Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ekologi dan dunia yang berubah (1)
  • Sabtu, 15 September 2018 — 05:54
  • 1365x views

Ekologi dan dunia yang berubah (1)

Para pemburu yang sudah campur kiri-kanan (bergabung antara para pendatang dengan orang lokal)…menerobos tempat-tempat sakral tersebut dan kemudian merusaknya. (Samuel Banggo di Kampung Tomerauw, 29 September 2016).
Sakralitas ruang-ruang ekologi masyarakat lokal adalah salah satu cara mereka untuk bertahan di tengah arus perubahan sosial yang semakin deras - Jubi/Dok. Penulis
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: I Ngurah Suryawan

Para pemburu yang sudah campur kiri-kanan (bergabung antara para pendatang dengan orang lokal)…menerobos tempat-tempat sakral tersebut dan kemudian merusaknya. (Samuel Banggo di Kampung Tomerauw, 29 September 2016).

Keseluruhan esai ini menggambarkan tanda-tanda perubahan yang dibawa oleh modernisasi yang terjadi di wilayah-wilayah hidup masyarakat di kampung-kampung Papua. Esai ini secara spesifik memberikan gambaran tentang perubahan yang terjadi pada orang Marori maupun orang Kanum, di Kampung Wasur dan Kampung Tomerauw.

Perubahan pandangan kehidupan diiringi dengan tuntutan kebutuhan membuat orang Marori dan Kanum berperilaku pragmatis dengan menggadaikan kekayaan alam yang sudah lama mereka pertahankan. Perburuan liar semakin ganas, kayu-kayu diterabas habis untuk dijual, minuman keras tanpa henti masuk ke kampung, dan virus “mata uang” menjalar pelan namun pasti.

Kehidupan di kampung yang secara merangkak mengikuti perubahan yang dibawa dari Kota Merauke membuat perlahan namun pasti mempengaruhi kehidupan warga Kampung Wasur dan Tomerauw. Tentu bukan hanya di kedua kampung tersebut, tetapi di sebagian besar wilayah di Merauke.

Dunia yang mereka rasakan sebelumnya kini telah mengalami perubahan. Nilai-nilai berdasarkan kepercayaan leluhur mulai tergeser dengan nilai pragmatisme yang dibawa oleh modernitas (baca: pembangunan).

Para pendatang hadir memberikan pengaruh penting terhadap perubahan sosial yang terjadi di kampung. Relasi masyarakat Marori dan Kanum dengan para migran (pendatang) ini juga menjadi salah satu permasalahan penting yang memicu perubahan sosial. Pengaruh yang dibawa oleh para pendatang menggoncang tatanan sosial budaya dan kepercayaan sebelumnya dari masyarakat Kanum dan Marori. Modernitas itulah yang sedikit demi sedikit, lambat laun membawa perubahan pada cara berpikir dan juga perilaku masyarakat yang dipraktikkan di kampung-kampung.

Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk melihat relasi antara perubahan-perubahan yang diangkut oleh modernitas dan perubahan sosial yang dihasilkannya. Studi relasi manusia dengan lingkungan selalu menyentuh proses transformasi sosial yang diakibatkan dari pertautan ini.

Pada titik inilah menjadi penting untuk mengelaborasi pengalaman-pengalaman empiris di lapangan (narasi-narasi) yang menunjukkan kondisi masyarakat di kampung-kampung dalam merespons perubahan.

Salah satunya yang sangat penting adalah eksploitasi sumber daya alam berupa perburuan liar dan penjualan kayu yang menerabas tempat-tempat sakral, wilayah yang dipercayai tempat para leluhur bersemayam dan melindungi keturunannya di kampung-kampung.

Hubungan manusia dengan lingkungan alamnya terbina melalui totalitas kebudayaan yang melahirkan berbagai pengetahuan juga kepercayaan. Tidaklah heran jika jejak-jejak relasi manusia dengan lingkungan melahirkan kepercayaan akan perlindungan roh-roh leluhur.

Para moyang inilah yang mewariskan tempat-tempat, tepatnya tanah sebagai sumber mata pencaharian. Kepercayaan inilah yang bertahan hingga saat ini dan mewarnai dinamika pola penguasaan tanah dan pengeloalaan sumber daya alam yang dimiliki oleh masyarakat lokal Papua.

Sakralitas yang menaungi relasi manusia dengan lingkungan, didasarkan pada penghargaan kepada alam yang menghidupi manusia. Lingkungan dengan berbagai tempat sakralnya dianggap sebagai nenek moyang, yang akan selalu melindungi manusia dengan kekayaannya.

Kesemua itu terbukti dengan sejarah panjang perjuangan masyarakat lokal Papua hidup di tengah sakralitas lingkungan dan sumber daya alamnya. Bahkan, dalam relasi tersebut tercipta berbagai pengetahuan kebudayaan, yang mencerminkan totalitas kebudayaan manusia dalam penghargaannya terhadap leluhur, alam, manusia itu sendiri.

Cerita sakralitas tersebut kini menghadapi ancaman serius. Ancaman tersebut berasal dari transformasi sosial budaya yang diangkut oleh berbagai macam kepentingan yang mengeksploitasi kekayaan alam dan mengubah pola pikir mereka.

Nilai-nilai lama sebagai fondasi mereka untuk hidup berkomunitas digoyahkan oleh nilai-nilai baru dalam dunia modernitas yang berubah. Sakralitas dan cerita harmonis masa lalu berangsur-angsur terkikis oleh pragmatisme, untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Bila perlu dengan mengorbankan sakralitas alam yang dititipkan oleh para leluhur kepada generasi berikutnya.

Salah satu yang menjadi medium kontestasi penting dalam perubahan sosial budaya tersebut adalah tanah. Tanah menjadi faktor penting yang menandai perubahan perilaku manusia dan kebudayaannya.

Manusia-manusia menjadi aktor penting yang memperlakukan tanah sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Oleh sebab itulah tanah akhrinya menjadi komoditas pada saat perubahan kepentingan terjadi.

Novenanto (2015) mengungkapkan hal ini sebagai salah satu kelemahan yang hanya melihat peranan aktor (hanya manusia) dalam memperlakukan tanah tersebut. Perspektif lain adalah yang menempatkan relasi manusia dengan tanah tersebut.

Pendekatan aktor cenderung mengabaikan analisis tentang tanah (obyek) yang menjadi alasan bagi terjadinya relasi kuasa. Pendekatan aktor memfokuskan pada relasi antar-manusia dan mengabaikan pembahasan soal relasi antara manusia dengan obyek yaitu tanah sendiri.

Pandangan Kirsch (2001; Novenanto, 2015: 4-5) meyebutkan bahwa relasi antar-manusia itu sebagai “transaksi”. Relasi manusia dengan obyek disebut sebagai “kepemilikan”. Pada relasi “transaksi”, tanah dianggap sebagai obyek yang pasif, “yang dipolitisasi” oleh manusia sehingga persoalan hilangnya “kepemilikan” atas suatu obyek dan kompensasi atas kehilangan itu tidak bisa diurai dengan baik.

Pendekatan obyek, sekalipun masih antroposentris, cenderung melihat bagaimana aktor terikat atau mengikatkan diri pada suatu obyek, dalam hal ini adalah tanah.

Pendekatan obyek akan sangat membantu dalam menggali nilai-nilai yang dilekatkan manusia pada tanah dan membahas kadar “kehilangan” ketika manusia diputus paksa dari tanahnya. Nilai adalah persoalan budaya dan dengan demikian juga adalah persoalan identitas suatu komunitas.

Kekhawatiran utama manusia bukanlah soal hilangnya tanah, melainkan lebih kepada kekhwatiran akan hilangnya nilai-nilai yang sudah dilekatkan pada tanah tersebut (Novenanto, 2015: 5). Situasi ini dengan jelas menggambarkan bahwa relasi manusia dengan lingkungannya tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. Lingkungan menjadi situs sekaligus inspirasi terpenting dari penciptaan kebudayaan manusia, tidak terkecuali di Papua. (*)

Antropolog dan dosen di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat

loading...

Sebelumnya

Dana hearing anggota DPRD Merauke per bulan Rp 100 juta

Selanjutnya

Profesi guru ditinggalkan, buka PKBM demi anak-anak Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe