close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lapago
  3. Onggur Weya “bongkar gunung” untuk buka isolasi kampung Kagi
  • Selasa, 25 September 2018 — 22:00
  • 558x views

Onggur Weya “bongkar gunung” untuk buka isolasi kampung Kagi

“Ini juga alasan kuat yang buat saya harus buka jalan. Setiap hari anak-anak kami harus jalan kaki subuh-subuh, tiga jam di jalan ke sekolah mereka di Kembu. Biar cuaca dingin, basah, tapi semangat belajar itu ada jadi saya terdorong,” kisahnya.
Sepenggal pemandangan kampung Kagi di distrik Telenggeme, kabupaten Tolikara, Papua. Dengan dana desa, keterisolasiannya kini sedang dibuka. - Jubi/Nay
Yuliana Lantipo
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SEJAK Tolikara dimekarkan 14 tahun lalu, Onggur Weya masih harus berjalan kaki menempuh sedikitnya 5 kilo meter ke Kembu—distrik tetangga. Jalanannya tidak rata seperti di Jakarta. Weya harus naik turun dua gunung atau habiskan sekitar dua jam untuk perjalanan.

Pejalanan naik turun gunung adalah satu-satunya pilihan untuk bisa terhubung ke dunia luar: baik untuk bersekolah, berobat, ke pasar ibu kota kabupaten, maupun urusan administrasi pemerintahan terkait kampung.

Ialah Kagi, nama kampung Weya, di mana dirinya kini menjadi kepala di kampung tersebut.

Pengalaman pahit yang harus ditanggung Weya belasan tahun lalu mendorongnya kini untuk membongkar dua gunung yang menyembunyikan kampungnya dari dunia luar.

“Tahun ini dana desa kita pakai untuk bongkar jalan. Kita mau buka tembus dari kampung ini (Kagi) ke distrik Kembu,” kata Weya kepada Jubi melalui pesan singkat, Selasa, 25 September 2018.

Kampung Kagi merupakan salah satu kampung di distrik Telenggeme, kabupaten Tolikara, provinsi Papua. Kampung ini tidak memiliki lapangan terbang perintis seperti kampung-kampung lain. Ia juga tak memiliki sungai yang dapat dijadikan jalur transportasi air. Begitu pula jalan darat untuk dilalui motor maupun mobil. 

“Kalau mau urusan pemerintah, ya saya harus jalan kaki. Masyarakat juga, kalau mau ke pasar untuk jualan atau beli barang-barang, semua harus jalan kaki ke distrik Kembu. Di Kembu bisa beli barang, atau naik ojek ke Karubaga (ibu kota Tolikara),” jelasnya. 

Dari distrik Kembu ke Karubaga, jika menggunakan ojek motor dikenakan tarif Rp500 ribu per orang, dan Rp300 ribu per orang jika menggunakan taxi (mobil angkutan umum).

Sulitnya akses transportasi tersebut perlahan agaknya akan berubah. Program Dana Desa seolah hadir menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat Kagi.

Pembongkaran jalan menjadi agenda prioritas Onggur Weya dalam program kerja tahun ini. Dana senilai Rp400 juta telah dialokasikan untuk pekerjaan pembongkaran jalan dari Kagi ke distrik Kembu. 

“Dana 400 juta ini hanya untuk bayar alat-alat berat bongkar jalan, beli bahan bakar, dan keperluan lain, untuk 2 kilo 550 meter yang sedang kerja sekarang. Kalau biaya kerja tukangnya nanti kita bayar kalau dana tahap kedua turun,” jelas Weya. 

Total panjangnya jalan yang akan dikerjakan sekitar 5 kilo 550. Pekerjaan tersisa sekitar 3 kilo.

“Sisanya ini yang kami minta bantu dari pemerintah daerah atau pemerintah provinsi. Kami sangat perlu dukungan untuk buka jalan tembus supaya mobil bisa masuk sampai di kampung ini,” pintanya.

Meski pengerjaannya belum tuntas, manfaatnya sudah dirasakan masyarakat kampung. Seperi pelayanan gerejawi ke rumah-rumah penduduk dan anak-anak sekolah. 

Kalau sebelumnya anak-anak sekolah harus berjalan kaki hingga tiga jam untuk ke sekolahnya di Kembu, Sekolah Papua Harapan, saat ini waktu tempuhnya menjadi lebih cepat.  

“Ini juga alasan kuat yang buat saya harus buka jalan. Setiap hari anak-anak kami harus jalan kaki subuh-subuh, tiga jam di jalan ke sekolah mereka di Kembu. Biar cuaca dingin, basah, tapi semangat belajar itu ada jadi saya terdorong,” kisahnya. 

Onggur Weya, si kepala kampung Kagi, berharap, tahun depan bisa melihat anak-anak sekolah dan masyakakatnya menggunakan mobil dan motor untuk pergi ke sekolah maupun ke pasar.

“Jadi, kalau sudah ada mobil, jualan hasil kebun itu bisa taru di mobil dan mama-mama duduk tenang di dalam mobil. Anak-anak sekolah juga tidak basah karena embun pagi setiap hari.”

Semoga mimpi ini terwujud tahun 2019. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Insentif tak dicairkan, Kantor Dinas Kesehatan Yahukimo diblokir

Selanjutnya

Buntut mosi tidak percaya warga, aktivitas pemerintahan di Pegunungan Bintang lumpuh 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4949x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4335x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4080x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2536x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2482x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe