan perhitungan dapat berkembang biaknya makhluk hidup secara seimbang kembali. 
Salah satu wilayah suku Kanum yang menjadi incaran para pemburu liar - Jubi/Dok. Penulis
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: I Ngurah Suryawan

SASI dilakukan untuk melarang pembunuhan hewan atau perusakan lingkungan dan memberikan kesempatan kepada makhluk hidup tersebut untuk berkembang biak. Oleh sebab itulah dilakukan sasi selama dua bulan dengan berpindah-pindah ke berbagai lokasi yang dianggap sangat perlu untuk dilakukan.

Pelaksanaan sasi dilakukan berpindah-pindah untuk menandai lokasi sasi. Batas pelaksanaan sasi sangat beragam sesuai dengan perhitungan dapat berkembang biaknya makhluk hidup secara seimbang kembali. 

Selama pelaksanaan sasi, orang Kanum berpandangan bahwa pada masa itulah masa tenang bagi makhluk hidup untuk berkembang biak dengan tenang.

Yunus Maiwa mengungkapkan bahwa sasi memberikan kesempatan kepada hewan-hewan untuk makan tenang dan berkembang biak tanpa diteror untuk perburuan yang dilakukan oleh manusia.

Jika pelaksanaan sasi berlangsung dan manusia tidak melakukan perburuan, maka bisa dipastikan hewan-hewan khususnya akan makan dengan tenang dan berkembang biak. Ini memastikan bahwa keseimbangan sumber daya akan terjaga dan juga menguntungkan manusia.

Perburuan liar

Perburuan yang liar dan tidak terkendali adalah alasan kuat lainnya untuk melaksanakan sasi. Situasi perburuan liar ini sangat memprihatinkan bagi orang Kanum sehingga diperlukan langkah cepat untuk melakukan sasi.

Yunus Maiwa mengungkapkan bahwa perburuan hewan (kangguru, rusa, buaya, dan babi) dan ikan sudah menguasai semua tempat yang berada di wilayah orang Kanum.

Masyarakat bukannya diam. Mereka sudah berusaha untuk mencari pemburu-pemburu tersebut, dan mencarinya setengah mati. Tetap saja berlangsung tanpa henti perburuan tersebut sehingga mengancam keberadaan hewan-hewan yang berada di wilayah orang Kanum. 

Orang Kanum melakukan ritual sasi dengan memberi tanda di suatu tempat. Tandanya berupa potongan tiang dari kayu yang tahan lama. Biasanya digunakan kayu besi karena akan tahan bertahun-tahun. Ini dilakukan karena pelaksanaan sasi bisa berlangsung lebih dari satu tahun sesuai dengan kebutuhan dan keputusan masing-masing marga pemilik hak ulayat tempat berlangsungnya sasi.

Potongan kayu tersebut kemudian diikat dengan alang-alang dan daun kelapa. Potongan kayu panjang kemudian ditancapkan di wilayah-wilayah yang diberlakukan sasi.

Ada juga yang dipasang di pohon kelapa ciri dari sasi tersebut sesuai dengan kondisi wilayah yang akan disasi.

Jika tanda tersebut sudah terpasang, bisa dipastikan bahwa tempat tersebut sedang disasi menurut adat dari orang Kanum. 

Proses pemberlakuan sasi bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Semuanya disepakati oleh marga-marga tentang batas waktu pelaksanaan sasi.

Yunus Maiwa menjelaskan, marga Maiwa pernah melakukan sasi di kepala sungai di Rawa Biru. Pada saat itu sasi dilakukan karena maraknya perburuan buaya yang berlangsung di kawasan Rawa Biru yang merupakan salah satu wilayah orang Kanum. Saat itu, terutama di kepala kali Rawa Biru, perburuan buaya merambah hingga wilayah-wilayah sakral yang dilindungi oleh orang Kanum.

Oleh sebab itulah pemilik wilayah berkembang biaknya buaya di kepala kali Rawa Biru itu yaitu Kanum Smarkey, Barkari, dan Ngelembu sepakat untuk menutup wilayah tersebut dari perburuan buaya. Mereka sangat khawatir dengan terancamnya keberadaan buaya di wilayah Rawa Biru karena terus-menerus diburu.

Sasi terhadap buaya ini diberlakukan selama tujuh tahun sehingga memberikan waktu untuk buaya berkembang biak. Masyarakat sekitar hanya boleh mencari ikan dan binatang saja di sekitar wilayah Rawa Biru.

Tidak hanya buaya saja yang menjadi perhatian masyarakat Kanum. Salah satu binatang yang selalu menjadi incaran para pemburu lainnya adalah rusa.

Perburuan rusa sempat mengkhwatiran masyarakat saat banjir pemburu dari dari luar. Maka dari itu diberlakukan sasi rusa selama enam bulan dan baru membukanya lagi saat musim kemarau.

Masyarakat Kanum menilai bahwa keberadaan rusa mengalami keterancaman setelah tidak ada lagi rusa yang mencari makan di sekitar kampung mereka, Kampung Toemrauw khususnya.

Ini jelas sesuatu yang aneh. Sebelumnya rusa-rusa tersebut mencari makan di sekitar kampung mereka, bahkan menonton kita makan. Namun keadaan tersebut berubah sangat cepat. Rusa-rusa sekarang tidak lagi mencari makan di dekat-dekat kampung karena sudah diburu hingga ke pedalaman. Situasi ini jelas sangat memprihatinkan. (*) 

Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat               

loading...

Sebelumnya

Rindu keunggulan coklat Belanda

Selanjutnya

Migrasi, kesejahteraan OAP, dan Gereja

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4819x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4218x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3918x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3425x views
Polhukam |— Sabtu, 06 Oktober 2018 WP | 3302x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe