Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Jayapura diprediksi krisis air dalam lima tahun mendatang
  • Senin, 10 September 2018 — 22:20
  • 1139x views

Jayapura diprediksi krisis air dalam lima tahun mendatang

Hal ini disebabkan oleh banyaknya penebangan liar yang dilakukan masyarakat di daerah tangkapan air yang berada di hulu.
Danau Sentani dengan latar belakang gunung siklop - Jubi /Engel Wally.
Roy Ratumakin
Editor : Edho Sinaga
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura, Entis Sutisna mengatakan, lima tahun ke depan Kota Jayapura dan sekitarnya diprediksi mengalami krisis air. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penebangan liar yang dilakukan masyarakat di daerah tangkapan air yang berada di hulu.

“Sumber air yang digunakan PDAM Jayapura saat ini semuanya merupakan air permukaan atau sungai. Sumber air tersebut memiliki daerah tangkapan air di pegunungan Cycloop. Untuk itu, pegunungan Cycloop yang merupakan hutan tersebut sangat penting dan perlu dijaga kelestariannya,” kata Entis Sutisna kepada Jubi, Senin (10/9/2018).

Dikatakan Entis, kuantitas aliran sungai yang ada sangat tergantung dari tingkat kelestarian daerah tangkapan air Cycloop. Saat ini, secara kuantitas, terasa adanya penurunan kapasitas terutama pada periode musim kemarau. Padahal, sebelumnya potensi sumber air yang digunakan PDAM memiliki kapasitas yang cukup baik.

“Saat ini jumlah kapasitas terpasang atau produksi normal adalah 895 liter per detik dengan jam operasi rata-rata 16 jam per hari, namun saat ini mengalami penurunan sebanyak 50 persen atau 477 liter per detik,” ujarnya.

Entis Sutisna merinci jumlah tersebut menjadi beberapa sumber. Menurutnya dari total 895 liter per detik semua berasal dari sumber air baku di Anafre sebanyak 60 liter per detik, APO/Bhayangkara 20 liter per detik, Klofkamp/Ajen 90 liter per detik, Kali Kamp 60 liter per detik, Entrop 90 liter per detik, Borgonji 50 liter per detik, Dejavu 270 liter per detik, Kamp Wolker 110 liter per detik, Keerom 25 liter per detik, Buper 30 liter per detik, Post VII Atas 50 liter per detik, Pos VII Bawah 20 liter per detik dan Nanggubu 20 liter per detik.

“Paling parah adalah ketika musim kemarau bisa turun kapasitas airnya rata-rata 46 persen, dan ini bisa lebih turun lagi. Kalau pada saat musim hujan justru terjadi peningkatan kekeruhan air,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal ini, pihaknya akan menjadikan air Danau Sentani yang berada di Kabupaten Jayapura sebagai pasokan air alternatif.

“Air danau ini sudah melewati kajian dari beberapa tahun yang lalu dan air tersebut layak untuk dikonsumsi jika diolah dengan baik,” ujarnya.

Dikatakan, di pinggiran Danau Sentani sekitar daerah Jembatan Dua–Kabupaten Jayapura memiliki kandungan logam yang sangat tinggi. Namun, jika sampai pada kedalaman 300 meter, kandungan logam tersebut sudah tidak ada lagi.

“Akan kita pasang pipa-pipa air ini dengan kedalaman lebih dari 300 meter agar lebih aman, jika Danau Sentani akan dijadikan alternatif air bersih untuk warga setempat,” katanya.

Entis menambahkan, air dari Danau Sentani tersebut tidak langsung bisa dikonsumsi tetapi harus melalui Water Treatment Plant (Instalasi pengelolaan air minum).

“Pada umumnya, sumber air untuk pengolahan air bersih pada bangunan intake biasanya terdapat bar screen yang berfungsi untuk menyaring benda-benda yang ikut tergenang dalam air. Selanjutnya, air akan masuk ke dalam sebuah bak yang nantinya akan dipompa ke bangunan selanjutnya, yaitu WTP. Untuk danau Sentani kita bisa dapat 800 liter per detik,” ujarnya.

Aktivis Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Dian Wasaraka mengatakan, di wilayah Kota Jayapura tersisa tiga sumber air bersih, yakni Kamp Wolker di Distrik Heram, sekitar kantor wali Kota Jayapura di Entrop, dan daerah Angkasa.

“Semua sudah dirambah, daerah Kamp Wolker yang selama ini menjadi harapan satu-satunya mulai diganggu. Setiap hari kebutuhan air bersih meningkat, namun debit air semakin menurun,” kata Dian kepada Jubi belum lama ini di Jayapura.

Krisis air bersih yang kini mengancam warga Kota Jayapura dan sekitarnya kata Dian, tak bisa dibiarkan. Solusi jangka pendek dan jangka panjangnya harus dipikirkan. Untuk jangka pendek, pihak terkait diminta membenahi infrastruktur atau pipa penyalur air bersih yang sudah rusak serta terus menyuarakan kepada masyarakat pentingnya sikap hemat menggunakan air bersih.

Sementara solusi jangka panjang, Dian mengungkap pentingnya langkah nyata mencegah makin maraknya perambahan di kawasan hutan lindung atau area tangkapan air. Pemerintah harus tegas, daerah tangkapan air tidak boleh dirambah.

“Sekarang ini kan lemah. Tidak ada ketegasan. Memang ada undang-undang yang mengatur kawasan hutan lindung, tapi di Papua setahu saya belum ada peraturan daerahnya,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Walhi minta Pemerintah tegas beri sanksi pelanggar izin dan pemulihan kawasan

Selanjutnya

“Pencurian” burung berujung di meja hijau

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe