Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Walhi Papua dan Papua Barat: Stop sawit demi pelestarian hutan Papua
  • Kamis, 13 September 2018 — 08:44
  • 1006x views

Walhi Papua dan Papua Barat: Stop sawit demi pelestarian hutan Papua

Dia mendapatkan dengan adanya pelestarian dan larangan bagi masuknya investasi perkebunan kelapa sawit yang mengubah hutan menjadi kebun bisa memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk mengembangkan wilayah hutannya sebagai areal ekowisata.
Alex Waisimon saat diwawancarai di Manila, Filipina - Jubi/http://ppid.menlhk.go.id
Dominggus Mampioper
Editor :
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KETUA Walhi Papua dan Papua Barat, Aies Rumbekwan, menilai penghargaan yang diterima Alex Waisimon sebagai pahlawan keanekaragaman hayati Asean dari Indonesia patut mendapat perhatian dari semua pihak.

“Hanya saja jangan memberikan penghargaan tetapi terus mengeluarkan izin bagi perkebunan kelapa sawit di Papua. Pasalnya, Alex Waisimon menjaga pohon dan hutan sebagai rumah tinggal bagi burung Cenderawasih dan habitat hidup lainnya,” kata Rumbekwan saat dihubungi Jubi, Rabu (12/9/2018).

Dia mendapatkan dengan adanya pelestarian dan larangan bagi masuknya investasi perkebunan kelapa sawit yang mengubah hutan menjadi kebun bisa memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk mengembangkan wilayah hutannya sebagai areal ekowisata.

“Kita berharap ada banyak Alex Waisimon lainnya di seluruh Papua untuk tetap menjaga dan melestarikan alamnya dengan berbagai jenis flora dan faunanya,” kata Rumbekwan, seraya menambahkan kebijakan pemerintah untuk tidak lagi membuka hutan baru bagi investasi justru akan memberikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk secara arif memanfaatkan potensi alamnya.

Sementara itu, pemerhati lingkungan dan peneliti kayu sowang dari Fakultas MIPA jurusan biologi Universitas Cenderawasih, Sri Wilujeng, PhD mengatakan upaya yang dilakukan Alex Waisimon patut mendapat dukungan dari semua pihak karena tak bisa berjalan sendiri-sendiri.

“Apalagi di Papua ini keanekaragaman hayatinya sangat tinggi tetapi belum semua yang terindentifikasi nama-nama ilmiahnya dan masih menggunakan nama-nama lokal Papua. Celakanya, di Papua pembangunan terus digalakkan sehingga dikhawatirkan keanekaragaman hayati yang belum terindentifikasi akan punah,” katanya.

Peneliti kayu sowang itu mengingatkan agar ada keseimbangan dalam pembangunan yang begitu pesat  dan tidak mampu beradaptasi serta bukan hanya Alex Waisimon sendiri yang menjaga tetapi semua pihak termasuk mereka yang datang dari luar Papua.

“Saya salut dengan penghargaan Pak Alex dan berharap agar banyak lagi penyelamat lingkungan di Papua seperti Pak Alex. Saya harap ada Alex-alex lainnya agar hutan dan mikroorganisme di Papua selamat,” katanya saat dihubungi Jubi, Rabu (12/9/2018) malam.

Sri Wilujeng yang juga akademisi pada program studi Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, Bandung, Jawa Barat, mengatakan kalau pohon bagi burung adalah tempat bersarang dan bermain bagi mereka.

“Salut untuk Pak Alex Waisimon,” kata peneliti kayu sowang, saat masih menjadi  staf pengajar program studi Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) Universitas Cenderawasih, Papua.

Pahlawan keanekaragaman hayati ASEAN

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 5 September 2018, dalam press release-nya yang diterima Jubi menyebutkan gelar Pahlawan Keanekaragaman Hayati ASEAN (The Asean Biodiversity Heroes/ABH) dari ASEAN Center for Biodiversity (ACB) ditujukan bagi seseorang dari negara-negara ASEAN yang telah berjasa dalam upaya konservasi dan advokasi keanekaragaman hayati di negara mereka masing-masing.

Para pahlawan akan menjadi wajah konservasi keanekaragaman hayati di kawasan ASEAN dan individu yang dapat menginspirasi orang lain untuk terlibat melestarikan keanekaragaman hayati di lingkungan mereka sendiri.

Alex Waisimon asal Papua - Indonesia adalah satu dari 10 The Asean Biodiversity Heroes. Pria enam puluh tahun ini telah berkontribusi penting bagi kampung halamannya di Rhepang Muaif Unurum, Distrik Guay Nimbokrang, Kabupaten Jayapura dalam melindungi hutan, melestarikan burung Cenderawasih, sekaligus berperan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui program ekowisata bird watching.

“Indonesia sesungguhnya negara yang kaya akan keanekaragaman hayati. Sekitar 750 species burung ada di Papua. Selain itu, Indonesia juga punya local knowledge, di mana masyarakat adat adalah kekayaan bangsa,” ungkap Alex, saat memberikan testimoni pada acara Asean Biodiversity Heroes Regional Forum di Manila, Filipina. 

Daerah Rhepang Muaif tempat Alex tinggal, merupakan kawasan hutan yang menjadi rumah bagi 84 spesies burung dari 31 famili. Bahkan dikategorikan sebagai Daerah Burung Penting karena menyediakan perlindungan bagi lima spesies yang terancam punah termasuk Casuarius Unappendiculatus, Harpyopsis Novaeguineae, Goura Victoria, Psittaculirostris Salvadorii, dan Epimachus Bruijnii. Tempat ini juga populer sebagai rumah burung cenderawasih. Enam spesies burung cenderawasih dari keluarga Paradisaeidae dapat ditemukan di daerah ini. 

Berbagi cerita konservasi dengan siswa dari berbagai lembaga akademis di Filipina, profesional muda, media, dan peserta dari negara anggota ASEAN, Alex mengatakan dengan berbekal pengalaman kerja di Red Cross Asia Pacific dan International Labour Organization, sebagai koki di Restoran Italia di Hamburg, dan pengalamannya menjadi pemandu wisata di Bali, Alex memutuskan untuk kembali ke Papua pada tahun 2014. Dia berupaya mengejar mimpinya untuk menyediakan sumber mata pencaharian bagi masyarakatnya.

Penerima Kalpataru tahun 2017 ini mengembangkan program ekowisata berkelanjutan yang menampilkan burung Cenderawasih surga. Bagi Alex, kunci ekowisata adalah memetik manfaat dari hutan tanpa merusaknya dan memastikan bahwa generasi mendatang masih akan menikmati kesempatan untuk melihat hutan dan keanekaragaman hayati yang dilindunginya.

Meskipun di awal ada penolakan dari penduduk desa, Alex tetap mengejar program ekowisata berkelanjutannya. Pada bulan Agustus 2016, Alex berhasil meyakinkan dan menerima dukungan dari sembilan kepala suku untuk mengelola hutan seluas 19.000 hektar sebagai daerah ekowisata yang berkelanjutan, dan kemudian bertambah menjadi 98.000 hektar. 

“Ada sembilan kepala suku yang disatukan. Saya dekati mereka dengan filosopi, tidak boleh kasih habis, ambil lain tinggalkan yang lain, untuk anak cucu,” cerita Alex. 

Selain Alex Waisimon, The Asean Biodiversity Heroes 2017 adalah: (1) Eyad Samhan dari Brunei Darussalam; (2) Sophea Chinn dari Kamboja; (3) Nitsavanh Louangkhot Pravongviengkham dari Laos; (4) Prof. Zakri Abdul Hamid dari Malaysia; (5) Dr. Maung Maung Kyi dari Myanmar; (6) Dr. Angel C. Alcala dari Filipina; (7) Prof. Leo Tan Wee Hin dari Singapura; (8) Dr. Nonn Panitvong dari Thailand; dan (9) Prof. Dr. Dang Huy Huynh dari Vietnam. (*)

loading...

Sebelumnya

KPK perintahkan ASN koruptor dipecat

Selanjutnya

Perluasan Bandara Rendani, Pemkab Manokwari digugat warga 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe