close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Ada yang naik karena dolar naik
  • Selasa, 25 September 2018 — 07:56
  • 803x views

Ada yang naik karena dolar naik

Setiap kenaikan dolar dari rupiah, produk yang berkaitan dengan impor selalu ikut naik. Bagaimana dengan produk yang dijual di Jayapura?
Pembuat tempe di Jayapura – Jubi/Sindung
Sindung Sukoco
Editor : Syofiardi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Sempat tembus di atas Rp 15.000 per satu dolar AS, namun kembali tertahan berada pada kisaran hampir Rp14.900. Terakhir, Minggu, 23 September 2018 satu dolar Rp 14.896.

Setiap kenaikan dolar biasanya berdampak kepada kenaikan barang-barang di pasaran, terutama barang yang berhubungan dengan impor atau dipasok dari luar negeri dan dibeli dengan dolar.

Bagaimana dengan kondisi harga sejumlah barang di Papua? Jubi menelusurinya di Jayapura.

Diro, kasir di Story-I Took produk Apple di Jayapura, mengakui kenaikan dolar biasanya berimbas kepada harga aksesiris gadget Apple. Namun ia mengaku belum mendapatkan keputusan terkait berapa kenaikan dan produk apa saja yang bakalan naik.

“Yang jelas I Phone X akan naik, namun secara keselurahan produk Apple akan naik, namun berapa kenaikan saya belum mendapatkan angka atau nilainya,” ujarnya.

Tempe biasanya naik mengikuti kenaikan dolar, karena bahan baku utama pembuatan tempe adalah kedelai. Setiap bulan Indonesia mengimpor kedelai lebih 240 ton yang sebagian besar dari Amerika Serikat yang sudah tentu dibeli dengan dolar.

Teddy, penjual tempe merek ‘Bandung’ di Jayapura, mengatakan akan menaikkan harga tempe yang dijualnya per potong Rp 500. Ini disesuaikan dengan harga kedelai impor yang ia beli setiap sak naik sekitar Rp 10 ribu.

Setiap Minggu hingga Kamis Teddy menggunakan tiga kwintal kedelai. Per kwintal adalah 100 kg atau sak dan harganya naik Rp 10 ribu.

“Memang tidak ada pilihan, daripada mengurangi ukuran lebih baik menaikan harga jual, tapi saya masih menunggu kesepakatan kenaikan harga tempe dengan pedagang lainnya,” ujarnya.

Tiap hari ia menjual tiap papan tempe merk Bandung dengan harga Rp 3.500. Saat ini ia masih memilih menanggung berkurangnya keuntungan sembari menunggu kesepakatan menaikan harga.

Sementara, Jabal, penjual telepon dan aksesris ponsel di Jayapura, mengaku belum ada kenaikan harga barang-barangnya karena juga tidak ada sinyal kenaikan dari pemasok Jakarta. Ia tetap menunggu.

“Malah saat ini cenderung turun, misalnya harga memory card dan ponsel merek Xiomi dan Samsung, penurunannya meski tak signifikan akan tetapi membuat kami rugi,” ujarnya.

Xiomi adalah produk Cina, sedangkan Samsung produk Korea Selatan.

Menurut Jabal kenaikan dolar tidak berpengaruh kepada harga ponsel dan aksesoris, karena saat ini sedang low season, musim menurunnya kebutuhan masyarakat.

“Saya pikir memang bukan karena kenaikan dolar, ini karena turunnya permintaan dari masyarakat, kebiasaanya adalah tiap bulan Oktober hingga Desember baru adanya kenaikan permintaan masyarakat, jadi memang turun karena kurangnya permintaan saja,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Joko Supratikto, mengemukakan sebenarnya kenaikan dolar tidak mempengaruhi perekonomian Papua secara signifikan.

“Karena tidak ada industri atau komponen impor,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak khawatir dengan melemahnya rupiah dibanding dolar. Sebab, katanya, Bank Indonesia selalu memantau dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Menurutnya ada beberapa faktor sederhana untuk mencegah melemahnya rupiah, misalnya mengurangi belanja terhadap barang impor dan memilih berbelanja bahan-bahan lokal.

“Itu akan sangat membantu menjaga nilai tukar rupiah kita atau mungkin bagi masyarakat yang memiliki dolar bisa secepatnya tukar ke rupiah dan jangan sering berlibur ke luar negeri, bukan kami melarang tetapi ini demi menjaga kestabilan nilai tukar rupiah,” katanya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Papua dan Papua Barat, Misran Pasaribu, juga minnta masyarakat untuk tidak panik terhadap naiknya dolar terhadap Papua.

Secara nasional, jelasnya, fundamental ekonomi Indonesia kuat. Depresiasi tukar rupiah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Turki dan Jepang, Swedia dan Rusia, juga paling rendah, yaitu 11 persen.

“Dilihat dari cadangan devisa kita juga sekarang 118 miliar dolar, peringkat utang pemerintah atau bisa dibilang kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia dinilai masih layak investasi,” ujarnya.

Kredit, katanya, juga tumbuh dibandingkan dengan 2017 pada triwulan kedua, yaitu tumbuh 11,17 persen dan NPL-nya dibawah 5 persen atau kredit tumbuh berkualitas 4,35 persen.

“Artinya masyarakat masih percaya dengan bank untuk menyimpan uangnya tetap tumbuh walaupun kecil tetap stabil, DPK-nya masih stabil dan tak terpengaruh dengan dolar,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Inilah komoditas penyumbang inflasi di Kota Jayapura

Selanjutnya

KAPP: Perbankan jangan hanya retorika

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4922x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4269x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2494x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2439x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe