Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Sumatera
  3. Petani Sipirok beralih tanam cabai
  • Minggu, 16 September 2018 — 17:39
  • 604x views

Petani Sipirok beralih tanam cabai

Langkah itu dilakukan seiring harga jual cabai yang mulai menjanjikan.
Ilustrasi, pixabay.com
ANTARA
Editor : Edi Faisol
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Tapanuli Selatan, Jubi - Petani Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengalihkan sebagian tanaman kopinya ke komoditas cabai. Langkah itu dilakukan seiring harga jual cabai yang mulai menjanjikan.

Seorang petani yang mengalihkan sebagian lahan untuk menanam cabai Sahrin SY Hutasuhut, memanfaatkan lahan yang sebelumnya ditanam 500 batang kopi miliknya diganti ditanaman cabai merah keriting.

“Sebelumnya pohon kopi berusia 12 tahun, sekarang kami ganti cabai sudah berumur dua bulan di Desa Marsada Purba Tua, Sipirok,” kata Sahrin SY Hutasuhut, Minggu (16/9/2018),

Menurut dia, terdapat enam ribu batang cabai yang ditanam di atas lahan yang sebelumnya untuk menanam kopi. Dari pengalihan itu ia mampu memanen cabai yang berusia tiga bulan dengan hasil mencapai sekitar Rp72 juta.

“Dengan harga cabai per kilogram sekitar Rp20 ribu dan rata-rata hasil panen 0,6 - 0,7 ons per batang,” kata Sahrin menjelaskan.

Ia mengaku saat harga cabai mencapai Rp40 ribu lebih per kilo gam pada awal 2018 lalu, dia menikmati hasil penjualan cabainya hingga ratusan juta rupiah. Sahrin mengakui harga jual kopi memang tinggi mencapai Rp 30 ribu lebih per kilo, namun cabai lebih menjanjikan.

“Lagi pula, kopi yang ditebang produksinya kurang maksimal," katanya.

Sahrin tidak menebang seluruh tanaman kopinya dan masih menyisakan sekitar 600 batang yang rata-rata per tahun  bisa menghasilkan 500 solup dengan harga kisaran Rp 30 ribu per solup.

"Saya berharap hingga musim panen cabai satu bulan ke depan harganya di tingkat petani dapat meningkat dari sekarang di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp25 ribu per kilo," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Pengusaha asli Papua pertanyakan disposisi pimpinan OPD

Selanjutnya

UPBU Wamena bertekad tingkatkan pelayanan bagi masyarakat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe