Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Mengkonsumsi pangan lokal Papua
  • Kamis, 13 September 2018 — 08:12
  • 680x views

Mengkonsumsi pangan lokal Papua

Pangan lokal khas Papua seperti keladi, sagu, ubi jalar, dan sayuran masih cukup banyak dijual pedagang di pasar-pasar Jayapura. Orang asli Papua masih sering mengkonsumsi pangan lokal sebagai selingan nasi.
Pedagang pangan lokal di Pasar Hamadi - Jubi/Agus Pabika
Agus Pabika
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

MARIA Walilo mengaku cukup sering membeli bahan makanan lokal di Pasar Youtefa untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengolah bahan tersebut untuk dimakan bersama adiknya yang sama tinggal dengannya di rumah kos.

"Dalam satu minggu saya paling banyak dua sampai tiga kali makan petatas, itupun sudah malas makan nasi lagi," katanya.

Bahkan ia lebih sering lagi belanja bahan lokal jika ada tamu keluarga yang berkunjung. Ia ke pasar membeli sagu, petatas, dan ikan untuk dimasak dan makan bersama.

"Tapi saya lebih senang petatas yang dikirim orang tua dari Wamena, karena rasanya beda dengan di Kota Jayapura sini. Saya makan petatas karena bosan juga tiap hari makan nasi," katanya.

Menurutnya, kualitas gizi pangan lokal tergantung petani yang menjualnya kepada pedagang. Apakah tanaman yang mereka tanam memakai pupuk organik atau tidak, karena akan berdampak kepada kesehatan orang yang mengkonsumsinya.

"Semoga hasil jualan yang pedagang taruh, terutama mama-mama tidak memakai pupuk kimia, tetapi alamiah atau dengan pupuk organik,” katanya.

Pangan lokal daerah di Indonesia sangat banyak, termasuk di Papua. Sebenarnya, berdasarkan penelitian organisasi pangan dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) FAO (Food and Agriculture Organization), sistem pangan masyarakat adat sangat bernutrisi dan lebih sehat. Karena itu PBB ingin menghubungkan isu tersebut kepada hak teritorial, sumber daya, dan hak kultural masyarakat adat.

Pangan lokal yang ada di Papua dan bisa ditemui di pasar tradisional dan modern adalah sagu, petatas (ubi), keladi (bete), singkong, dan sayur-sayuran seperti sayur lilin dan lainnya.

Harganya pun cukup murah. Petatas dan keladi (bete) di Pasar Youtefa misalnya, per tumpuk harganya Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Sedangkan di Pasar Hamadi dan pasar baru Sentani Rp 20 ribu, Rp 30 ribu, dan Rp 50 ribu per tumpuk.

Marta Doga, pedagang di Pasar Youtefa, mengatakan petatas dan keladi yang ada di Pasar Youtefa biasanya dibawa dari Arso, Genyem, dan Tanah Hitam Kota Jayapura. Sedangkan di Pasar Hamadi biasanya didatangan dari Sentani, Arso, dan Genyem.

"Ini harga pas di pasar ini, mereka yang datang berbelanja biasanya orang-orang dinas sehabis kantor langsung berbelanja ke pasar," katanya kepada Jubi, Selasa, 11 September 2018.

Peminat pangan lokal tersebut, lanjutnya, tidak saja orang asli Papua, tetapi juga non Papua yang sudah lama tinggal di Papua. Mereka juga sudah terbiasa makan pangan lokal Papua.

Di pasar lama Sentani, para pedagang pangan lokal Papua biasanya mulai berjualan pada pukul 4 sore dan buka hingga pukul 9 malam. Pedagang dan pembeli selalu ramai berjualan dan berbelanja.

Pasar yang terletak di pinggir bahu jalan ini lebih banyak menjual hasil kebun mama-mama Papua, termasuk hasil tangkapan ikan di Danau Sentani maupun laut.

"Pasar di sini setiap sore sampai malam ramai, ada yang jual hasil kebun seperti ubi, keladi, singkong, dan pisang, serta tangkapan ikan mujair danau, ikan lohan, ekor kuning, dan kepiting," ujar Mama Rosita, yang juga pedagang ikan mujair di pasar tersebut.

Menurut Rosita, meski pasar berada di bahu jalan selalu banyak pembeli yang datang berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga. Di sini lebih banyak mama-mama Papua yang berjualan, baik dari pesisir maupun mama-mama dari gunung.

Sementara, Mama Ana Sukoy, penjual sagu di Pasar Hamadi, mengatakan pembeli sagu di tempatnya paling sering adalah orang asli Papua, terutama mereka yang tinggal di kota.

"Ada juga pembeli non Papua, namun mereka itu dari warung atau restauran yang menyediakan masakan papeda, begitu juga dengan yang membeli keladi," katanya.

Ia menjual sagu per tumpuk mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan harga sagu  per tumang Rp 300 ribu untuk ukuran sak beras yang kecil dan ukuran besar besar Rp 500 ribu.

Dari pantauan Jubi, jumlah pedagang keladi di Pasar Youtefa ada 20 orang, penjual singkong 11 orang, penjual ubi 15 orang, dan penjual sagu 13 orang. Sedangkan di Pasar Hamadi penjual keladi 17 orang, singkong 8 orang, ubi (petatas) 18 orang, dan sagu 15 orang. Itu belum termasuk pedagang musiman yang datang berjualan ketika ad hasil panen.

Pedagang sagu di Pasar Hamadi masih didominasi orang asli Papua. Ini berbeda dengan Pasar Youtefa di mana penjualnya sebagian adalah non Papua. Bahkan orang asli Papua yang menjual sagu hanya lima orang. Itupun mereka muncul ketika ada hasil panen. (*)

loading...

Sebelumnya

Triwulan III 2018, ekonomi Papua diprediksi melambat

Selanjutnya

Ini cara BI tekan inflasi di Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe