Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Profesi guru ditinggalkan, buka PKBM demi anak-anak Papua
  • Sabtu, 15 September 2018 — 06:11
  • 1272x views

Profesi guru ditinggalkan, buka PKBM demi anak-anak Papua

Dia memilih mengundurkan diri lantaran mempunyai suatu mimpi besar bisa mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Seiring perjalanan waktu, secara perlahan mimpinya mulai terjawab. Meski awalnya hanya membuka taman bacaan.
Kegiatan belajar di PKBM Weda Angletok Say - Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dominggus Mampioper
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

TAHUN 2015 silam, Siti Habibah Letsoin, membulatkan tekadnya untuk tidak lagi mengabdikan diri sebagai guru di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di kota Merauke.

Dia memilih mengundurkan diri lantaran mempunyai suatu mimpi besar bisa mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Seiring perjalanan waktu, secara perlahan mimpinya mulai terjawab. Meski awalnya hanya membuka taman bacaan.

Dengan fasilitas sangat terbatas, ia menggunakan teras depan rumah sebagai tempat belajar. Ternyata animo anak-anak Papua yang tinggal di sekitar untuk ingin belajar sangat tinggi.

Dalam perjalanan, Oktober 2016, seorang pemerhati pendidikan di Kabupaten Merauke, Sergius Womsiwor, menyarankan membuat izin sekaligus mengajukan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat.

Setelah surat masuk ke dinas, beberapa bulan kemudian izin diterbitkan. PKBM resmi berbadan hukum dengan nama Weda Angletok Say, yang beralamat di daerah kali Weda, Kelurahan Seringgu Jaya.

Kepada Jubi, Kamis 13 September 2018, pimpinan PKBM Weda Agletok Say, Siti Habibah Letsoin, menuturkan ketika masih mengajar di sebuah SMK, setiap pagi ia melintas di perumahan orang Papua. Lalu melihat banyak anak-anak  mencari kaleng bekas dan bermain di halaman rumah.

“Hati saya tergerak ingin berbuat sesuatu. Setelah berdiskusi panjang bersama suami, yang anggota TNI, serta berpikir dari waktu ke waktu bagaimana melakukan sesuatu bagi anak-anak Papua agar mereka juga bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung,” ungkapnya.

Secara perlahan, lanjut Siti, ada titik terang didapatkan. Begitu PKBM memiliki badan hukum, dengan sedikit modal yang dimiliki, ia membangun satu ruangan khusus di sebelah rumah agar memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua bernaung untuk belajar.

Jumlah anak yang ditangani mencapai 150 orang dari tahun 2015 sampai sekarang. Umumnya mereka tidak sekolah maupun putus sekolah. Paling utama diterapkan di PKBM adalah belajar menulis, membaca, dan berhitung. Selain itu memperkenalkan lingkungan sekitar. Rata-rata anak berusia 3-15 tahun yang didampinginya.

Setelah bisa membaca dan menulis dengan baik, mereka didorong mengikuti ujian Paket A. Setelah mendaptkan ijazah, melanjutkan studi ke jenjang pendidikan SMP formal. Itu dengan tujuan agar dia tak merasa minder dan sungkan bersama teman-teman di sekelilingnya.

Usaha dan perjuangan mengantarkan mereka mulai membuahkan hasil. Ada beberapa murid binaannya melanjutkan studi di Universitas Negeri Musamus (Unmus) dan bangku SMA maupun SMP.

Tahun 2018, ada 12 anak didaftarkan di SMPN Buti. Namun hanya delapan anak yang sampai sekarang terus belajar seperti biasa.

“Memang saat didaftarkan pertama, pihak sekolah minta uang pembayaran seragam senilai Rp 600 ribu. Lalu saya komunikasi langsung dengan kepala sekolahnya dan minta diberikan kompensasi. Karena mereka adalah anak-anak Papua, pihak sekolah merespon positif,” ungkapnya.

Siti mengakui meskipun sejumlah anak sedang mengenyam pendidikan di bangku SMP/SMA maupun PT, pihaknya terus melakukan koordinasi bersama orangtua, guru, maupun mereka sendiri. Itu dengan tujuan agar dapat mengetahui tingkat kesulitan dihadapi.

“Jadi, saya tak melepas mereka begitu saja ketika sudah melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bagaimanapun juga, telah menjadi tugas dan tanggung jawab saya membantu mewujudkan apa yang mereka cita-citakan,” ujarnya.

Salah satu target yang ingin dicapai adalah anak-anak  bisa mengikuti ujian Paket A sekaligus mendapatkan ijazah, sehingga dari situ didorong masuk ke jenjang pendidikan berikutnya.

Dikatakan, kegiatan belajar mengajar di PKBM berlangsung dari Senin sampai Kamis, pukul 07.30 hingga 10.00 WIT.

“Saya mengurus sendiri. Memang butuh tenaga, namun belum tentu orang mempunyai hati mendampingi anak-anak Papua ini dengan tulus hati,” katanya.

Setelah anak-anak mengikuti proses belajar mengajar, mereka diberikan makan.

“Ya, setiap hari mereka disuguhi kolak kacang hijau. Lalu kalau ada sedikit rejeki, saya beli lauk seadanya dan makan bersama. Setelah itu pulang ke rumah masing-masing,” tuturnya.

Ditanya perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke memberikan dukungan dana, Siti mengaku tidak ada. Meski demikian, masih ada donatur yang memiliki kelebihan, menyumbangkan sehingga PKBM tetap eksis dan terus berjalan sampai sekarang.

Menyangkut dukungan orangtua terhadap anaknya yang sekolah di PKBM, Siti mengaku sangat positif. Hanya kadang ada hasutan. Tetapi anak-anak mempunyai keinginan untuk belajar. Sehingga meskipun dilarang, mereka tetap berusaha datang setiap hari.

“Pada prinsipnya, saya ingin anak-anak ini memiliki masa depan lebih baik. Minimal apa yang diinginkan dapat tercapai suatu waktu,” katanya.

“Saya mendirikan PKBM tidak mencari keuntungan apa-apa. Tetapi paling utama adalah agar anak Papua dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Lalu memperjuangkan agar melanjutkan studi ke jenjang pendidikan lebih tinggi,” ungkapnya.

Ditambahkan, dalam setiap kesempatan, pihaknya selalu mengingatkan kepada anak-anak agar tak boleh terjerumus dengan hal-hal negatif seperti menghisap lem aibon.

“Saya tahu persis kalau anak-anak Papua di seputar kali Weda yang selama ini di PKBM, tak melakukan hal negatif,” ujarnya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Moses Kaibu, memberikan apresiasi kepada pimpinan PKBM Weda Angletok Say yang memberikan perhatian sangat serius terhadap anak-anak Papua.

“Saya berharap pemerintah harus memberi dukungan anggaran kepada PKBM tersebut, karena yang dibimbing dan dididik adalah anak-anak Papua,” pintanya.  (*)

loading...

Sebelumnya

PKBM Weda Angletok Say difasilitasi donatur Perancis budidaya labu madu

Selanjutnya

Boven Digoel, lokasi transit para penambang liar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe