Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Hutan titipan leluhur yang harus dijaga dan dilindungi
  • Selasa, 25 September 2018 — 07:37
  • 910x views

Hutan titipan leluhur yang harus dijaga dan dilindungi

”Pohon adalah rumah bagi kehidupan termasuk burung-burung di udara mereka akan pulang di tempat tinggalnya dan bertengger di pepohonan di tengah hutan,” kata pegiat lingkungan dan peraih gelar Pahlawan Keragaman Hayati ASEAN atau The ASEAN Biodiversity Heroes dari ASEAN Center for Biodiversity (ACB), Alex Waisimon.
Alex Waisimon, penjaga hutan dari Lembah Grime – Jubi/Mongabay
Dominggus Mampioper
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Selasa, 16 Oktober 2018 | 14:40 WP
Features |
Senin, 15 Oktober 2018 | 06:14 WP
Features |
Minggu, 14 Oktober 2018 | 21:06 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Pegiat lingkungan dan peraih gelar Pahlawan Keragaman Hayati ASEAN atau The ASEAN Biodiversity Heroes dari ASEAN Center for Biodiversity (ACB), Alex Waisimon, mengatakan hutan yang ada di masyarakat harus dijaga dan dilindungi karena itu tanggung jawab semua pihak untuk tetap hidup.

“Saya terus kampanyekan pentingnya hutan selama di Manila juga menyampaikannya kepada masyarakat dan pelajar di sana. Mereka sangat tertarik dengan cerita adanya burung surga dari Lembah Grime,” katanya kepada Jubi, di Jayapura, belum lama ini.

Dia menambahkan akan terus berbagi pengalaman kepada semua orang termasuk warga di Papua agar kembali menyelamatkan hutan alami yang merupakan anugerah dari Tuhan bagi masa depan manusia di tanah Papua.

”Pohon adalah rumah bagi kehidupan termasuk burung-burung di udara mereka akan pulang di tempat tinggalnya dan bertengger di pepohonan di tengah hutan,” katanya.

Waisimon menambahkan hutan akan memberikan harapan bagi masa depan jika dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Daerah Rhepang Muaif, tempat Alex tinggal, merupakan kawasan hutan rumah bagi 84 spesies burung dari 31 famili. Kawasan itu bahkan masuk daerah penting burung karena menyediakan perlindungan bagi lima spesies yang terancam punah termasuk Casuarius unappendiculatus, Harpyopsis novaeguineae, Goura victoria, Psittaculirostris salvadorii, dan Epimachus bruijnii.

Waisimon juga menambahkan delapan ekor kasuari gelambir ganda (Cauarius casuarius) dari Balai Besar KSDA Papua pada 17 Agustus 2018 sekarang sudah bisa memakan papeda.

”Kita sedang berusaha agar kasuari-kasuari itu bisa bebas kembali memakan tanaman alami sesuai habitatnya,” katanya seraya menambahkan, delapan kasuari itu sudah terbiasa hidup bebas di alam asli hutan Mhuaif.

Delapan kasuari itu diperoleh BKSDA Papua dari BKSDA Jatim yang berhasil menggagalkan pengiriman kasuari-kasuari illegal dari Surabaya menuju Pangkal Pinang pada November 2017. Usia kasuari-kasuari itu baru setahun dan masih tergolong anakan telah dikembalikan ke Papua Agustus 2018.

Dia juga mengaku kalau dari Hongkong hendak mengembalikan sebanyak 40 ekor soa-soa (kadal air) adalah biawak yang mempunyai panjang tubuh sekitar 34,5 cm.

”Memang mereka ada memberitahukan soal pengiriman kembali soa-soa tersebut,” katanya.

Tak heran kalau saat ini pihak perguruan tinggi kata Waisimon dari Fakultas MIPA jurusan Biologi Uncen sudah melakukan MoU dengan kelompok di Lembah Grime untuk menjalin kerja sama.

“Kita sudah melakukan perjanjian kerja sama dengan Fakultas MIPA jurusan Biologi,” katanya.

Dosen dan peneliti dari Fakultas MIPA Jurusan Biologi, Universitas Cenderawasih (Uncen) Henny Keiluhu, PhD mengakui kalau ada kerja sama.

“Saat ini fakultas MIPA Jurusan Biologi sudah membangun sebuah rumah bagi penangkaran anggrek endemik di sana,” katanya, seraya menambahkan ada seorang mahasiswa juga sedang melakukan penelitian tentang burung Cenderawasih di Lembah Grime khususnya di tempat Waisimon.

Dalam rilisnya, WWF Indonesia menjelaskan kawasan ekowisata “Bird Watching Isio Hill’s” merupakan bentuk pengelolaan ekowisata oleh masyarakat adat secara lestari. Para wisawatan yang datang di Isio Hills, Rhepang Muaif, dapat melihat langsung empat jenis burung Cenderawasih, yaitu Cenderawasih Raja (Cincinnurus regius), Cenderawasih Kecil (Paradisea minor), Cenderawasih Mati Kawat (Celecoudis melanoleuca), dan Cenderawasih Paruh Sabit Paruh Putih (Ephimachus bruijnii).

Ornitolog Universitas Cendrawasih, Hendra Maury, menjelaskan selain empat jenis burung Cenderawasih yang disebutkan tersebut, ada lagi satu jenis di Isio Hills yang sering teridentifikasi lewat suara namun agak sulit teramati, yaitu Ptiloris magnificus atau Toowa cemerlang.

“Di jalur tracking Isio Hills 4 jenis mudah diamati. Namun jenis Ptiloris magnificus ini yang hanya teridentifikasi lewat suara. Sementara untuk seluruh Papua ada 38 jenis burung Cenderawasih,” ujar Maury.

Menurut WWF Papua, sebagai lokasi pemantauan, kawasan ini memenuhi dua kriteria penting sebagai syarat Daerah Penting Burung (DPB), yakni terdapat jenis-jenis burung terancam punah seperti jenis kasuari gelambir tunggal (Casuarius unappendiculatus), rajawali Papua (Harpyopsis novaeguineae), mambruk Victoria (Goura victoria). Selain itu terdapat jenis cenderawasih paruh sabit paruh putih (Epimachus bruijnii) yang mendekati terancam.

Juga terdapat jenis-jenis burung sebaran terbatas di kawasan yang merupakan karakteristik dari suatu bioma tertentu atau kawasan Daerah Burung Endemik (DBE). Seperti jenis burung Nuriara Pipi Kuning (Psittaculirostris salvadorii) dengan sebaran terbatas di kawasan hutan dataran rendah bagian utara Papua, sehingga jenis ini dimasukan sebagai jenis endemik. (*)

loading...

Sebelumnya

Dialog: Sarana menuju Papua tanah damai

Selanjutnya

Ada yang naik karena dolar naik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4817x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4207x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 3831x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3424x views
Polhukam |— Sabtu, 06 Oktober 2018 WP | 3297x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe