Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Membiayai kuliah dengan menyulam
  • Sabtu, 11 Agustus 2018 — 06:51
  • 229x views

Membiayai kuliah dengan menyulam

Beberapa mahasiswi di Papua mencari uang dengan menyulam. Meski dikerjakan sambilan, hasil kerajinannya cukup untuk membiayai kuliah atau membantu operasional kuliah.
Ester Wenda sedang menyulam pesanan - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

CUKUP banyak perempuan Papua yang melakukan aktivitas menyulam. Mereka membuat kerajinan khas Papua dari benang, seperti topi, noken, tas samping, tas belakang, selendang, baju, sweater, rompi, dompet, dan sarung handphone. Ada yang menjadikan itu usaha utama, juga ada untuk mengisi waktu luwang.

Salah satu adalah Ester Wenda. Perempuan asal Kabupaten Lanny Jaya ini sehari-hari mahasiswi Semester 8 Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Yapis Papua (Uniyap) Cabang Wamena. Wenda menyulam sejak masih muda dan berlanjut sampai sekarang.

“Saya tahu bikin ini sudah lama dan saya buat begini di Wamena itu banyak model yang sudah jadi dan ada yang dipesan, ada yang saya bikin saja baru titip di ruko,” katanya kepada Jubi di Sentani, Kamis, 9 Agustus 2018.

Karena mengutamakan kuliah dengan jadwal sore, Wenda duduk menyulam di rumah setelah pulang dari kampus dan menuntaskan aktivitas harian, termasuk mengerjakan tugas kuliah.

“Saya kerja itu tidak serius, kalau saya kerja serius dari pagi sampai malam dalam satu hari itu ukuran kecil bisa bikin banyak seperti topi, tas samping yang kecil, dan sarung HP,” katanya.

Jika ia bisa menyulam seharian, ia bisa menuntaskanmengerjakan topi atau tas. Namun karena harus kuliah, ia mengerjakan dalam dua hari.

“Saya sudah bikin itu baju langsung, baju saja, terus ada celana saja, rompi, topi, selendang juga banyak, alat-alat dan bahan saya punya sendiri, semua saya pesan dari luar jadi, orang Barat yang bawakan,” katanya.

Ia menjual hasil kerajinannya mulai Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta. Karena dikerjakan sambil kuliah pendapatannya tidak tetap. Namun hasil menyulam tersebut ia mampu membiayai kuliahnya, mulai dari membayar uang kuliah hingga biaya sehari-hari.

“Kalau dari semester 1 hingga semester 3 uang kuliah saya bayar sendiri dengan usaha ini, kemudian semester 4 saya mendapat beasiswa jadi aman, tapi saya tetap menyulam untuk membeli kebutuhan lain seperti biaya fotokopi,” katanya.

Merince Wanimbo juga melakukan hal yang sama. Perempuan yang juga asal Lany Jaya kelahiran 1984 ini menekuni kegiatan menyulam sejak remaja.

Kebetulan Wanimbo mengambil Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Budaya (ISBI) Tanah Papua dan sekarang Semester V. Kuliah di jurusan seni menambah pengetahuannya tentang kerajinan. Ilmu seni yang ia dapat dijadikan pedoman untuk dikembangkan sendiri saat membuat sulaman.

“Saya sudah berjualan dari dulu dan saya kasih harga itu tidak terlalu mahal sesuai saja yang penting mereka kasih pengertian, itu saja,” katanya.

Ibu dua anak ini sudah membuat banyak barang sulaman, mulai dari beha, tas ukuran besar dan ukuran kecil, sweater, selendang, anting, kalung, gelang, dan lainnya. Ia mengaku menjualnya tidak terlalu mahal.

“Yang paling laris itu anting-anting dan sekarang anting itu tinggal satu toples saja, untuk harga paling murah Rp 25 ribu dan paling tinggi Rp 500 ribu,” ujarnya.

Namun menyulam belum aktivitas utama baginya. Sebab selain masih kuliah, ia juga mengurus keluarganya. Jika ada waktu kosong ia pun menyulam. Karena itu ia tidak bisa cepat mengerjakan sulaman.

“Kalau anting itu dalam sehari bisa siap 2-3 pasang, tapi kalau ada tugas dari kampus saya tidak pegang serius, paling hanya sebentar saja karena saya harus kerjakan tugas kampus dulu,” katanya.

Wanimbo tidak memiliki tempat tetap untuk menjual karyanya. Untuk itu ia memanfaatkan media sosial Facebook untuk menawarkan kepada siapa saja yang mau membeli atau memesan.

“Biasanya ada yang inboks tanya harga dan model dan juga ada yang minta diantar, kalau beha itu banyak yang tanya tapi sampai sekarang tidak ada yang laku,” katanya.

Karena ia tidak berjualan serius seperti pedagang di pasar, maka penghasilannya dari kerajinan juga tidak menentu.

“Kadang saya dapatkan Rp 200 ribu, kadang juga Rp 300 ribu, karena saya tidak jual serius, kalau saya jual serius pasti pendapatan bisa lebih,” katanya.

Hasil menjual kerajinan tersebut ia gunakan untuk biaya transportasi taksi ke kampus, membeli bahan sulaman, dan kebutuhan lain di rumah.

Menurutnya Wanimbo, kendala sekarang yang ia hadapi adalah tempat memasarkan kerajinannya. Sekarang jika ada yang ingin membeli maka langsung mendatangi rumahnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Migrasi, kesejahteraan OAP, dan Gereja

Selanjutnya

Ndambu, festival sejuta makna

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe