close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Generasi muda Fiji bahas pemilu
  • Rabu, 19 September 2018 — 07:24
  • 623x views

Generasi muda Fiji bahas pemilu

“Pada saat yang sama media ini menciptakan kesadaran tentang mereka.”
Kirisitiana Kula (kiri) dengan teman-temannya Naomi Saurara dan Wati Udite di Suva.- Asia Pacific Report/Sri Krishnamurthi/PMC/Wansolwara
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Sri Krishnamurthi di Suva

Meskipun jarang didengarkan, Anda keliru jika berpikir bahwa anak-anak muda di Fiji tidak sadar akan pemilihan umum (pemilu) mendatang. Menurut wawancara, mereka senantiasa terlibat, seringnya melalui media sosial, namun mereka ingin agar lebih banyak diajarkan tentang sistem pemilihan umum di Fiji.

“Banyak anak-anak muda yang menggunakan media sosial, dan Anda dapat melihat banyaknya kampanye yang dilakukan melalui media sosial, terutama oleh calon anggota parlemen perempuan,” kata Epeli Lalagavesi, mahasiswa tahun kedua di Universitas Pasifik Selatan di Suva.

“Pada saat yang sama media ini menciptakan kesadaran tentang mereka.”

“Kampanye digital sudah pasti adalah tren saat ini dan kerap digunakan. Anda bisa melihat orang-orang seperti Lenora Qereqeretabua dan Lynda Tabuya, yang memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan mereka. Mereka berkampanye melalui platform ini.”

Menurut Lalagavesi, platform-platform media sosial memungkinkan kaum muda, untuk berinteraksi dan berbagi pandangan mereka tentang pemilihan umum, dibandingkan dengan cara-cara yang lebih tradisional dalam menerima berita.

“Anda tidak melihat banyak orang-orang muda yang berdiskusi dalam lingkungan yang nyata, hal ini karena mereka merasa tidak memiliki suara, tetapi dunia online adalah dunia di mana mereka merasa aman. Itu adalah ruang mereka untuk berbagi dan belajar. Di situlah Anda bisa mengamati partisipasi aktif dari kaum muda,” kata Lalagavesi.

Media sosial dilihat memiliki jarak aman dari politisi, mereka merasa dapat terlibat dengan para politisi, daripada membaca tentangnya melalui pihak ketiga (media dan surat kabar) yang terbatas oleh kebijakan media.

Suara orang-orang muda sering diabaikan

Percakapan ini tidak mereka lakukan di hadapan umum, tetapi di balik dinding digital ini suara-suara mereka dapat didengar.

“Percakapan ini pada dasarnya underground,” kata Lalagavesi dengan suara berbisik.

“Saya merasa sebagai orang muda, suara kami tidak didengarkan, dan hal ini juga kami perhatikan sejak pemilihan sebelumnya pada tahun 2014.”

“Saya rasa masih perlu lebih banyak pengetahuan mengenai pentingnya suara anak-anak muda, tidak hanya selama pemilihan, tetapi juga setelah pemilihan. Saya merasa bahwa setelah pemilihan, anak muda terkadang diabaikan dan tidak dianggap sebagai bagian dari konstituensi.”

Lalagavesi lalu menerangkan bahwa universitas-universitas juga memiliki peran yang penting untuk dimainkan dalam proses politik, dan bukannya harus tunduk.

“Sampai pada titik tertentu, menurut saya universitas juga perlu memulai diskusi tentang pemilihan umum, tetapi topik ini semacam ada dalam zona larangan. Kita tidak dapat membahas topik ini karena universitas tidak boleh bersifat politis. Jika Anda mengatakan sesuatu yang dinilai politis, universitas itu bisa dilihat sebagai lembaga yang anti-pemerintah,” katanya.

Sebagai seorang pemilih yang akan memilih untuk pertama kalinya, ia juga berpendapat bahwa tidak ada sosialisasi yang memadai tentang sistem pemilu.

Tidak percaya diri dalam memilih

“Saya tidak merasa percaya diri untuk memilih. Cara bekerja seluruh sistem ini - seperti memilih partai dan bukan kandidatnya,” jelasnya, menyuarakan kekesalannya.

“Kita benar-benar memerlukan sedikit pelajaran mengenai sistem pemilu, karena hal ini akan memungkinkan kita untuk melihat bagaimana sistem ini bekerja secara keseluruhan. Saya hanya memiliki pengetahuan yang terbatas, tentang bagaimana sistem ini berjalan. Jadi, sosialisasi untuk pemilih akan membantu pemilih-pemilih yang muda seperti saya.”

Seorang pemuda lainnya, Dhruvkaran Nand, menganggap ketidakpastian seputar hasil pemilihan ini sangat menarik.

“Saya akan memilih untuk pertama kalinya. Harapan saya adalah agar pemerintah yang menang bisa bertanggung jawab dan transparan - ini akan membantu memajukan bangsa ini.”

“Saya juga sangat tertarik dengan kebijakan-kebijakan terkait kaum difabel. Saya menunggu apa yang direncanakan pemerintah, bagi orang-orang yang hidup dengan disabilitas. Menciptakan lingkungan yang ramah akan kaum difabel itu sangat penting,” kata pria muda yang juga disabilitas itu.

Peringatan untuk pengguna media sosial

Namun dia juga memperingatkan mereka yang hanya mengandalkan media sosial.

“Media sosial adalah suatu alat yang hebat jika digunakan dengan bijaksana. Jika Anda melihatnya dari perspektif global, negara-negara seperti India dan AS menggunakan platform ini untuk melakukan kampanye, jadi mungkin metode ini cukup baik,” katanya.

“Tapi Anda tidak bisa percaya apa yang Anda temukan di media sosial, kecuali Anda telah memverifikasikan informasi itu dari sumber dapat dipercaya.”

Orang-orang muda lainnya menekankan betapa mereka perlu diajar tentang pemilihan umum.

Naomi Saurara dari Suva tidak tertarik pada pemilihan umum, karena tanggalnya yang tak kunjung dipastikan.

“Saat ini saya tidak terlalu tahu tentang pemilihan karena tanggal pemilihan belum ditetapkan,” kata mahasiswi Universitas Nasional Fiji itu.

Namun, temannya Kirisitiana Kula lebih berwawasan dan telah membaca beberapa kebijakan.

“Saya sempat membaca beberapa kebijakan, dan sebagiannya saya rasa cukup bagus. Kita yang menentukan pemerintah yang mana yang kita pilih, tetapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pemilihan,” tuturnya seraya merenung masa depan.

“Anak-anak muda juga seharusnya peduli tentang pemilihan, karena mereka perlu berpikir tentang masa depan mereka dan memikirkan orang lain.”

Untuk Krishneel Krishna, pemilihan ini adalah waktu untuk mencari manfaat terbaik.

“Kita harus memilih partai yang membawa keuntungan bagi kita, contohnya untuk pendidikan kita,” katanya.

Ada banyak pilihan yang harus dipilah dalam memulai partisipasi pada pemilihan nasional negara. Tetapi bagi orang-orang muda Fiji ini, memberikan suara mereka melalui pemilihan adalah pengalaman baru, yang mereka tahu akan berdampak pada masa depan. (Asia Pacific Report)

loading...

Sebelumnya

Futuna tolak beri izin eksplorasi tambang pada Prancis

Selanjutnya

Perayaan kemerdekaan PNG di Port Moresby semarak

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4922x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4271x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2495x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2439x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe