PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Meepago
  3. Dinas P dan K diminta perhatikan nasib guru honorer di Meepago
  • Rabu, 23 November 2016 — 09:06
  • 1154x views

Dinas P dan K diminta perhatikan nasib guru honorer di Meepago

Kekurangan guru terjadi akibat banyak tenaga pengajar bertumpuk di satu tempat, telah tiba masa pensiun, kebutuhan guru yang memang belum mencukupi, serta sekolah yang bertambah.
Para guru SD se-Kabupaten Dogiyai yang melakukan aksi di halaman kantor Dinas P&K Dogiyai 25 April 2016 menuntut gaji mereka agar segera dibayarkan – Jubi/Philemon Keiya
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Zely Ariane

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi -  Salah seorang mahasiswa PGSD Timika asal Dogiyai, Marinus Dimi mengatakan sekolah-sekolah yang ada di wilayah Meepago banyak yang terancam ditutup, karena guru yang tidak masuk mengajar di ruang kelas.

Menurut dia hal itu terjadi karena bagi guru yang sudah pegawai negeri sipil (PNS) merasa diri sudah pasti terima gaji sekalipun tidak masuk mengajar.

Bagi Dimi, sekolah-sekolah itu masih ada harapan ‘hidup’ berkat guru honorer. “Ada guru honor, maka sekolah-sekolah di Meepago itu ada. Jika tidak ada guru honorer, berarti sekolah-sekolah yang ada di Meepago itu ditutup sejak dulu,” kata Dimi kepada Jubi di Jayapura, Senin (21/11/2016) lalu.

Hal itu dialaminya sendiri saat menjadi guru honorer di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Dogiyai. Kata dia, sebagai guru honorer sudah berada di sekolah tepat  pukul 07.00 WP sedangkan yang PNS datang lebih dari pukul 08.00 WP.

“Waktu itu (ketika mengajar) saya selalu aktif karena diriku merasa kasihan pada adik-adik (siswa/i), karena mereka adalah aset perubahan Kabupaten Dogiyai untuk 20 tahun mendatang. Saya mengajar tanpa imbalan dari kepala sekolah dan dinas terkait, tetapi saya terus mengajar karena diriku ingin mempertahankan sekolah tempat saya melaksanakan tugas, dari pada ditutup hanya karena keterlambatan dan ketidakhadiran tenaga pengajar,” tuturnya.

Dia menyarankan kepada instansi terkait untuk memperhatikan guru honorer di setiap sekolah di empat kabupaten yang ada di wilayah adat Meepago, mulai tingkat TK, SD, SMP hingga SMA/SMK.

“Terkait dengan penggajian bagi guru honorer itu harus pikir baik, karena guru honor lah yang aktif. Agar semangat mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah lebih meningkat,” kata dia.

“Bila perlu, harus gajikan guru honorer setiap bulan dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang selalu diambil empat kali setahun per sekolah itu,” tegas Dimi.

Terpisah, Sekretaris P& K Papua, Protasius Lobya mengatakan untuk mengatasi kekurangan guru di Papua, pihaknya akan menggelar rapat kordiansi (Rakor) di Yogyakarta untuk perencanaan kebutuhan guru.

“Setelah itu hasilnya akan kami publikasikan. Kalau (tenaga guru) di Kota Jayapura (sudah) memenuhi. Tapi, yang belum itu daerah pegunungan. Jadi sebelum dibuka sekolah, sarana prasarana harus dihitung dengan guru juga,” ujar Lobya.

Lanjutnya, kekurangan guru terjadi akibat banyak tenaga pengajar bertumpuk di satu tempat, telah tiba masa pensiun, kebutuhan guru yang memang belum mencukupi, serta sekolah yang bertambah.

“Efek dari itu kami perkirakan membutuhkan 700 (guru) untuk SD, SMP, SMA dan SMK dengan perhitungan akan banyak yang pensiun,” pungkasnya. (*)

Sebelumnya

KPU Dogiyai tunggu keputusan PTUN Makassar

Selanjutnya

Bupati Kayame terima Tim Ad Hoc kasus Paniai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua