Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Lima klan di Keerom punah
  • Selasa, 11 September 2018 — 10:17
  • 1105x views

Lima klan di Keerom punah

Lima klan di Kabupaten Keerom, Papua punah karena berbagai faktor, termasuk masalah pangan, gizi, dan pelayanan kesehatan. Beberapa lainnya terancam punah. Pemerintah diminta cepat tanggap mencari solusi.
Masyarakat asli Keerom menampilkan Tari Dewa pada Festival Budaya Keerom – Jubi/Piter Lokon
Piter Lokon
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KABUPATEN Keerom, Provinsi Papua merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Jayapura pada 11 November 2002. Secara geografis wilayah Keerom yang luasnya 9.365 km persegi berbatasan memanjang dengan Papua New Guinea (PNG).

Selain itu juga berbatasan dengan Kota Jayapura, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Jayapura. Pada 2006 Kabupaten Keerom memiliki tujuh distrik dan 61 kampung. Ketujuh distrik adalah Arso, Waris, Senggi, Skanto, Waris, Arso Timur, dan Distrik Web.

Pusat Kabupaten Keerom dapat dijangkau satu-satunya melalui tranportasi darat dari Kota Jayapura selama setengah jam hingga satu jam perjalanan, baik dengan sepeda motor maupun mobil.

Distrik Arso, Skanto, dan Waris dapat dijangkau mobil dan sepeda motor hingga ke kampung-kampung. Distrik Senggi, Arso Timur, dan Web dapat ditempuh dengan mobil dan sepeda motor hingga ke pusat distrik dan sebagian kecil kampung. Khusus untuk Distrik Towe hanya dapat ditempuh dengan pesawat dan untuk mencapai kampung-kampung harus berjalan kaki.

Pekan lalu media nasional memberitakan lima suku di Kabupaten Keerom telah punah dan warisan mereka dinikmati suku atau klan lain.

Ketua Dewat Adat Skamto, Didimus Warare, di Keerom menyebutkan lima suku di daerahnya sudah punah. Kelima suku adalah Suku Yaper, Suku Bagi, Suku Tu, Suku Totar, dan Suku Tagusom. Warisan kelima suku terpaksa dikembalikan kepada ikatan kampung Kimbramoro

"Keluarga Kimbramoro di Kampung Kimbramoro yang ambil marga itu, lalu mereka lihat siapa yang dekat dengan suku itu akan pakai marga tersebut," ujarnya.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Keerom, Serfo Tuamis, menjelaskan ada lima klan yang hilang dari Suku Awi yang tinggal di Distrik Skanto. Namun klan yang tinggal di distrik lain masih ada.

“Distrik lain masih ada (mereka), namun kami belum dapatkan data, di Keerom ada enam suku besar, Kuadrap, Manem, Marat, Awi, Malwak, dan Imanggi,” katanya.

Sebagai ketua LMA, Tuamis mengaku sudah memanggil Dewan Adat Skanto dan sudah melakukan pertemuan.   

“Yang hilang (punah) dari suku Awi ada lima klan. Sebelumnya ada 5-20 orang di satu klan, namun satu persatu mereka meninggal, jadi terakhir habis sesuai laporan,” katanya.

Suku terakhir punah, katanya, adalah Klan Tagusom. Warisan tanah adat mereka kini dikuasai klan lain di perdampingan.

Menurut Tuamis, penyebabnya kepunahan klen tersebut karena masalah perkawinan, selain pelayanan kesehatan yang minim.

“Tentang perkawinan, mereka kawin satu atau dua, kemudian tak ada lagi perkawainan sehingga punah. Sedangkan jangkauan kesehatan walaupun dana besar dan ada perawat ke kampung-kampung, namun tidak maksimal,” katanya kepada Jubi, 6 September 2018.

Menurut Dosen Antorpologi Universitas Cenderawasih (Uncen), Jack Morin, kepunahan beberapa suku di Kabupaten Keerom tidak hanya terjadi di Distrik Skanto, tetapi juga di Distrik Towe. Di sana marga Pul, Komond, Yebgeb, Wemi, Songge, Mente, Kombe, dan Wuva populasinya hampir punah, karena hanya tinggal satu hingga tiga orang.

“Ada beberapa faktor krusial sebagai penyebab, seperti sistem mata pencarian hidup, pengolahan dan penyajian makanan, pendidikan, dan kesehatan, yang harus diperhatikan semua pihak seperti pemerintah, gereja, dan lainnya,” kata Jack Morin kepada Jubi, Selasa 4 September 2018.

Terkait mata pencarian, kata Morin, ketika orang Towe di Keerom pindah ke pemukiman baru, kebiasaan mereka meramu sagu bermasalah karenan dusun sagu jauh jauh. Akibatnya mereka menderita kelaparan.

Jika persediaan sagu keluarga telah habis, biasanya mereka memanfaatkan sukun, buah merah (buah pandan), dan pisang sebagai makanan pokok karena tersedia di kebun-kebun mereka yang dekat dengan tempat tinggal.

“Jika persediaan makanan cukup biasanya orang Towe makan tiga kali sehari atau bahkan lebih, tetapi ketika persediaan makanan berkurang mereka hanya makan sekali dalam sehari, jenis makanan pun beralih dari sagu ke sukun, buah merah, dan pisang,” katanya.

Selain makanan, jelas Morin, juga masalah pelayanan kesehatan. Ada sebuah puskesmas pembantu di Distrik Towe dengan seorang perawat orang setempat. Namun karena petugasnya jarang di tempat, banyak warga terserang berbagai penyakit tidak diobati.

Akibatnya mereka masih melakukan pengobatan tradisional, selain dengan ramuan tradisional, terkadang untuk sakit “dalam” melakukan pengobatan magis atau supranatural.

“Pola pengobatan seperti ini tentu saja menyebabkan status kesehatan masyarakat Towe menjadi rendah dan angka kematian karena penyakit juga cukup tinggi, ini menyebabkan pertumbuhan populasi penduduk Towe sangat lambat dan cenderung ke arah kepunahan,” katanya.

Morin juga menyorot masih adanya kepercayaan terhadap whichcraft (suanggi) pada masyarakat Towe sebagai masalah lain.

“Selain karena kekurangan gizi, status kesehatan rendah, pola pengobatan yang jelek, pelayanan kesehatan modern belum ada, juga karena kepercayaan terhadap whichcraft (suanggi), yaitu suatu kepercayaan yang menghubungkan suatu peristiwa yang menimpa seseorang karena sakit keras dengan kekuatan gaib yang dimiliki orang lain untuk mencelakakan,” ujarnya.

Anehnya, lanjutnya, orang yang dituduh memiliki whichcraft (suanggi) adalah  perempuan. Para perempuan yang dituduh whichcraft akan diadili dan kemudian dihukum dengan membunuh mereka di hutan.

“Pengurangan populasi penduduk akibat gizi buruk dan kepercayaan pada whichcraft dan juga dipengaruhi pola melahirkan yang beresiko sangat tinggi pada kematian ibu dan anak menjadi penyebab kepunahan,” katanya

Ia minta pemerintah segera mencari solusi penanganan suku-suku di Keerom jika tidak mau melihat kehilangan salah satu suku bangsa di Papua. (*)

loading...

Sebelumnya

Melihat dari dekat pasar tradisional PNG di tapal batas

Selanjutnya

Dampak anjloknya rupiah di Pasar Skouw

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe