Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Marianette Octovina Wospakrik, fisikawan Papua bekerja di Fermilab Chicago USA
  • Selasa, 21 Agustus 2018 — 07:47
  • 2303x views

Marianette Octovina Wospakrik, fisikawan Papua bekerja di Fermilab Chicago USA

Ia memperoleh gelar sarjana fisika dari ITB dan selanjutnya bekerja di PT Freeport Indonesia. Ia kemudian meneruskan studi master dan doctor di Faklutas Fisika dan Astronomi di Universitas Florida Amerika Serikat.
Maya dan ibunda Regina - Jubi/IST
Dominggus Mampioper
Editor :
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Setelah tujuh tahun kuliah di Fakultas Fisika dan Astronomi di Universitas Florida, fisikawan Papua ini meraih gelar PhD  Fisika Astronomi dengan predikat cum laude pada 14 Agustus 2018 di Universitas Florida, Amerika Serikat. Dialah Marianette Octovina Wospakrik.

Ia selanjutnya mendapat kesempatan bekerja di  Fermi National Accelerator Laboratory (Fermilab) Batavia, Illinois dekat Chicago, Illinois. Fermilab merupakan Laboratorium Nasional Departemen Energi Amerika Serikat

Ia memperoleh gelar sarjana fisika dari ITB dan selanjutnya bekerja di PT Freeport Indonesia. Ia kemudian meneruskan studi master dan doctor di Faklutas Fisika dan Astronomi di Universitas Florida Amerika Serikat.

Dikutip dari pictaramci.com rekan-rekannya yang tergabung dalam MINERvA Neutrino [email protected] menulis, Maya Wospakrik became the first female Indonesia student to graduate with a Physics PhD in University of Florida UF. She also became the first Indonesia postdoc hired by Fermilab! Her thesis was on the MINERvA experiment measuring Neutrino Deep Inelastic Scattering DIS crosssections on different nuclear targets. Here she is with her mother at her graduation in UF. We also so proud of her!!

#WomeninSTEM#neutrino#fermilab#PROUD#womenempowerment#womeninscience#physics#womenphysics

Adik kandung dari Willy Wospakrik ini bisa melanjutkan studinya setelah mendapat  bea siswa dari Fulbright Amerika Serikat sejak 2011 lalu.

Selama belajar di Universitas Florida, Maya Wospakrik mendapat bimbingan langsung dari Prof Dr Heather Ray, ahli fisika neutrino eksperimen hingga meraih gelar doctor dan memperdalam bidang yang sama neutrino sesuai dengan disertasinya.

Musim panas 2015, perempuan kelahiran Bandung 32 tahun itu mulai bergabung dalam grup Prof Dr Heather Ray dan giat berdiskusi soal neutrino.

Mengutip laman resmi Fakultas MIPA jurusan Fisika Astronomi, Universitas Florida, Prof Dr Heather Ray, menyebutkan bahwa MINERvA adalah percobaan neutrino pertama di dunia yang menggunakan sinar intensitas tinggi untuk mempelajari reaksi neutrino dengan lima nukleus yang berbeda, menciptakan perbandingan interaksi mandiri pertama dalam elemen yang berbeda. Sementara jenis penelitian ini sebelumnya telah dilakukan menggunakan berkas elektron, ini adalah yang pertama untuk neutrino.

Lebih lanjut jelas Ray bahwa MINERvA juga menyediakan pengukuran interaksi neutrino terbaik dan terbaik di dunia pada berbagai inti, dalam rentang energi 1 hingga 10-GeV. Hasil MINERvA digunakan sebagai masukan untuk eksperimen saat ini dan masa depan yang berusaha mempelajari osilasi neutrino, atau kemampuan neutrino untuk mengubah jenisnya.

Pengukuran interaksi neutrinoMINERvA menurut Ray juga telah memberikan informasi tentang struktur proton dan neutron dan dinamika gaya kuat yang mempengaruhi interaksi neutrino-nukleon. Penelitian nuklir ini melengkapi upaya yang sedang berlangsung di laboratorium lain yang mempelajari bagaimana elektron berinteraksi dengan inti.

MINERvA, kata Ray, sangat unik dalam bidang eksperimen neutrino, karena kombinasi dari desain detektor ringkasnya, penggunaan salah satu sinar neutrino berintensitas tertinggi di dunia, dan kedekatan detektor dengan sinar. Ini memberikan banyak contoh interaksi neutrino, memungkinkan kolaborasi untuk melakukan pengukuran interaksi presisi tinggi di berbagai energi neutrino dan bahan target.

Memahami sifat neutrino dan kekuatan yang mengatur perilaku, kata Ray, bisa memungkinkan fisikawan untuk menggunakannya sebagai alat untuk memahami inti kerja dan berpotensi membantu membuka misteri materi gelap, energi gelap, dan bagaimana materi mendominasi antimateri di alam semesta, memungkinkan pembentukan planet dan manusia.

Mengapa mempelajari neutrinos?

Neutrino adalah partikel yang paling melimpah di alam semesta. Sekitar 100 triliun neutrino melewati tubuh Anda setiap detik tanpa berinteraksi dengan salah satu partikel di tubuh Anda. Anda tidak pernah memperhatikan mereka. Kombinasi dari kehadiran hantu dan peran penting neutrino yang bermain di alam semesta memikat fisikawan.

Neutrino berperan dalam banyak aspek mendasar dari kehidupan kita; mereka diproduksi dalam proses fusi nuklir yang menggerakkan matahari dan bintang, mereka diproduksi di peluruhan radioaktif yang menyediakan sumber panas di dalam planet kita, dan mereka diproduksi dalam reaktor nuklir. Neutrino diyakini menjadi unsur penting dalam sebuah bintang proses supernova.

Ledakan-ledakan ini menyebarkan unsur-unsur berat di seluruh ruang angkasa, unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menciptakan alam semesta tempat kita hidup. Neutrino juga menyediakan alat untuk mempelajari struktur nukleon (proton dan neutrino), untuk mempelajari bagaimana materi berevolusi dari partikel-partikel sederhana menjadi komposit yang lebih kompleks. Partikel, menciptakan segala sesuatu di sekitar kita.

Sebelum fisikawan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan memahami peran neutrino dengan lebih baik dalam evolusi alam semesta kita, mereka harus lebih memahami bagaimana neutrino berinteraksi dengan partikel lain. Eksperimen seperti MINERvA sedang dilakukan untuk secara tepat mencirikan berbagai jenis interaksi neutrino, dan untuk mempelajari proses fisik yang mengatur interaksi ini.

Data MINERvA akan sangat bermanfaat untuk eksperimen neutrino seperti MINOS, NOvA, dan LBNE yang mempelajari bagaimana neutrino berosilasi atau mengubah jenis. Dengan menawarkan penjelasan yang lebih rinci tentang bagaimana neutrino berinteraksi dalam detektor, eksperimen ini dapat mengukur detail osilasi neutrino dengan presisi tinggi.

Melalui kombinasi data dari eksperimen neutrino berenergi rendah energi dan energi tinggi, fisikawan bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana neutrino berperilaku dan peran mereka di alam semesta kita.

Bekerja di Fermilab

Marianette Octovina Wospakrik satu-satunya fisikawan Indonesia yang bekerja di Fermi National Accelerator Laboratory (Fermilab). Laboratorium ini terletak di Batavia, Illinois dekat Chicago. Fermilab merupakan Laboratorium Nasional Departemen Energi Amerika Serikat mengkhususkan dalam fisika partikel energi tinggi, dioperasikan untuk Departemen Energi oleh Universities Research Association (URA).

Laman resmi Fermilab menyebutkan URA merupakan sebuah konsorsium dari 90 universitas terdepan berorientasi riset terutama di Amerika Serikat, dengan anggota lain di Kanada, Jepang, dan Italia.

Lembaga ini berdiri pada 1967 sebagai Laboratorium Pemercepat Nasional, selanjutnya pada 1974 nama ini diubahnya menjadi Enrico Fermi fisikawan Amerika kelahiran Italia untuk menghormatii Enrico Fermi.

Pernyataan Enrico Fermi yang terkenal pada dinding bangunan bagian barat stadion olahraga Stagg Filed Universitas Chicago, Amerika Serikat terpampang prasasti bersejarah berbahan perunggu bertuliskan, On Desember 2, Desember 1942 man achieved here the first self-sustaining chain reaction and thereby initiated the controlled release of nuclear energy.

Terjemahannya oleh Dr Hans Wospakrik dalam buku berjudul Dari Atomos Hingga Quark menjelaskan pernyataan Fermi antara lain, Di sini pada 2 Desember 1942, manusia berhasil mengendalikan reaksi berantai pertama dan dengan demikian memprakarsai usaha pembebasan tenaga inti (atom) secara terkendali.”

Mendiang Dr Hans Wospakrik adalah ayah kandung Maya Wospakrik juga merupakan pakar fisika yang mengajar fisika di ITB  dan sekaligus peneliti. Beliau sudah beberapa kali menulis di jurnal ilmu pengetahuan internasional, antara lain Physical Review, Journal of Mathematical Physics,International Journal of Modern Physics, dsb.

Buku terakhir yang telah disumbangkannya kepada anak bangsa di Indonesia berjudul “Dari Atomos Hingga Quark”.

Setelah Dr Hans J Wospakrik meninggal pada 11 Januari 2005 di RS Dharmais Jakarta, praktis ibu kandungnya Regina Wospakrik Sorontouw yang mendidik dan membesarkan kedua anaknya Willy Wospakrik dan Maya Wospakrik. Keduanya berhasil menyelesaikan gelar sarjana Matematika dan sarjana Fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Regina Wospakrik sehari-hari bekerja sebagai seorang bidan di Kilnik bersalin swasta di Bandung dan tambahan biaya pensiun dari suaminya sebagai dosen ITB mampu mendidik keduanya hingga mandiri. Bahkan saat wisuda di Universitas Florida, ibu Regina Wospakrik tampil menemani putri kandungnya Marianette Octovina Wospakrik di sana. Sedangkan Willy Wospakrik (34 tahun) abang kandung, Maya tetap menekuni pekerjaannya sebagai karyawan bank di Jakarta. (*)

loading...

Sebelumnya

Sukseskan program “Menghadap ke Laut”, masyarakat Raja Ampat gelar aksi bersih-bersih laut

Selanjutnya

Pekikan merdeka di hutan bakau

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe