Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nabire Membangun
  3. DAP Nabire dan Suku Besar Wate sepakat tidak lagi jadi bagian Meepago
  • Kamis, 13 September 2018 — 09:25
  • 1688x views

DAP Nabire dan Suku Besar Wate sepakat tidak lagi jadi bagian Meepago

Tentu kita tetap menghargai dan mengedepankan persaudaraan yang selama ini sudah dibangun
Ketua Dewan Adat Papua wilayah Nabire, Herman Sayori bersama Kepada Suku Besar Wate Kabupaten Nabire, Alex Raiki – Jubi/Titus Ruban.
Titus Ruban
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Nabire, Jubi – Dewan Adat Papua (DAP) wilayah Nabire, bersama Suku Besar Wate, bersepakat untuk tidak lagi masuk jadi bagian wilayah adat Meepago.

“Tujuh wilayah adat merupakan perwakilan kultur dan budaya orang Papua, sudah melalui ekspedisi sejak jaman Belanda dan sudah diteliti, wilayah-wilayah tersebut dengan berbagai budayanya masing-masing,” ujar Ktua DAP Nabire, Herman Sayori usai menghadiri Raker Suku besar Wate,Senin (10/9/2018) lalu.

Dikatakan Sayori, ketujuh wilayah adat itu punya ciri-ciri khas masing-masing. Dari cara berpakaian adat, mencari makan dan lain sebagainya..

Menurutnya, Nabire masuk di wilayah Saereri yang cara berpakaiannya menggunakan Cidako (Takorai).

“Maka kita di Nabire tidak bisa diklaim dan disebut masuk menjadi wilayah Meepago. Itu keliru,” jelasnya.

Lanjutnya, akibatnya selama ini masyarakat Nabire kehilangan hak-haknya. hak politik, budaya, ekonomi.

“Maka kita keluar bukan dengan cara memberontak, tetapi dengan hormat, hubungan sosial tetap berjalan,” terangnya.

Kepala Suku Besar Wate Kabupaten Nabire, Alek Raiki menambahkan hal tersebut telah tertuang di dalam 10 poin program pokok Badan Musyawarah Adat (BMA) yang akan dilakukan selama kepemimpinannya.

Terkait itu Raiki meminta kepada kelima suku lainnya, agar sependapat dan mendukung apa yang sudah disepakati bersama dengan warganya. Karena hal ini telah didukung oleh DAP wilayah Nabire.

“Kami ingin mengembalikan apa yang selama ini keliru di masyarakat dan harus didukung oleh lima suku di pesisir,” katanya.

Peiter Erari, Asisten III, setda Nabire menambahan, sebagai anak asli Nabire, keenam suku yang ada I wilayah pesisir tidak bisa masuk dan disamakan dengan wilayah Meepago. dan hal ini menjadi ini adalah pekerjaan rumah yang harus dibereskan.

“Sebab jika meninjau kembali keputusan yang di buat Suku Wate, maka benar adat istiadat budaya kita beda dan perlu untuk diluruskan,” katanya.

“Tentu kita tetap menghargai dan mengedepankan persaudaraan yang selama ini sudah dibangun,” ujarnya.(*)

loading...

Sebelumnya

Perbedaan jangan jadi alasan untuk terpecah belah

Selanjutnya

Turnamen Catur Nabire saring pecatur handal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe