Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Sumatera
  3. Produsen mie di Pekanbaru mulai rasakan pelemahan rupiah
  • Rabu, 12 September 2018 — 23:36
  • 819x views

Produsen mie di Pekanbaru mulai rasakan pelemahan rupiah

Karena tepung terigu dan gandum sebagai bahan baku utama masih impor.
Produksi mie, pixabay.com
ANTARA
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Pekanbaru, Jubi  - Para produsen mie di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, mulai merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hal itu dirasakan karena tepung terigu dan gandum sebagai bahan baku utama masih impor.

"Bahan baku tepung terigu semuanya impor, karena Indonesia tidak ada gandum. Tidak ada sejarahnya mie dibuat selain dari tepung gandum," kata pemilik pabrik mie Tenaga Muda, Welly Gunawan, Rabu, (12/9/2018).

Tenaga Muda adalah industri mie skala usaha kecil dan menengah yang produksinya terbesar di Kota Pekanbaru. Perusahaan itu mampu memproduksi dua ton sehari. Usaha yang sudah ada sejak 1970 itu  mayoritas konsumennya adalah UMKM seperti penjual bakso, mie ayam dan restoran.

“Kami mempekerjakan sekitar 20 orang dan menyuplai kebutuhan mie basah di Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Kampar,” kata Welly menambahkan.

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar, dirasakan sejak bulan Agustus 2018. Tercatat sebelumnya harga terigu per karung dengan berat 25 kilo gram Rp 127 ribu, atau sekitar Rp 5 ribu per kilo, kini sudah naik menadi Rp 133 ribu per karung  atau Rp 5.320 per kilo gram.

"Kami paham kenaikan ini karena terigu adalah barang impor terkena pengaruh dolar, mau komplain apa lagi," ujar Welly menjelaskan.

Ironisnya kenaikan bahan baku terigu itu tak bisa diimbangi dengan menaikan harga jual mie basah yang kini dibandrol Rp 8 ribu per kilo gram. Ia hanya menaikan harga terakhir sekitar setahun lalu dari harga sebelumnya Rp7.500 per kilo gram. Sedangkan untuk mie ayam kini berkisar Rp 11 ribu hingga Rp13 ribu per kilo gram.

"Kami  sangat hati-hati, tidak bisa menaikan harga karena khawatir ditingga; pelanggan. Selama kami masih bisa menggaji karyawan, itu sudah cukup," katanya.

Ia mengharap pemerintah bisa menurunkan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah agar barang impor bisa lebih murah. Industri mie masih bisa menahan untuk tidak menaikan harga selama tidak terjadi kenaikan harga lainnya yang bisa mempengaruhi produksi, seperti tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Data Asosiasi Produsen Tepung Terigu (Aptindo), menunjukan impor gandum pada 2018 meningkat sekitar 5 hingga 6 persen dibandingkan tahun lalu, atau mencapai sekitar 9 juta ton. Tahun lalu, impor gandum mencapai 11,3 juta ton, sebanyak 8,5 juta ton untuk tepung terigu dan sisanya untuk pakan ternak.

Sementara itu, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pada Rabu (12/9/2018) berada pada level Rp14.885. (*)

loading...

Sebelumnya

Tekan impor, masyarakat di Yahukimo dibekali cara bercocok tanam

Selanjutnya

Walhi Papua dan Papua Barat: Stop sawit demi pelestarian hutan Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe