Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Otonomi
  3. Pemprov Papua minta petani kedelai tak cepat puas
  • Minggu, 27 November 2016 — 15:52
  • 443x views

Pemprov Papua minta petani kedelai tak cepat puas

"Sejauh ini petani belum punya strategi tentang memproduksi kedelai. Mereka sekali produksi saja, setelah itu punya waktu lama beristirahat, beda dengan petani di jawa, selalu produksi secara berkelanjutan," kata Semuel kepada wartawan, di Jayapura, Minggu (27/11/2016).
Ilustrasi pengolahan kedelai - tempo.co
Alexander Loen
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:39 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura meminta para petani kedelai di wilayahnya untuk tidak cepat puas akan hasil panen, tetapi berfikir bagaimana strategi meningkatkan produksi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua, Semuel Siriwa mengatakan untuk mengubah pola pikir petani kedelai di wilayahnya, pihaknya sudah melakukan pendampingan secara berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk mendorong produksi tanaman kedelai.

"Sejauh ini petani belum punya strategi tentang memproduksi kedelai. Mereka sekali produksi saja, setelah itu punya waktu lama beristirahat, beda dengan petani di jawa, selalu produksi secara berkelanjutan," kata Semuel kepada wartawan, di Jayapura, Minggu (27/11/2016).

Akibat dari itu, ujar Semuel, para pengusaha tahu dan tempe yang ada di kota Jayapura dan sekitarnya terpaksa harus mendatangkan bahan baku kedelai dari Jawa Timur. Hal ini dikarenakan sulitnya mendapat bahan baku lokal.

"Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama. Penyebabnya, karena petani tidak mampu menyiapkan bahan baku kedelai secara berkelanjutan," ucapnya.

Menurutnya, sebenarnya secara kualitas kedelai lokal tidak jauh beda dengan dari luar Papua. Dari segi harganyapun Rp8 ribu per kilo. Namun yang menjadi soal petani kadang over produksi tapi kadang juga kosong.

"Untuk itu, kami terus mendorong agar petani bisa melihat peluang ini dengan mengubah pola strategi produksi kedelai, dengan harapan kdepan mampu memenuhi kebutuhan para pengusaha tahu tempe," katanya.

"Coba lihat di Keerom, potensi sangat besar namun mereka tidak secara berkelanjutan. Selama ini kami bantu benih, juga pupuk dan ini sudah terprogram setiap tahun. Seperti beberapa waktu lalu kami pernah tanam perdana di nimbokran," tambahnya.

Secara terpisah, Asisten Bidang Perekonomian dan Kesejahteraaan Rakyat Sekda Papua Elia Loupatty menilai, tanah di Papua sangat cocok untuk ditanami tanaman palawija.

"Di Papua masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan, untuk itu sangat baik jika ditanami tanaman palawija, pasti hasilnya luar biasa," kata Elia. (*)
loading...

Sebelumnya

Bupati dan Wali kota diminta lanjutkan kontrak guru

Selanjutnya

ULP mampu cegah KKN

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6299x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 3122x views
Otonomi |— Selasa, 13 Februari 2018 WP | 2673x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2280x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe