Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Phapin MC, rapper cadas asal Ambon (3)
  • Sabtu, 18 Agustus 2018 — 15:38
  • 415x views

Phapin MC, rapper cadas asal Ambon (3)

"Saya orangnya tidak suka ikut kompetisi. Atau ingin populer dari panggung perlombaan. Saya menulis dan merekam lagu, ketika ada yang ingin saya suarakan."
Mardvin Wairata, rapper asal Ambon yang kini tinggal di Abepura, saat ditemui di salah satu kafe di Waena, Kota Jayapura. - Jubi/Kristianto Galuwo
Galuwo
Editor :
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

MARDVIN WAIRATA, 26, pria berdarah Ambon ini, cukup dikenal di Kota Jayapura sebagai rapper bernama panggung Phapin MC. Dia lahir dan besar di Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah.

Perkenalannya dengan hip-hop khususnya rap, berawal ketika ia masih di bangku sekolah menengah pertama di Ambon, 2006 silam.

"Dulu di Ambon, tak banyak yang suka rap. Saya sendiri sudah mengidolakan 8 Ball, apalagi dia dari Maluku. Kira-kira 2007, nama 8 Ball mulai dikenal karena lagunya yang menghujat Kangen Band," kenangnya, saat ditemui di salah satu kafe di Waena, Kota Jayapura, Jumat (27/7/2018).

Lagu pertama yang ditulisnya bahkan sudah memuntahkan kritikan. "Kepala desa kami bikin aturan yang melarang remaja-remaja keluar malam. Sa dan teman-teman bikin lagu yang liriknya menolak aturan itu."

Pada medio 2008-2009, ia mulai serius menulis lagu dan merekamnya hanya bermodal earphone dan laptop. "Kami lantas membentuk LORIHUA Hip-Hop Comunity. Lorihua sesuai bahasa tanah, atau bahasa Ambon berarti air. Itu juga bahasa tanah dari nama kampung kami."

Setelah lulus SMA pada 2009 ia lanjut berkuliah di Universitas Pattimura, Maluku, tapi studinya kandas hanya pada semester dua. Kemudian pada 2013, ia memutuskan merantau ke Jayapura, Papua.

"Saya ikut teman saja. Di Jayapura saya mendapat pekerjaan sebagai sekuriti di Mall Jayapura. Sekarang saya di Bank BTN, bagian penagihan."

Di Kota Jayapura, khususnya di Distrik Abepura tempat ia menetap, musik hip-hop banyak digemari anak-anak muda. Ia lantas menjalin perkawanan dengan sesama penyuka hip hop di Kota Jayapura.

"Anak-anak muda sini cenderung lebih suka hip-hop, rap, RnB, atau reggae. Mereka juga lebih suka lagu-lagu lokal. Jadi misal ditanya, ko lebih suka Saykoji atau DXH Crew, pasti mereka memilih DXH Crew. Atau Rider BHC dan Young Lex, pasti anak-anak muda lebih suka Rider BHC."

Sambil bekerja, ia tetap meluangkan menulis lagu di kala senggang. Tapi ia mengaku jarang ikut kompetisi, kecuali ketika ada battle di jalanan atau panggung-panggung gigs.

"Saya orangnya tidak suka ikut kompetisi. Atau ingin populer dari panggung perlombaan. Saya menulis dan merekam lagu, ketika ada yang ingin saya suarakan."

Sampai sekarang, sejak dari Ambon, ia telah menulis 30-an lagu. Namun hanya beberapa saja yang ia unggah ke website www.reverbnation.com.

"Itu kanal sebelum kami mengenal Youtube. Jadi pas ada lagu baru, langsung upload di situ. Seperti Sound Cloud. Tapi sekarang mulai upload di Youtube. Kira-kira sudah ada empat lagu yang di-upload."

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2017, lagunya berjudul "72" ia rilis dan sering dibawakannya ketika diundang mengisi acara, atau ketika ada battle di jalanan.

"Saya pernah membawa lagu itu di asrama mahasiswa Timika, saat acara Melanesian Sound 2017. Saya memakai ikat kepala Bintang Kejora, dan sambutan penonton ramai bahkan ada yang mengibarkan bendera Bintang Kejora," kenangnya.

Ia mengatakan, kendati saat itu ada beberapa polisi yang bertugas mengatur lalu lintas di depan asrama, acara tersebut tetap berjalan dan ia bebas melontarkan lirik-lirik cadas dari atas panggung.

"Lagu itu lirik-liriknya berisi kegelisahan saya, karena selama 72 tahun Indonesia merdeka, Papua terus diabaikan."

Dalam lirik lagu, ia menyinggung soal kasus kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, rasisme terhadap orang Papua, ekspansi kelapa sawit, penjarahan sumber daya alam Papua oleh Freeport, kelaparan, akses jurnalis asing yang dibatasi, dan minimnya fasilitas kesehatan dan pendidikan.

"Lebih banyak menyinggung soal pendidikan. Sebab Papua tidak butuh pembangunan infrastruktur, tapi pembangunan sumber daya manusianya."

Ketika lagu itu sering ia nyanyikan, ia mengaku sempat diteror seseorang lewat pesan di Instagram.

"Foto akun Instagram-nya orang Papua. Dan dia mengancam agar lagu itu jangan dibawakan lagi. Ia mengaku sebagai orang Papua, dan hidup di sini (Papua) sudah enak. Saya katanya terlalu membesar-besarkan masalah, sampai mengatai saya hanya pendatang. Tapi sepertinya itu akun fake."

17 Agustus 2018 nanti, ia akan merilis lagu berjudul Tuan Tanah. Ia memang berencana setiap tahunnya, akan merilis lagu-lagu dengan tema serupa. "Lagu itu seri lanjutan dari 72."

Selain itu, ia juga ikut menyumbangkan lagu "72" ke mini album Mixtape Volume 2 Papuan Rap, yang digagas Black Badaki, salah satu grup hip-hop di Papua, yang hasil dari penjualan album itu didonasikan untuk membantu pendidikan di Papua.

Baru-baru ini, ia juga diajak kolaborasi oleh Tabib Qiu (Soul id) MC asal Jakarta dan Reza Reamshot, MC dari Cirebon, dalam lagu Pangggungku, yang telah dirilis di Youtube, sejak Februari 2018.

Mengenai scene hip-hop di Kota Jayapura, menurutnya, sampai sekarang setiap musisi cenderung membentuk komunitas sendiri.

“Jadi misal di Waena mereka bikin komunitas sendiri, di Abepura dan Jayapura juga begitu.” (Bersambung)

loading...

Sebelumnya

Inilah   penerima penghargaan HUT RI ke-73  di Papua 

Selanjutnya

Rand Slam, dari Bandung pulang kampung (4)

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe