Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Tahun ini, tujuh situs diteliti balai arkeologi Papua
  • Selasa, 21 Agustus 2018 — 18:33
  • 593x views

Tahun ini, tujuh situs diteliti balai arkeologi Papua

Melalui penelitian ini, pihaknya ingin memberikan ilmu pengetahuan masa lampau untuk dipelajari masa kini.
Suasana  kegiatan di Balai Arkeologi Papua - (Jubi/Hengky Yeimo)
Hengky Yeimo
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

 

Jayapura, Jubi – Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika mengatakan, di tahun 2018 pihaknya telah dan akan melakukan  penelitian di tujuh situs arkeologis di Tanah Papua.

Pertama, kajian mengenai manusia Austronesia di Kabupaten Nabire, kedua penelitian pola tata ruang situs gunung Srobu, ketiga jejak budaya Austronesia di Raja Ampat. Keempat Penelitian okupasi hunian di Teluk Berau di Kabupaten Fak-fak, kelima gambaran situs gua prasejarah Kabupaten Keerom, keenam determinasi lingkungan benteng Fort Du Bus Kabupaten Kaimana dan terakhir  jejak hunian awal prasejarah di kawasan Danau Sentani.

Gusti Made Sudarmika, kepala Balai Arkeologi Papua,  mengatakan, dari tujuh situs  itu,  empat di antaranya sudah diteliti. Sedang sisanya masih dalam tahap penelitian.“Kami sudah melakukan penelitan di Danau Sentani kedua di wilayah Keerom, ketiga sekaran daerah Fakfak Teluk Berau. Sedang berlangsung, pola tata ruang situs Gunung Sorobu Kota Jayapura," Katanya. 

Sedangkan  tiga obyek yang masih  diteliti, yakni Kaimana, Nabire dan FAK-Fak,” katanya kepada Jubi, Selasa (21/8/2018).

Khusus penelitian situs Megalitik, mereka masih berkonsentrasi di Jayapura Doyo Lama Tutari dan wilayah Gunung Sorobu. 
"Apabila di tempat lainnya ada, bisa menghubungi balai,  agar tim turun melakukan penelitian di sana. 

Melalui penelitian ini, pihaknya ingin memberikan ilmu pengetahuan masa lampau untuk dipelajari masa kini.

"Apabila kita tidak melakukan  ini, maka generasi muda kita akan kehilangan jati diri. Kemana mereka mau berpijak,” katanya.

Gusti  mengatakan,  begitu penelitian dirampungkan, maka situs tersebut bisa dihibahkan kepada pemerintah daerah untuk mengelolanya. “Harapan kami apabila sudah jelas dikelola oleh daerah. Kerja sama dapat kita tingkatkan,” katanya.

Sementara itu, Klementin Fairyo, panitia penyelenggara mengatakan sumberdaya arkeologi tinggalan sejarah kolonial, merupakan salah satu aset yang memiliki potensi besar dalam gerak langkah suatu bangsa. 

“Selain menjadi sumber panggilan jati diri perekat satu generasi dengan generasi berikutnya, juga dapat dijadikan sebagai produk identitas kebinekaan,” katanya.(*)
 

loading...

Sebelumnya

Jelang Idul Adha, puluhan dokter dan petugas pantau kesehatan hewan

Selanjutnya

Dituding tak beri pemasukan daerah, Solpap minta Pemerintah turun langsung

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe