close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Perdamaian harus diperjuangkan
  • Kamis, 20 September 2018 — 11:14
  • 1291x views

Perdamaian harus diperjuangkan

“Kita tidak dapat mengharapkan sebuah perdamaian dengan hanya berpangku tangan saja. Menciptakan “Papua tanah damai” juga merupakan tugas yang tidak mudah. Kita membutuhkan sebuah langkah yang pasti untuk menciptakan Papua tanah damai.
Burung merpati putih dan bunga mawar simbol perdamaian - Jubi/satyaaditama.blogspot.com
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh: Yohanes Kayame

PERDAMAIAN (peace) selalu berenergi positif. Ia menumbuhkan rasa nyaman, kegembiraan, dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Perdamaian itu sendiri mengungkapkan estetika atau keindahan pada kehidupan.

Ketika orang merasa damai pastilah jauh dari tekanan-tekanan tertentu, yang menyudutkan eksistensi dirinya. Sehingga, orang secara bebas dapat mengaktualisasi dirinya dengan tepat.

Misalnya, orang pantai (orang Papua yang berdomisili di pesisir pantai) dapat menjaring ikan, pangkur sagu, dan kegiatan lainnya secara bebas dalam lingkungannya. Begitu juga orang gunung (orang Papua yang berdomisili di pegunungan) dapat menanam ubi, mencari kayu bakar, dan berburu secara bebas, tanpa tekanan-tekanan sosial dari luar.

Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno pernah mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Kebahagiaan dalam hal ini dikontekskan dengan perdamaian. Memang kebahagiaan merupakan suatu tujuan yang ingin dicapai oleh semua orang. Orang menghidupi segala macam bentuk kehidupan dengan gaya apa saja. Namun, orang akan tetap berujung pada pencarian kebahagiaan.

Tidak ada orang yang ingin mengalami ketidakbahagiaan pada kehidupannya. Setiap orang selalu berlomba-lomba untuk memasukkan dirinya dalam situasi yang bahagia. Situasi dimana eksistensinya merasa nyaman, aman, dan tentram dalam menjalani kehidupannya.

Perdamaian dapat disebut sebagai sarana, alat (instrumen) yang dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan umumnya dapat dicapai jika kita sebagai manusia, mampu menghayati kehidupan kita sebagai manusia di dunia ini.

Kita memahami peran (role) sebagai manusia yang memiliki akal budi, perasaan, dan kehendak. Ketika kita mampu melakukan peran kita sebagai manusia, di situlah kita berusaha mengadakan kedamaian untuk menciptakan kebahagiaan.

Perdamaian tidak mutlak ada dalam kehidupan manusia. Perdamaian selalu merupakan hasil usaha dari pribadi maupun bersama. Untuk itu perdamaian mesti diperjuangkan. Sebab, perdamaian itu adalah suatu situasi yang dapat diciptakan sesuai perjuangan dari manusia itu sendiri.

Perdamaian tidak akan datang dengan sendirinya. Ia juga tidak jatuh dari langit begitu saja, sehingga manusia dapat menerimanya dengan cuma-cuma.

Kita juga mesti paham bahwa dalam usaha menegakkan perdamaian, pasti ada yang pro dan kontra karena alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan itu didasari pada cara pandang, gagasan, ide dan latar belakang budaya yang berbeda. 

Jika tiap orang berada pada pendiriannya, kita tidak dapat menemukan perdamaian itu. Pada akhirnya kita akan berada pada penderitaan yang panjang entah kapan akan berakhir. Untuk memahami lebih lanjut, marilah kita melihat tokoh yang bernama Eric Weil, yang telah memperjuangkan perdamaian dengan refleksi-refleksi filosofisnya.

Eric Weil dan pemikirannya

Eric Weil adalah seorang filsuf yang dikategorikan filsuf kecil dalam jajaran para filsuf terkenal lainnya seperti Sokrates, Aristoles, Plato, dll. Ia dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1904 di Perchim, Jerman. Ia mengalami kecemasan dan ketakutan luar biasa terhadap ancaman kekejaman tentara NAZI di bawah rezim Hitler.

Ia juga menyaksikan sebagian besar keluarga dan sahabat-sahabatnya juga ditawan dan dibunuh secara kejam oleh rezim Hitler itu. Situasi demikian memaksanya untuk pindah ke Perancis. Hal yang sama juga dialami di Perancis.

Setelah Eric menerima kewarganegaraan Perancis, ia harus menjalani wajib militer untuk melawan tentara NAZI yang masuk ke wilayah Perancis. Ketika diketahui identitasnya sebagai orang Yahudi, ia akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Di dalamnya penjara itulah ia kemudian merefleksikan tentang hidup yang damai.

Pemikiran Eric tidak melulu ilmiah tetapi sebuah pernyataan filosofis. Ia juga tidak memberikan tips-tips untuk hidup damai, tetapi kesaksian hidup menuju pada kedamaian itu.

Berangkat dari situasi Eric yang ditekan dan dipenjara, ia selalu bertanya akan adanya konflik, pertikaian, peperangan, dan permusuhan. Dia berpikir bahwa pasti ada cara tertentu yang dapat digunakan untuk mengatasi segala macam konflik.

Kata “berjuang” menjadi begitu penting dalam refleksinya. Baginya derita dan kekerasan adalah pengalaman yang menegaskan, bahwa kerinduan akan hidup yang damai begitu berharga.

Eric berpendapat bahwa tidak ada gunanya hanya mengeluh dan meratapi derita. Meratapi derita tanpa usaha untuk mengatasinya merupakan langkah mundur dalam hidup. Kedamaian mesti diperjuangkan dengan gigih. Dengan cara-cara setiap orang sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Berbicara mengenai perdamaian, di Papua rasanya tidak asing. Semua orang yang pernah tinggal di Papua pasti mendengar konsep “Papua tanah damai”.

Jika berbicara mengenai “Papua tanah damai” secara logis kita dapat mengerti bahwa Papua adalah tanah yang tidak damai alias “tanah penderitaan”. Sehingga hal ini memungkinkan orang untuk menciptakan Papua sebagai tanah yang damai.

Semestinya setiap warga Papua merefleksikan “Papua tanah damai” itu. Apakah benar bahwa Papua sekarang sudah menjadi tanah yang damai? Apakah Papua tanah damai itu sunguh-sungguh nyata dalam kehidupan konkret di Papua? 

Jangan sampai hal itu hanya menjadi sebuah slogan. Hanya untuk menciptakan suasana masyarakat sedemikian rupa, sehingga masyarakat tetap memiliki rasa nyaman.

Jika kita telusuri tanah Papua secara utuh, kita dihadapkan dengan beragam informasi. Ada informasi baik, tetapi ada juga yang buruk. Informasi yang baiknya Papua dikenal sebagai “surga dunia” dengan kekayaan alam yang menawan. Kekayaan budaya Asmat yang terkenal hingga di mancanegara. Di tengah informasi yang baik itu tersimpan beribu informasi buruk. 

Menurut LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), ada empat akar masalah Papua, yakni, masalah sejarah dan status politik, adanya operasi militer, termarjinalnya orang asli Papua dan kegagalan pembangunan Papua.

Eric telah memberikan sebuah refleksi yang luar biasa. Ia terutama menegaskan bahwa menciptakan suatu perdamaian adalah tugas yang tidak mudah. Butuh pengorbanan yang luar biasa. Tidak semudah orang membalikkan telapak tangan.

Kita tidak dapat mengharapkan sebuah perdamaian dengan hanya berpangku tangan saja. Menciptakan “Papua tanah damai” juga merupakan tugas yang tidak mudah. Kita membutuhkan sebuah langkah yang pasti untuk menciptakan Papua tanah damai.

Cara tepat yang diberikan Eric adalah orang harus berjuang secara terus-menerus tanpa menyerah. Tanpa ada kata “tidak bisa, tidak mampu”. Segala perjuangan pada akhirnya pasti ada hasil yang memuaskan. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura

loading...

Sebelumnya

Menjawab keluhan di Pasar Pharaa

Selanjutnya

GPAI berdayakan mama-mama Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4922x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4269x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2494x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2439x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe