Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Rand Slam, dari Bandung pulang kampung (4)
  • Sabtu, 18 Agustus 2018 — 15:14
  • 345x views

Rand Slam, dari Bandung pulang kampung (4)

Menurutnya, kala itu album Rimajinasi sebenarnya sudah digarap. Tapi ia melempar album Johan EP lebih dulu. "Johan EP itu buat kasih panas."
Randi Ismail, rapper bernama panggung Rand Slam, ketika ditemui di salah satu di Waena, Kota Jayapura. - Jubi/Kristianto Galuwo
Galuwo
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PERTENGAHAN Juli, Randi Ismail, pulang ke tanah kelahirannya, Papua. Ia lahir dan tumbuh besar di Kampung Arso 9, Distrik Skamto/Skanto, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Jaraknya sekitar satu jam berkendara dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura.

Kedua orangtuanya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak 1990-an, orangtuanya telah mengadu nasib di tanah Papua. Dua tahun berikutnya, Randi lahir pada 22 Februari 1992.

Tak banyak di Papua yang mengenalinya sebagai rapper bernama panggung Rand Slam, yang cukup dikenal di ibu kota Jakarta khususnya Bandung tempat ia berkuliah.

"Tidak ada acara, hanya ingin pulang saja. Sudah empat tahun, baru sa bisa pulang kampung," ucapnya dengan sedikit dialek orang Papua, saat ditemui di salah satu kafe di Waena, Kota Jayapura.

Randi mengenyam pendidikan sekolah dasar dan menengah pertama di kampung. Tapi setelah sekolah menengah atas, ia bersekolah di Buper Waena, Kota Jayapura. Di sanalah ia berteman dengan Jayawijaya Parulian Nababan atau Joe Million, salah satu rapper yang lahir di Papua, dan namanya cukup dikenal di scene hip hop di ibu kota.

Pada 2010, ia hijrah ke Jakarta. Ia mulai iseng-iseng membuat lagu bersama salah satu temannya yang sering dipanggil MG.

"Judulnya Jeritan Anak Jalanan. Lagunya hancur sekali," kenangnya sambil tertawa.

Randi mulai serius ketika memasuki tahun 2012. Ia mulai riset bagaimana cara menulis lirik, dan mendengar musik hip-hop lawas dari musisi Amerika. "Kebanyakan musisi luar. Seperti Rakim, Ice Cube, Wu-Tang, semacam itulah."

Selesai kuliah di Universitas Widyatama, Bandung, Randi memilih hijrah ke Jakarta untuk bekerja pada 2016. "Saya menabung untuk kerjakan Mixtape Kosakata. Setelah itu lanjut garap album Johan EP, yang dirilis 22 Februari 2017. Rilisnya sengaja saya pilih tepat hari ulang tahun."

Setelah bergerilya dari satu panggung ke panggung kecil lain, akhirnya ia tampil di panggung besar di Bandung, empat hari sebelum ia merilis Johan EP pada 18 Februari 2017. Saat itulah, kata dia, perkenalannya dengan beberapa musisi hip-hop yang nama mereka cukup tenar bermula.

"Saya kenal Bang Ucok Homicide di situ. Bang Ucok juga cerita kalau sering mendengar lagu-lagu saya. Ia juga menawarkan kerjaan, bikin album."

Menurutnya, kala itu album Rimajinasi sebenarnya sudah digarap. Tapi ia melempar album Johan EP lebih dulu. "Johan EP itu buat kasih panas."

Ia dan Ucok pun bertemu Senartogok, salah satu musisi di Bandung, untuk meminta dukungan pengerjaan album Rimajinasi. Randi mengaku dimodali Ucok untuk membeli 500 keping CD Pro. "Dan 30 Juli 2017, tepat setahun yang lalu, Rimajinasi lahir."

Usahanya tak sia-sia, Rimajinasi disukai para pendengar hip hop. Bahkan media sekelas Rolling Stone Indonesia memberi respons positif untuk album itu. Tak hanya itu, Vice Indonesia dan Warning Magazine mendapuk Rimajinasi sebagai album terbaik 2017.

Di salah satu lagu dalam Rimajinasi berjudul Ayat, ia menyinggung soal tanah kelahirannya, Papua. Pada bait ke 13 dan 14, diakuinya kalimat itu telah tersimpan di kepala sejak lama.

"Tepat di lirik 'Kami mimpikan guru engkau kirimkan tentara, kami inginkan buku engkau pilihkan senjata, dan serahkan emas mereka jangan serakah, biar Papua merdeka di tanah punya mereka’,” ceritanya sambil menyanyikannya.

Selama di Bandung, Randi mengaku tetap memantau perkembangan hip-hop di negeri Bintang Kejora itu. Apalagi, setelah Youtube ada, memudahkannya untuk mendengarkan lagu-lagu hip-hop dari para musisi di Papua.

"Banyak musisi hip-hop atau rapper di Papua yang bagus-bagus. Seperti DXH Crew, ada Waena Finest, Phapin MC, Rider BHC, LA Nation, dan masih banyak lagi. Video klipnya juga keren-keren di Youtube."

Ia mengaku ingin sekali membantu agar scene hip-hop di Papua terbentuk, dan musisi hip-hop dari Papua bisa dikenal lebih luas.

"Karena saya menetap di Bandung, jadi siapa yang mau merilis album fisik, kami siap dan terbuka untuk membantu. Saya juga mulai bekerja sama bikin lagu bareng. Sekarang rencananya akan bikin lagu dengan Phapin MC. Semoga bisa juga kerja sama dengan kawan-kawan lain seperti DXH Crew, Waena Finest, dan lain-lain."

Sekarang ini, demi cita-citanya yang ingin menjadi dosen, ia melanjutkan studi S-2 di Universitas Padjajaran, Bandung. “Saya ambil Sastra Inggris. Karena ini juga berhubungan dengan hip-hop, saya juga ingin memperdalam ilmu linguistik. Kan enak, kitong (kita) satu kali jalan, antara hobi dan studi.” (Habis)

loading...

Sebelumnya

Phapin MC, rapper cadas asal Ambon (3)

Selanjutnya

Mahasiswa Papua korban persekusi Surabaya: Aparat polisi hanya nonton, kami korban malah ditahan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe