Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. “Pencurian” burung berujung di meja hijau
  • Kamis, 13 September 2018 — 08:48
  • 955x views

“Pencurian” burung berujung di meja hijau

SATWA endemik Papua rawan diselundupkan. Ratusan ekor, baik burung maupun kura-kura moncong babi, atau jenis satwa lainnya sering berakhir di tangan petugas. Tak jarang juga pelaku “pencurian” lari lenggang-lenggok tanpa jejak.
Kepala BKKSDA Papua, Timbul Batubara (kanan), ketika melihat kasuari yang digagalkan lalu dikembalikan pada 17 Agustus 2018 di Sentani - Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor :
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SATWA endemik Papua rawan diselundupkan. Ratusan ekor, baik burung maupun kura-kura moncong babi, atau jenis satwa lainnya sering berakhir di tangan petugas. Tak jarang juga pelaku “pencurian” lari lenggang-lenggok tanpa jejak.

Rabu pekan lalu, salah seorang pelaku berinisial MJ disidangkan di Pengadilan Negeri Jayapura. Sidang lanjutnnya digelar Kamis pekan ini.

Dalam sidang di PN Jayapura, pelaku MJ disebut membawa ratusan satwa endemik Papua yang telah diawetkan atau dikenal offsetan.

Sidang yang dipimpin hakim ketua H. Prayitno dan dihadiri saksi Surahman T. Patombe dan Herry Himan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua itu, akhirnya menjerat pria paruh baya ini melanggar pasal 21 ayat (2) jo Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

Pemuda itu juga dijerat pasal 50 ayat (3) jo Pasal 78 ayat (11) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Sejumlah barang bukti diamankan BBKSDA Papua untuk diikutkan dalam sidang selanjutnya, Kamis, 13 September 2018.

Rilis BBKSDA Papua yang diterima Jubi di Jayapura, Selasa, 11 September 2018 menyebutkan, dalam Berita Acara Pemeriksaan, terdapat 210 spesimen burung, 33 lembar kulit mamalia, tiga mamalia, dua paruh burung, dua kaki mamalia, satu kepala mamalia, satu tulang rahang bawah mamalia, satu tulang ekor dan tengkorak reptilia dan lima kulit reptilia. Pelaku MJ mengemasnya dalam dua kotak besar tanpa dokumen resmi dari pemerintah.

Dalam temuan Kepala Seksi P2 BBKSDA Papua, Yulius Palita, diidentifikasi empat jenis cenderawasih dari ratusan burung liar berbulu hijau.

“Jenis-jenis cenderwasih itu adalah dua ekor cenderawasih panji (Pteridophora alberti), satu ekor cenderawasih belah rotan (Cicinnurus magnificus), dua ekor cenderawasih kerah (Lophorina superba), dan empat ekor cenderawasih loria (Cnemophilus loriae),” kata Yulius Palita.

Sejak Maret hingga September 2018, BBKSDA Papua setidaknya mengamankan 132 satwa dari berbagai jenis. Dari jumlah tersebut 77 ekor di antaranya sudah dilepaskan ke habitatnya di alam liar. Sisanya dirawat di kandang transit dan penitipan.

“Perawatan satwa yang di karantina tergantung jenisnya, jenis aves (burung), reptil atau mamalia. Biasanya datang awal di karantina dulu,” kata Tenaga Kesehatan Satwa/Hewan BBKSDA Papua, drh. Cyntia Sihombing.

Menurut dokter Cyntia, sebagian besar satwa yang masuk ke kandang transit sudah jinak. Proses rehabilitasinya sekitar satu bulan.

“Satwa yang masih liar bisa langsung dilepas atau paling lama rehab satu bulan. Yang langsung dilepas contoh penyu, karena habitat asli di laut, saat ada kejadian pagi, sorenya langsung lepas di laut di Hamadi,” katanya.

Ia menyebutkan data per Juli 2018 terdapat 81 ekor di kandang transit, yang terdiri dari 64 ekor burung dari berbagai jenis dan 26 mamalia.

Aktivis Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Rachmad Saleh, meminta agar pelaku penyelundupan satwa-satwa Papua ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

“Tidak ada lain selain penegakan hukum. Harus tegas, tidak pandang bulu,” kata Rachmad.

Menurut dia, BBKSDA Papua dan GAKKUM (Penegakan Hukum) tidak boleh berdalih untuk tidak menindak pelaku, yang ketahuan menyelundup satwa-satwa dari Papua.

“Mereka (BBKKSDA dan GAKKUM) dibayar sesuai dengan tupoksinya,” kata Racmad lagi.

Menurut Rachmad Saleh, biar melakukan aksi sampai kapan dan seberapa sering pun jika tidak ada penegakan hukum, maka upaya itu akan sia-sia.

Ia bahkan menilai BBKSDA Papua sangat jarang memproses pelaku penyelundupan. “Kita baru tahu setelah satwa tersebut digagalkan di daerah tujuan,” katanya.

Ia berpendapat, untuk mencegah penyelundupan satwa Papua, seharusnya dilakukan pendekatan persuasif.

“Tapi sampai kapan seperti ini? Contoh terakhir saja dari Satbrimob Sumsel yang tenang pakai pesawat carter. Ada puluhan burung yang dibawa, tapi pelaku (anggota Brimob) tetap pulang, sedangkan satwanya ditahan. Tidak adil namanya,” kata Saleh.

Kepala Satuan Polisi Kehutanan (Satpolhut) BBKSDA Papua, Purnama Ashari, menyebutkan pihaknya melakukan penyuluhan, patroli, dan menangkap pelaku penyelundupan.

“Target penegakan hukum di dalam konservasi ini sebenarnya bukan semata-mata menangkap orang atau pelaku pelanggaran sebanyak-banyaknya. Tetapi bagaimana menumbuhkan jiwa konservasi dalam diri semua pihak, di tengah masyarakat luas,” kata Purnama. (*)

loading...

Sebelumnya

Jayapura diprediksi krisis air dalam lima tahun mendatang

Selanjutnya

Tempat-tempat keramat Suku Besar Yerisiam Gua terus saja dibabat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe